Konten dari Pengguna

Neuroscience: Matematika Tidak Sesulit yang Kita Bayangkan

Ardiyani Sekarningrum
Member of Muhammadiyah Student Association Junior Researcher at Surabaya Academia Forum
26 November 2025 0:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Ardiyani Sekarningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Matematika. Foto: Rawpixel.com/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Matematika. Foto: Rawpixel.com/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Kalimat ”Matematika pelajaran menakutkan”, ”Matematika penuh dengan rumus”, ”Matematika hanya bisa dikuasai oleh anak jenius” tidak asing dan melekat pada sebagian besar orang. Padahal, penelitian terbaru dalam neuroscience justru menunjukkan sebaliknya.
ADVERTISEMENT
Manusia memiliki kemampuan bawaan untuk memproses angka. Bahkan ketika bayi sudah dapat membedakan jumlah atau besaran, yang menunjukkan bahwa kapasitas memahami informasi numerik telah ada jauh sebelum mereka menerima pembelajaran formal. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, otak kita terus memproses konsep Matematika tanpa kita sadari.
Mulai dari mengira-ngira jumlah barang belanjaan di keranjang, memperkirakan waktu tempuh, hingga menentukan arah ketika berjalan. Hal ini ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki potensi matematis. Neuroscience memberikan kunci penting untuk memahami dan memperbaiki cara kita belajar Matematika.

Bagaimana Otak Mengolah Angka dan Mengapa Kita Takut Matematika?

Intraparietal Sulcus (IPS) di lobus parietal adalah bagian otak yang berperan penting dalam memproses besaran kuantitas (number sense), memahami hubungan antarangka, dan mendukung kemampuan berpikir logis. Menariknya, kemampuan dasar ini sudah muncul sejak bayi.
ADVERTISEMENT
Mereka dapat membedakan mana kelompok benda yang jumlahnya lebih banyak. Kemampuan bawaan ini disebut core number system dan menjadi fondasi bagi seluruh pembelajaran Matematika selanjutnya.
Misalnya, saat kita mulai belajar angka, operasi hitung, atau simbol-simbol Matematika, otak menghubungkan konsep abstrak tersebut dengan pola yang sudah dikenali sebelumnya. Latihan yang berulang memperkuat hubungan jaringan saraf sehingga Matematika terasa semakin mudah dipahami.
Concept of neuroscience sumber: shutterstock.com
Namun, meskipun otak memiliki kapasitas alami untuk memahami angka, banyak siswa tetap merasa takut pada Matematika. Neuroscience menunjukkan bahwa mathematics anxiety mengaktifkan amygdala, pusat pengatur rasa takut dan stres, sehingga menurunkan fokus dan kemampuan berpikir logis.
Rasa takut ini biasanya bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan pengalaman belajar yang negatif, metode mengajar yang kaku, lingkungan yang membuat siswa takut salah, pengalaman gagal yang tidak diperbaiki dengan dukungan positif, dan stereotip bahwa Matematika hanya untuk “anak jenius.” Sebaliknya, jika tekanan emosional dikurangi, otak dapat kembali memproses Matematika secara optimal, dan kemampuan siswa meningkat secara signifikan.
ADVERTISEMENT

Belajar Matematika Sesuai Cara Kerja Otak

Temuan neuroscience tidak hanya menjelaskan bagaimana otak mengolah angka, tetapi juga memberikan panduan untuk membuat pembelajaran Matematika menjadi lebih efektif. Salah satu prinsip utamanya adalah bahwa otak belajar dengan cara menghubungkan informasi baru dengan pengalaman konkret.
Karena itu, pendekatan pembelajaran yang langsung memberikan rumus atau prosedur tanpa belpemahaman konsep membuat sebagian siswa kesulitan membangun makna. Pembelajaran Matematika dapat dilakukan dengan cara berikut:

1. Dari Konkret ke Abstrak

Otak bekerja lebih baik ketika informasi disajikan mulai dari hal konkret menuju abstrak. Penggunaan benda nyata, gambar, garis bilangan, atau model visual membantu otak membangun representasi mental yang kuat. Setelah konsepnya dipahami, barulah rumus atau simbol diperkenalkan. Pendekatan ini terbukti lebih ramah otak dan meningkatkan pemahaman jangka panjang.
ADVERTISEMENT

2. Latihan Berulang Memperkuat Jaringan Saraf

Latihan bukan hanya soal pengulangan mekanis, tetapi cara otak memperkuat jalur neural. Semakin sering sebuah konsep digunakan, semakin cepat dan otomatis otak memprosesnya. Inilah alasan mengapa siswa yang rutin berlatih tanpa tekanan berlebihan memiliki kemampuan Matematika yang lebih stabil. Latihan yang terstruktur, bertahap, dan relevan membuat otak terbiasa mengolah pola dan angka dengan lebih efisien.

3. Menghubungkan Matematika dengan Kehidupan Nyata

Otak manusia menyukai konteks yang bermakna. Ketika Matematika disajikan dalam situasi nyata, seperti mengatur anggaran, mengukur bahan masakan, atau menganalisis data sederhana sehingga otak lebih mudah memahami tujuan dan manfaatnya. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan kognitif, tetapi juga motivasi, karena Matematika tidak lagi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Peran Teknologi dan AI dalam Masa Depan Pendidikan Matematika

Perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), kini menjadi jembatan penting antara neuroscience dan pendidikan Matematika. Banyak platform pembelajaran adaptif mampu menyesuaikan tingkat kesulitan, gaya belajar, dan kebutuhan masing-masing siswa.
ADVERTISEMENT
Sistem ini bekerja dengan prinsip yang mirip dengan cara otak belajar: memberikan latihan sesuai kemampuan, mengulang konsep yang belum dikuasai, memberi umpan balik langsung, dan menyajikan visualisasi interaktif.
Teknologi seperti AI dan Virtual Reality (VR) juga mampu menurunkan kecemasan Matematika karena siswa dapat belajar tanpa takut salah, bebas bereksperimen, dan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan. Pendekatan ini selaras dengan temuan neuroscience bahwa emosi positif memperkuat proses pembelajaran.
Dengan cara memahami bagaimana otak memproses Matematika, guru dan orang tua dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih manusiawi, efektif, dan memberdayakan. Matematika tidak perlu menjadi sumber kecemasan; justru dapat menjadi sarana melatih logika, kreativitas, dan ketekunan.
Masa depan pendidikan Matematika terletak pada integrasi antara neuroscience, lingkungan belajar yang mendukung, dan pemanfaatan teknologi yang tepat. Neuroscience menunjukkan bahwa setiap orang memiliki potensi matematis, dan dengan pendekatan yang sesuai cara kerja otak, Matematika dapat dipelajari dengan lebih mudah dan menyenangkan.
ADVERTISEMENT
Belajar Matematika bukanlah tentang membuat siswa menghafal lebih banyak rumus, tetapi membantu mereka memahami, merasakan, dan menggunakan Matematika sebagai bagian alami dari kehidupan.