Antara Rencana dan Ketidakpastian: Benarkah Kita Mengendalikan Masa Depan?

Saya Ardinos Aritonang, saya mahasiswa di Universitas Katolik Santo Thomas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ardinos Aritonang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak kecil, kita sering diajarkan bahwa masa depan harus dipersiapkan. Belajar dengan sungguh-sungguh, disiplin terhadap waktu, membuat target, bekerja keras, lalu berharap semuanya akan berujung pada kehidupan yang baik.
Nasihat tersebut terdengar masuk akal. Namun, semakin dewasa, muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab: benarkah masa depan dapat dikendalikan hanya dengan rencana dan kerja keras?
Saya sendiri termasuk orang yang terbiasa hidup teratur. Waktu harus diatur, pekerjaan direncanakan, dan target harus dikejar dengan disiplin. Saya percaya bahwa keseriusan hari ini akan menentukan kehidupan esok.
Namun, kenyataan terkadang menunjukkan hal yang berbeda. Ada orang yang hidup lebih santai, tidak terlalu sibuk merencanakan masa depan, bahkan memiliki masa lalu yang penuh kesalahan, tetapi pada akhirnya justru berhasil.
Sebaliknya, tidak sedikit orang yang telah berjuang dengan disiplin dan sungguh-sungguh, tetapi hasil yang diharapkan belum juga datang.
Dari sini muncul anggapan bahwa “nakal dulu, baru sukses." Menurut saya, ungkapan tersebut tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya tanpa dasar. Bukan karena kenakalan membawa seseorang menuju kesuksesan, melainkan karena kehidupan tidak berjalan seperti rumus matematika.
Tidak ada jaminan bahwa disiplin akan selalu menghasilkan kesuksesan dengan cepat, sebagaimana tidak ada jaminan bahwa hidup santai akan berakhir dengan kegagalan. Banyak faktor lain yang bekerja: kesempatan, lingkungan, keberanian mengambil risiko, kemampuan beradaptasi, relasi, bahkan keberuntungan.
Masalahnya, kita sering menganggap rencana sebagai kendali. Kita membuat daftar tentang apa yang harus dicapai: pendidikan, pekerjaan, karier, hingga kehidupan yang dianggap ideal. Tanpa sadar, kita bukan lagi menggunakan rencana sebagai alat, tetapi menjadikannya sebagai jalan yang harus selalu diikuti.
Ketika kehidupan berjalan berbeda, kita merasa gagal. Padahal, ketidakpastian bukanlah kesalahan dalam hidup; ketidakpastian memang merupakan bagian dari hidup.
Karena itu, solusinya bukan memilih antara menjadi sangat disiplin atau hidup tanpa aturan. Kita membutuhkan keduanya dalam porsi yang tepat. Disiplin diperlukan agar kita memiliki arah dan kemampuan.
Namun, fleksibilitas diperlukan agar kita mampu menerima perubahan. Rencana seharusnya menjadi kompas, bukan rel yang memaksa kita berjalan hanya pada satu jalur.
Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak pernah benar-benar mengendalikan masa depan. Kita hanya dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang datang. Kerja keras tidak memberikan jaminan kesuksesan, tetapi meningkatkan kemampuan kita ketika kesempatan datang.
Begitu pula hidup santai bukan jaminan kebahagiaan. Yang penting bukan seberapa sempurna kita merencanakan masa depan, melainkan seberapa siap kita menghadapi kenyataan ketika masa depan ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
Masa depan bukan sesuatu yang sepenuhnya dapat kita kendalikan. Ia adalah sesuatu yang kita hadapi, kita bentuk, dan terkadang harus kita terima ketika arahnya berbeda dari yang kita bayangkan.
