Konten dari Pengguna

Bahaya Jalan Berlubang: Mengapa Perbaikan Aspal Tidak Boleh Asal-asalan

Muhammad Ardyan Sidiq

Muhammad Ardyan Sidiq

SEO Specialist di Perusahaan Kontraktor Infrastruktur

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ardyan Sidiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Maria Lupan on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Maria Lupan on Unsplash

Belakangan ini, publik dihebohkan dengan video yang memperlihatkan jalan berlubang ditambal secara serampangan: aspal hanya ditaburkan begitu saja, tanpa persiapan permukaan yang benar. Hasilnya sudah bisa ditebak — tambalan cepat rusak, lubang muncul kembali, dan jalan menjadi jebakan berbahaya bagi pengguna.

Cara perbaikan seperti ini bukan hanya pemborosan anggaran negara, tapi juga ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat. Padahal, dengan metode yang benar, tambalan jalan bisa bertahan lama, kuat menahan beban kendaraan berat, serta tahan terhadap perubahan cuaca.

Mengapa prosedur yang benar sangat penting? Karena kualitas tambalan jalan bergantung pada bagaimana permukaan dipersiapkan, material dipilih, dan teknik pemadatan dijalankan. Semua itu bertujuan agar aspal baru bisa "menyatu" sempurna dengan lapisan lama.

Berikut ini prinsip-prinsip dasar dalam memperbaiki jalan aspal dengan benar:

1. Pahami Kondisi Lubang Jalan

Sebelum memperbaiki, lubang harus diperiksa: berapa dalam, berapa besar, dan apa penyebab kerusakannya. Setiap karakteristik ini menentukan metode perbaikan yang tepat.

Area lubang wajib dibersihkan total dari debu, kerikil, dan sisa material yang longgar. Untuk hasil optimal, tepi lubang dipotong rapi (bukan dibiarkan acak) supaya aspal baru bisa melekat kuat.

2. Gunakan Material yang Tepat

Tidak semua tambalan aspal sama.

Hot Mix Asphalt (HMA) cocok untuk perbaikan jangka panjang karena kuat dan tahan lama, meskipun memerlukan pemanasan khusus saat aplikasi.

Cold Mix Asphalt (CMA) lebih praktis untuk perbaikan darurat atau lokasi terpencil, namun daya tahannya lebih rendah.

Pemilihan material menentukan usia tambalan.

3. Jangan Lewatkan Tack Coat

Tack coat berfungsi sebagai "perekat" antara aspal lama dan baru. Tanpa lapisan ini, tambalan rentan terkelupas.

Tack coat diaplikasikan tipis merata, lalu dibiarkan lengket sebelum lapisan aspal dituangkan.

4. Lapisan dan Pemadatan Bertahap

Aspal tidak langsung dituangkan penuh ke dalam lubang. Proses pengisian dilakukan bertahap, setiap 4–6 cm, sambil setiap lapisan dipadatkan menggunakan roller atau alat pemadat. Pemadatan inilah yang menjamin kekuatan tambalan.

5. Finishing yang Tepat

Setelah pemadatan, tambalan harus didiamkan agar mengeras sebelum dilewati kendaraan. Untuk HMA, biasanya cukup 30–60 menit, sementara CMA bisa lebih lama. Pasir halus ditabur di atas permukaan untuk menghindari aspal lengket di ban.

Pengecekan akhir memastikan tidak ada retakan kecil yang bisa berkembang menjadi kerusakan lebih besar.

Kesimpulan:

Perbaikan jalan bukan hanya soal menutup lubang. Ini soal teknik, ketelitian, dan tanggung jawab. Jika semua prosedur diikuti, perbaikan jalan bisa selesai dalam waktu singkat — bahkan dalam hitungan jam — dan bertahan bertahun-tahun.

Kontraktor jasa pengaspalan yang profesional memahami bahwa kualitas jalan adalah cermin kualitas kerja mereka. Pemerintah pun harus lebih tegas mengawasi standar pengerjaan jalan demi keselamatan publik dan penggunaan anggaran yang bijaksana.

Ingat, jalan berlubang bukan hanya soal ketidaknyamanan — tapi bisa menjadi penyebab kecelakaan yang fatal. Karena itu, memperbaiki jalan tidak boleh dilakukan asal-asalan.