Kenapa Orang Lebih Berani Curhat di Media Sosial daripada ke Teman Sendiri?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Reva Ardina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa Orang Lebih Berani Curhat di Media Sosial daripada ke Teman Sendiri?
Pernah melihat seseorang yang jarang bercerita tiba-tiba mengunggah tulisan panjang di Instagram Story? Atau teman yang biasanya santai mendadak membuat unggahan tentang masalah hubungan, pekerjaan, keluarga, atau hal yang sedang mengganggu pikirannya? Menariknya, orang yang sama belum tentu mau menceritakan hal tersebut ketika bertemu langsung dengan teman dekat.
Di sinilah media sosial menjadi tempat yang cukup unik untuk bercerita. Seseorang bisa menulis apa yang sedang dirasakan tanpa harus langsung berhadapan dengan ekspresi orang lain. Tidak ada tatapan yang membuat canggung, tidak ada jeda hening setelah bercerita, dan tidak ada keharusan untuk langsung menjawab pertanyaan seperti, “Memangnya kenapa?”
Ada Jarak yang Membuat Orang Lebih Nyaman
Ketika curhat secara langsung, kita tidak hanya memikirkan apa yang ingin disampaikan, tetapi juga bagaimana lawan bicara akan merespons. Takut dianggap berlebihan, takut dinilai, atau khawatir cerita kita justru menjadi bahan pembicaraan orang lain bisa membuat seseorang memilih diam. Bahkan kepada teman yang sebenarnya sudah dipercaya.
Media sosial menawarkan jarak. Kita bisa mengetik, membaca ulang, menghapus, lalu menulis kembali sebelum akhirnya menekan tombol unggah. Jarak kecil ini ternyata bisa membuat seseorang merasa memiliki kendali lebih besar atas ceritanya sendiri.
Ada pula pilihan untuk membatasi siapa yang dapat melihat unggahan. Fitur Close Friends, akun privat, atau bahkan akun anonim membuat orang bisa menentukan sendiri seberapa jauh cerita tersebut ingin dibagikan. Jadi, curhat di media sosial tidak selalu berarti ingin diketahui banyak orang. Kadang justru sebaliknya, seseorang hanya ingin didengar oleh orang-orang tertentu.
Curhat Tidak Selalu Berarti Mencari Solusi
Ada anggapan bahwa ketika seseorang bercerita, ia sedang meminta nasihat. Padahal, tidak semua orang yang curhat membutuhkan solusi. Ada kalanya mereka hanya ingin mengeluarkan sesuatu yang sudah terlalu lama disimpan di kepala.
Media sosial menyediakan ruang untuk itu. Seseorang dapat menulis tentang harinya yang buruk, rasa kecewa, pengalaman yang membuat kesal, atau sekadar mengeluhkan hal kecil. Setelah tulisan itu diunggah, respons bisa datang dalam berbagai bentuk: balasan Story, komentar, pesan pribadi, atau bahkan hanya emoji dari seseorang yang merasa relate.
Respons sederhana seperti “gue juga pernah ngalamin” mungkin tidak menyelesaikan masalah. Namun, bagi orang yang sedang merasa sendirian dengan masalahnya, kalimat tersebut bisa memberikan perasaan bahwa pengalaman yang dialaminya tidak sepenuhnya asing bagi orang lain.
Justru Teman Dekat Kadang Terasa Lebih Sulit
Semakin dekat hubungan seseorang dengan kita, terkadang semakin besar pula rasa takut untuk mengecewakannya. Ada orang yang tidak mau terlihat lemah di depan sahabatnya. Ada juga yang khawatir ceritanya akan mengubah cara teman memandang dirinya.
Situasi seperti ini membuat media sosial terasa lebih ringan. Di sana, seseorang bisa memperlihatkan satu sisi dirinya tanpa harus membuka seluruh cerita. Ia dapat memilih kata-kata yang ingin dibagikan dan menyimpan bagian yang belum siap diceritakan.
Menariknya, orang yang membaca unggahan tersebut juga tidak selalu tahu cerita lengkapnya. Mereka hanya melihat potongan yang memang ingin ditampilkan. Bagi sebagian orang, kontrol seperti ini justru membuat proses bercerita terasa lebih nyaman.
Ada Kepuasan Saat Tahu Orang Lain Mengerti
Media sosial juga membuat pengalaman pribadi terasa lebih mudah menemukan orang yang memiliki cerita serupa. Seseorang yang merasa tidak dipahami oleh lingkungan terdekatnya mungkin justru menemukan banyak orang yang memiliki pengalaman sama melalui unggahan atau komunitas tertentu.
Misalnya, seseorang sedang menghadapi masalah dalam pekerjaan. Ia mungkin merasa teman-temannya tidak akan memahami karena memiliki pekerjaan yang berbeda. Ketika menuliskan pengalamannya di media sosial, ternyata ada orang lain yang membalas dengan cerita serupa. Percakapan pun muncul dari pengalaman yang awalnya hanya dibagikan lewat satu unggahan.
Di titik ini, media sosial bukan hanya menjadi tempat untuk berbicara, tetapi juga tempat menemukan orang yang memiliki pengalaman yang sama. Hubungan yang terbentuk mungkin tidak sedekat pertemanan di dunia nyata, tetapi rasa “gue tidak sendirian” tetap bisa muncul dari interaksi tersebut.
Tapi Ada Harga yang Harus Dibayar
Kenyamanan bercerita di media sosial bukan berarti selalu aman. Sekali sebuah cerita dibagikan, kita tidak sepenuhnya bisa mengendalikan bagaimana orang lain menanggapinya. Cerita yang menurut kita pribadi bisa saja di-screenshot, diteruskan, atau dipahami secara berbeda oleh orang lain.
Belum lagi ketika respons yang datang justru tidak sesuai harapan. Alih-alih mendapat dukungan, seseorang bisa menerima komentar yang menghakimi atau saran yang tidak diminta. Karena itu, keberanian untuk curhat di media sosial tetap perlu dibarengi dengan pertimbangan mengenai batas privasi.
Mungkin yang membuat media sosial terasa lebih mudah bukan karena orang-orang sudah tidak membutuhkan teman. Mereka tetap membutuhkan hubungan yang nyata, percakapan langsung, dan orang yang benar-benar mengenal mereka. Hanya saja, media sosial memberikan cara lain untuk mengeluarkan sesuatu yang terkadang sulit diucapkan secara langsung.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki cara berbeda untuk bercerita. Ada yang baru bisa terbuka setelah bertemu langsung, ada yang lebih nyaman melalui chat, dan ada pula yang memilih menulis di media sosial. Yang berubah bukan kebutuhan manusia untuk didengar, melainkan cara manusia menemukan ruang yang terasa cukup nyaman untuk mulai berbicara.
Mungkin itu sebabnya seseorang bisa begitu mudah menulis panjang di Story, tetapi ketika ditanya langsung oleh temannya, jawabannya hanya, “Nggak apa-apa, kok.”
Bukan karena tidak punya cerita. Bisa jadi, ia hanya belum menemukan cara yang nyaman untuk menceritakannya.
