Politik
·
21 Januari 2017 11:34

Saya Bersyukur Muncul Perdebatan Seputar Film 'Istirahatlah Kata-Kata'

Konten ini diproduksi oleh Ardyan M Erlangga
Saya Bersyukur Muncul Perdebatan Seputar Film 'Istirahatlah Kata-Kata' (212383)
searchPerbesar
Ilustrasi debat (Foto: Steemit)
Saya ingin berterima kasih, sebesar-besarnya, kepada semua orang yang memperdebatkan film “Istirahatlah Kata-Kata”. Haish, kok ada yang ketawa. Serius ini.
ADVERTISEMENT
Maksudnya begini. Perdebatan menyoal biopik sosok sepenting Wiji Thukul mewarnai linimasa sosmed tiga hari terakhir. Bagi saya, perang wacana ini menyegarkan. Ya menyegarkan bagi yang tidak baper akibat panasnya debat.
Ya sudah deh, menyegarkan setidaknya buat saya sendiri yang merasa bisa belajar banyak dari argumen setiap pihak, baik pro maupun kontra.
Adu wacana dua pihak berlawanan ini terjadi, suka tidak suka, berkat momentum yang pas. Momentum itu muncul tentu imbas penayangan film biopik Pak Thukul di tiga jaringan bioskop besar sejak 19 Januari lalu.
Minimal tim produser, juga sutradara Yosep Anggi Noen bersama kru, sudah menuai amal jariyah atas kerja keras menayangkan karya mereka untuk khalayak luas.
ADVERTISEMENT
Walau memang patut disayangkan, keramaian ini baru dipicu pemutaran di kota-kota besar. Banyak kawan mengeluh bioskop kotanya tidak memutar ‘Istirahatlah Kata-Kata’, misalnya di Palu atau Malang.
Artinya, permintaan untuk pemutaran susulan sudah ada. Mungkin bisa difasilitasi tanpa harus melewati jaringan bioskop besar. Mungkin lho ya. Jadi gugatan sebagian netizen soal tempat/medium pemutaran, atau tuntutan adanya eksibisi biopik Pak Thukul yang lebih menjangkau semua kelas sosial, bisa terwadahi.
Alasan lain saya berterima kasih pada semua pihak yang berdebat, tentu saja karena pro-kontra tiga hari belakangan bakal melahirkan penonton ataupun pembaca baru karya-karya Pak Thukul.
Peminat film, penonton awam, pengguna sosmed, hingga siapapun yang kurang/tidak mengenal sosok Wiji Thukul pastinya tergerak mencari tahu lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
Spekulasi ini saya pikir tidak terlalu mengada-ada. Saya membayangkan perdebatan di sosmed menyoal ‘Istirahatlah Kata-Kata’ seharusnya bisa menggaet 300 orang (ini angka ilham saja, mohon jangan didebat) yang belum mengenal kiprah sang penyair besar asal Solo itu. Siapa tahu, awalnya mereka penasaran lebih karena risih.
“Apaan sih ini di Fb/twitter/instagram pada ribut-ribut soal Wiji Thukul melulu.”
Perlahan kemudian, mereka tertarik menonton langsung (kalau filmnya belum turun dari bioskop). Kalaupun belum berkesempatan nonton, ya mungkin ada ratusan orang segera memburu buku-buku beliau atau membaca laporan-laporan media/esai tentang beliau.
Semakin banyak orang yang memahami, syukur-syukur meneladani kiprah Pak Thukul di medan sastra maupun aktivisme sosial, kan baik belaka untuk bangsa ini.
ADVERTISEMENT
Saya pun berterima kasih atas munculnya perdebatan film biopik Pak Thukul, karena mendorong (lagi) munculnya argumen yang patut dikaji serius oleh peneliti maupun pemerhati sastra di Tanah Air. Yakni tuntutan agar puisi-puisi Pak Thukul diulas serius dari segi tekstual dan teoretis.

Jangan melulu melabeli karya beliau sekadar ‘puisi protes’ atau ‘puisi pamflet’.

-

Istilah-istilah tadi menempatkan rekam jejak puisi Pak Thukul seakan-seakan berharga hanya karena konteks aktivisme beliau.
Kalau Pak Thukul tak pernah jadi pendamping gerakan buruh atau diburu kaki tangan rezim Orde Baru, apakah puisi beliau punya tempat istimewa dalam ‘kanon’ sastra kita?
Kalaupun puisinya dianggap penting, apakah kurikulum pendidikan sastra kita memberi ruang perkenalan yang layak bagi puisi-puisi beliau kepada para pelajar, setidaknya setingkat SMP/SMA?
ADVERTISEMENT
Gugatan ini perlu segera dijawab secara ilmiah, oleh semua pihak yang peduli dan kompeten pastinya.
Poin berikutnya yang membuat saya berterima kasih, adalah subtansi kritikan pada penggambaran sosok Wiji Thukul di film tersebut. Sudah banyak ulasan yang menunjukkan kekuatan dan kelemahan ‘Istirahatlah Kata-Kata’.

Adanya gugatan terhadap pilihan estetetik tim kreatif--lantaran menampilkan Thukul bukan sebagai penyair cum aktivis lengkap dengan penggambaran segenap amal baktinya, namun lebih menyerupai biopik manusia yang kesepian di tengah pelarian--saya pikir sah-sah saja. Itu ekspektasi yang wajar muncul dari biopik sosok kesohor seperti Pak Thukul.

-

Senior di kampus dulu senewen berat pada 'Gie’-nya Riri Riza karena karakterisasi tokoh utama dia nilai terlalu kalem (selain juga terlalu 'ganteng'). Padahal Gie asli, kata beberapa saksi hidup, setiap bicara selalu meledak-ledak.
ADVERTISEMENT
Perkara representasi ini adalah persoalan khas setiap biopik. Film ini dikhawatirkan menuntun penonton awam gagal menangkap secara jelas alasan Pak Thukul dulu berkarya lewat jalan sastra atau bertungkus lumus dalam pendampingan buruh dan kalangan proletar.
Semangat perlawanan hingga raison d'être perjuangan Pak Thukul, kata para pengkritik, seakan-akan dilucuti jadi terlampau hambar/netral oleh pembuat film 'Istirahatlah Kata-Kata'.
Ekspektasi sebagian segmen penonton ini (terutama yang memahami kiprah Pak Thukul) sebetulnya bisa mereda seandainya banyak film Indonesia mengangkat cerita hidup beliau. Semakin banyak perspektif pastilah membuat penggambaran tokoh sejarah di medium sinema lebih komplet. Lebih bulat.
Tapi, saya khawatir. Jangan-jangan, kalau saya bikin film yang ingin menampilkan semangat perjuangan menyala-nyala dari penggalan hidup Pak Thukul yang kaya warna itu, saya pun berisiko mengalami kesulitan.
ADVERTISEMENT
Sebagai penonton, kadang saya ingin sebuah film punya pesan kuat, tapi sekaligus tak terasa kering dan menggurui, supaya bisa menarik perhatian khalayak luas.
Apalagi saya sendiri bukan jenis orang yang suka menyaksikan film propaganda minus dramatisasi dan tata visual menarik. Bisakah saya lepas dari dilema semacam itu?
Sangat mungkin saya akhirnya mentok, lalu mengutamakan aspek-aspek liris dari hidup seorang tokoh besar. Yang liris-liris kan pasti lebih banyak referensinya untuk diolah menjadi bahasa gambar.

Rasanya kekhawatiran naif saya itu mencuat, terutama karena saya kekurangan referensi film Indonesia bercorak realisme sosialis.

-

Lebih tepatnya film dengan kesadaran ideologi kiri, yang bisa kita jadikan rujukan untuk dipelajari/disaingi mutunya. Mungkin beberapa karya mendiang Sjuman Djaja dan Nya’ Abbas Akub masuk kategori ini, tapi kan masih kurang banyak lah ya.
ADVERTISEMENT
Jujur, generasi saya yang lahir akhir dekade 80-an, hanya segelintir saja yang beruntung bisa menyaksikan satu film Bachtiar Siagian. Selebihnya saya hanya tahu nama-nama film dan sutradara Lekra dari katalog Pak J.B Kristanto.
Acuan saya tentang film drama bertendensi (apalagi yang secara sadar memilih spektrum ideologi kiri) akhirnya sebatas karya-karya Ken Loach, bukan dari khazanah film Indonesia. Membuat film seperti itu kok terasa lebih sulit ya?
Saripati teman-teman yang mengkritik pilihan estetika ‘Istirahatlah Kata-Kata’, sepertinya menandai kerinduan sebagian segmen penonton terhadap film bertendens di lanskap perfilman Indonesia. Jenis film yang tidak hanya berani menawarkan pesan lugas, tapi juga menggerakkan pemirsanya.
Beban membuat film bertendensi pastinya berat. Sayang memang. Kita terlalu lama disuapi film-film yang berambizi menyorongkan pesan moral, tapi jadi belepotan penuturannya.
ADVERTISEMENT

Misalnya sisipan adegan orang menghormat pada bendera merah putih atau berbual-bual soal nasionalisme yang klise abis.

-

Barangkali deretan film bermuatan pesan "moral" bermutu buruk di masa lalu, atau dikesankan demikian oleh penguasa wacana, membuat banyak sineas Indonesia segan atau sekalian saja menghindari produksi film bertendens.
Begitulah. Banyak hal yang saya renungkan berkat perdebatan ‘Istirahatlah Kata-Kata' di sosmed. Insya Allah kedua pihak, lepas dari panasnya retorika yang dipakai, punya sumbangan penting untuk dipikirkan bersama.

Toh, ini debatnya penikmat film dan juga pecinta sastra. Engga akan sampai tusuk-tusukan, apalagi bakar-bakaran. Paling ya diem-dieman, atau saling sindir, karena keki satu sama lain. Hahaha. Ribut begini kan biasa di kancah seni Indonesia.

-

ADVERTISEMENT
Semoga yang berantem dan berkukuh pada pendirian masing-masing, tetap bisa makan bareng, kayak para bapak bangsa kita dulu sesudah debat panas sidang konstituante.
Lebih dari itu, setelah berantem hebat, dua pihak berseberangan tajam ini perlu rangkulan segera. Sebab negara sampai sekarang belum melunasi janji mengungkap tragedi penghilangan orang selama 98/99, kan?

Penuntasan bermacam kasus pelanggaran HAM di masa lalu, yang menodai sejarah Indonesia, wajib kita kawal terus. Dengan atau tanpa kemunculan film biopik Pak Thukul.

-

Omong-omong, susah juga ya berusaha berpikir positif begini, tanpa harus terikat terlalu dalam pada kutub pro ataupun kontra menyoal ‘Istirahatlah Kata-Kata'. Barangkali saya terlalu utopis. Mungkin juga saya ngawur atau malah pengecut karena enggan menentukan sikap.
ADVERTISEMENT
Setidaknya saya yakin bisa menulis sepanjang ini berkat menenggak tiga gelas ukuran 10 mili sirup obat batuk, pagi tadi.
Ya sudah, selamat berakhir pekan. Tonton film ini bila masih sempat. Baca puisi-puisi beliau jika Anda belum pernah berkenalan dengan Wiji Thukul.

Matur nuwun, Pak Wiji Thukul, atas semua amal baktinya, di manapun engkau berada sekarang. Semoga bapak cepat pulang. Saya, dan banyak orang lainnya di Indonesia, sangat merindukanmu.

-

Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020