Angka Bohong, Fakta Ditolak adalah Penilaian Tolol untuk Orang-Orang Tolol

Saya Ardinos Aritonang, saya mahasiswa di Universitas Katolik Santo Thomas
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Ardinos Aritonang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia pendidikan hari ini semakin akrab dengan satu kebiasaan malas yang dibungkus rapi dengan istilah objektivitas, yaitu menilai manusia dengan angka tanpa logika dan tanpa fakta. Penilaian semacam ini tidak lahir dari proses berpikir yang matang, melainkan dari cara pandang tolol yang menganggap segala sesuatu cukup disederhanakan menjadi skor. Ketika angka berdiri sendiri dan fakta ditolak, maka penilaian tidak lagi menjadi alat pendidikan, melainkan alat pembenaran bagi kemalasan berpikir.
Seorang pelajar belajar bukan hanya untuk mendapatkan angka, tetapi untuk memahami. Proses belajar seharusnya melibatkan usaha, konsistensi, kejujuran, dan kemampuan berpikir. Namun semua itu sering kali tidak memiliki nilai apa pun di hadapan penilaian yang hanya percaya pada hasil instan. Angka yang tidak mencerminkan proses dipaksakan menjadi kebenaran. Fakta usaha diabaikan. Logika dikorbankan. Inilah bentuk penilaian tolol yang dilegalkan oleh sistem.
Penilai seharusnya menjadi pendidik, bukan sekadar pengajar. Mengajar berarti menyampaikan materi. Mendidik berarti membentuk cara berpikir dan sikap. Ketika seorang penilai hanya mengajar tanpa mendidik, maka yang dihasilkan bukan pembelajar, melainkan penghafal. Lebih buruk lagi, penilaian yang dilakukan tanpa nalar justru mengajarkan satu hal berbahaya, yaitu bahwa berpikir tidak penting selama angka bisa disesuaikan.
Penilaian tolol tidak pernah berdiri di atas logika. Ia berdiri di atas kemudahan. Angka lebih mudah diatur daripada memahami manusia. Tabel nilai lebih sederhana daripada dialog. Sistem instan lebih nyaman daripada refleksi. Karena itu, fakta sering kali ditolak bukan karena salah, tetapi karena merepotkan. Fakta menuntut penilai untuk berpikir, dan berpikir adalah hal yang paling dihindari oleh pemikiran tolol.
Dampaknya sangat nyata bagi pelajar yang benar benar belajar dengan sungguh sungguh. Mereka yang membaca lebih dalam, bertanya lebih kritis, dan mencoba memahami secara utuh justru sering dirugikan. Sementara mereka yang bersikap munafik, hanya mengejar angka, dan menyesuaikan diri dengan selera penilai malah diuntungkan. Bukan karena lebih pintar, tetapi karena sistem penilaian memang berpihak pada kepalsuan. Ketika kejujuran kalah oleh kemunafikan, maka yang bermasalah bukan pelajarnya, tetapi penilaiannya.
Penilai dengan pemikiran tolol sering merasa paling benar karena berlindung di balik sistem. Angka dijadikan tameng. Ketika dikritik, jawabannya selalu prosedur. Ketika dipertanyakan, alasannya selalu aturan. Padahal yang terjadi bukanlah kepatuhan terhadap aturan, melainkan ketidakmampuan untuk menggunakan akal sehat. Sistem dijadikan alasan untuk tidak berpikir, dan itu adalah bentuk kemunafikan intelektual.
Penilaian yang tidak sejalan dengan logika dan fakta bukan sekadar kesalahan teknis. Itu adalah kegagalan moral dalam pendidikan. Penilaian semacam ini mengajarkan bahwa usaha tidak penting, pemahaman tidak dihargai, dan kejujuran tidak selalu membawa hasil. Yang penting adalah menyesuaikan diri, berpura pura, dan mengambil jalan pintas. Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter justru melatih kepalsuan.
Pelajar tidak menuntut keistimewaan. Yang dituntut hanyalah keadilan yang masuk akal. Penilaian yang bisa dijelaskan secara logis. Penilaian yang menghargai proses. Penilaian yang melihat manusia sebagai subjek berpikir, bukan objek hitungan. Ketika semua tuntutan dasar ini dianggap berlebihan, maka jelas terlihat bahwa masalahnya bukan pada pelajar, melainkan pada cara berpikir penilai yang memang sudah terlalu tolol untuk diajak berdiskusi.
Penilai yang mendidik tidak takut pada pertanyaan. Ia tidak alergi terhadap kritik. Ia mampu menjelaskan alasan di balik nilai. Ia sadar bahwa angka hanyalah alat, bukan tujuan. Sebaliknya, penilai tolol sangat bergantung pada angka karena angka tidak pernah membantah. Angka tidak pernah bertanya. Angka tidak pernah menuntut penjelasan. Dengan bersembunyi di balik angka, penilai tolol merasa aman dari tanggung jawab intelektual.
Jika pendidikan terus mempertahankan penilaian yang menolak fakta dan membunuh logika, maka jangan heran jika yang lahir bukan generasi pemikir, melainkan generasi penyesuai. Bukan generasi yang jujur, tetapi generasi yang pandai berpura pura. Ini bukan kegagalan kecil. Ini adalah kegagalan besar yang sedang dinormalisasi.
Angka bisa dimanipulasi. Fakta bisa diabaikan. Tetapi penilaian tolol tidak boleh terus dianggap wajar. Selama pendidikan masih bangga pada sistem yang mematikan akal sehat, maka kritik keras bukanlah sikap berlebihan, melainkan bentuk kepedulian terakhir dari pelajar yang masih percaya bahwa belajar seharusnya bermakna.
Penulis dari Universitas Katolik Santo Thomas, Medan. Fakultas Ilmu Komputer.
