Konten dari Pengguna

Uang Hilang di Dunia Digital: Mengapa Keamanan Siber Bank Masih Rentan

Ardissasi Kirana
Pegawai of PT. Erajaya Group - FKIP UNPAM.
6 November 2025 17:06 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Uang Hilang di Dunia Digital: Mengapa Keamanan Siber Bank Masih Rentan
Di tengah pesatnya digitalisasi layanan keuangan, kejahatan siber di sektor perbankan justru meningkat. Banyak nasabah kehilangan uang akibat serangan digital, phishing, hingga kebocoran data.
Ardissasi Kirana
Tulisan dari Ardissasi Kirana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Freepik
ADVERTISEMENT
Beberapa tahun terakhir, jagat maya di Indonesia kerap dihebohkan oleh keluhan nasabah bank yang uangnya tiba-tiba raib tanpa jejak. Ada yang mengaku tidak pernah membagikan data pribadinya, tetapi saldo di rekening tiba-tiba menghilang. Ada pula yang terjebak dalam tautan palsu, hingga data perbankan mereka diambil alih pihak tak bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT
Fenomena ini menjadi cermin betapa ancaman keamanan siber di sektor perbankan semakin nyata. Di tengah percepatan digitalisasi layanan keuangan mulai dari mobile banking hingga internet banking kerentanan sistem keamanan menjadi celah empuk bagi pelaku kejahatan digital. Ironisnya, di saat bank berlomba menjadi semakin canggih, para penjahat siber juga ikut berevolusi lebih cepat.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peningkatan signifikan dalam laporan kejahatan siber di sektor perbankan sepanjang dua tahun terakhir. Bentuknya beragam mulai dari phishing, smishing (penipuan lewat SMS), social engineering, hingga pengambilalihan akun (account takeover).
Pelaku tidak lagi hanya mengincar nasabah dengan modus klasik, tetapi memanfaatkan teknologi canggih seperti deepfake voice dan AI-generated messages untuk meniru suara petugas bank atau membuat situs tiruan yang sulit dibedakan dari aslinya. Kasus-kasus seperti ini menimbulkan keresahan publik. Kepercayaan terhadap bank yang seharusnya menjadi simbol keamanan finansial perlahan mulai goyah.
ADVERTISEMENT
Meskipun bank-bank besar telah mengklaim memiliki sistem keamanan berlapis, realitasnya masih banyak celah teknis dan manusiawi.
Beberapa permasalahan utama meliputi:
Transformasi digital seharusnya bukan sekadar meluncurkan aplikasi, tetapi juga memperkuat cyber resilience kemampuan sistem untuk bertahan dan pulih dari serangan siber.
Tidak semua kesalahan ada di sisi bank. Sebagian besar kasus justru bermula dari kelengahan nasabah sendiri. Klik tautan yang salah, memberikan OTP kepada orang lain, atau menggunakan kata sandi yang mudah ditebak masih sering terjadi.
ADVERTISEMENT
Di sinilah pentingnya literasi digital. Bank harus lebih agresif melakukan edukasi publik bukan sekadar kampanye formal, tapi komunikasi yang mudah dipahami dan relevan dengan kebiasaan digital masyarakat. Contohnya: membuat konten edukatif di media sosial, simulasi interaktif tentang modus penipuan, hingga sistem peringatan real-time di aplikasi perbankan.
Keamanan siber bukan hanya urusan bank atau nasabah, tetapi tanggung jawab bersama antara lembaga keuangan, regulator, dan masyarakat digital. OJK dan Bank Indonesia kini mendorong peningkatan standar keamanan perbankan melalui regulasi Digital Financial Innovation dan audit keamanan berkala.
Namun, regulasi tanpa implementasi konkret tidak akan cukup. Bank perlu membangun budaya keamanan digital di seluruh lapisan organisasi dari direksi hingga teller karena satu kesalahan kecil bisa berujung pada kehilangan besar.
ADVERTISEMENT
Dunia keuangan sedang bergerak menuju era serba digital, namun ancaman di baliknya juga kian kompleks. Keamanan siber kini bukan lagi pilihan tambahan, melainkan fondasi kepercayaan. Ketika uang dapat berpindah hanya dengan satu klik, maka perlindungan digital harus sekuat tembok perbankan yang dulu berdiri kokoh secara fisik.
Bank, regulator, dan masyarakat perlu berjalan beriringan membangun kesadaran baru: bahwa keamanan bukan hanya urusan sistem, tetapi juga perilaku. Hanya dengan itu, industri keuangan digital Indonesia bisa tumbuh tanpa kehilangan hal terpenting kepercayaan.