Mengapa Proyek Perbaikan Jalan Sering Gagal?

SEO Specialist di Perusahaan Kontraktor Infrastruktur
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Ardyan Sidiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tinjauan dari Perspektif Manajemen Infrastruktur dan Tata Kelola
Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan oleh video viral yang memperlihatkan praktik tambal sulam jalan aspal langsung di atas genangan air. Tak butuh waktu lama, publik ramai-ramai mempertanyakan profesionalisme pelaksana proyek dan efektivitas anggaran infrastruktur. Kasus ini bukan peristiwa tunggal, melainkan refleksi dari persoalan sistemik dalam manajemen jalan di Indonesia.
Kegagalan Bukan Semata Teknis, tapi Tata Kelola
Kerusakan dini jalan aspal kerap dikaitkan dengan material yang buruk atau cuaca ekstrem. Namun dalam banyak kasus, akar masalahnya jauh lebih kompleks—terkait dengan perencanaan proyek, pengawasan lapangan, dan tata kelola anggaran.
1. Perencanaan Proyek Tanpa Data dan Evaluasi Risiko
Banyak proyek perbaikan jalan disusun tanpa studi kelayakan teknis yang memadai. Data lalu lintas, beban kendaraan, dan kondisi tanah lokal sering kali diabaikan dalam perencanaan, padahal ini krusial untuk menentukan jenis material dan ketebalan lapisan aspal yang sesuai. Akibatnya, jalan tidak tahan lama ketika menghadapi realitas di lapangan.
2. Sistem Drainase Tak Masuk dalam Skema Prioritas
Fungsi drainase sering kali dianggap pelengkap, bukan bagian integral dari infrastruktur jalan. Padahal, kerusakan jalan banyak dipicu oleh air yang tidak tertangani dengan baik. Proyek yang hanya fokus pada pelapisan ulang tanpa membenahi drainase pada dasarnya hanya menunda kerusakan, bukan mencegahnya.
3. Tender dan Proses Pengadaan yang Minim Kontrol Mutu
Beberapa proyek jalan digarap oleh kontraktor yang dipilih karena harga termurah, bukan kualitas terbaik. Akibatnya, penggunaan material di bawah standar dan penghematan berlebihan pada tahap konstruksi menjadi praktik umum. Minimnya pengawasan dari pihak berwenang memperparah kondisi ini.
4. Pelaksanaan Proyek Tanpa Standar Operasional Tetap (SOP)
Video yang viral memperlihatkan betapa pelaksanaan proyek sering tak mengikuti prosedur standar, seperti mengeringkan area genangan sebelum menambal jalan. Ini menunjukkan bahwa banyak pelaksana proyek tidak dibekali pelatihan teknis atau SOP yang ketat—faktor yang seharusnya menjadi syarat dasar dalam pekerjaan jalan.
5. Tidak Ada Sistem Pemeliharaan Berkelanjutan
Jalan rusak tidak muncul dalam semalam. Namun, ketika tidak ada sistem monitoring yang berkelanjutan, kerusakan ringan bisa berkembang menjadi lubang besar. Sayangnya, banyak daerah belum mengadopsi teknologi pemantauan jalan berbasis GIS, drone, atau sistem sensor retak dini.
Studi Kasus: Saat Perbaikan Justru Menjadi Masalah Baru
Perbaikan yang dilakukan langsung di atas genangan air dalam video tersebut menunjukkan kurangnya kontrol mutu. Tidak hanya membuang anggaran, cara kerja seperti ini berpotensi memperparah kerusakan dalam waktu singkat. Jika lapisan dasar tetap basah dan lembek, tambalan aspal baru tidak akan bertahan lama. Perilaku ini mencerminkan kegagalan dalam manajemen proyek, bukan sekadar kelalaian teknis.
Menuju Reformasi Tata Kelola Jalan
Agar perbaikan jalan tidak terus menjadi agenda tahunan tanpa hasil yang berkelanjutan, Indonesia perlu berbenah melalui reformasi manajemen infrastruktur sebagai berikut:
Integrasi Drainase dalam Desain Jalan
Setiap proyek jalan harus mewajibkan desain drainase yang komprehensif dan tahan cuaca ekstrem.
Sistem Pengadaan Berbasis Kualitas
Tender proyek seharusnya tidak lagi mengutamakan harga termurah, melainkan rekam jejak dan kapabilitas teknis kontraktor jasa perbaikan jalan.
Pengawasan Independen dan Transparan
Penerapan audit teknis oleh pihak independen dan pelibatan masyarakat sebagai pengawas sosial bisa mendorong transparansi proyek.
Adopsi Teknologi Pemeliharaan Cerdas
Pemanfaatan sistem digital seperti pavement management system, drone survey, dan sensor jalan bisa membantu deteksi dini kerusakan dan perencanaan anggaran pemeliharaan.
Standarisasi dan Sertifikasi Pelaksana Proyek
Setiap pelaksana proyek perbaikan jalan harus tersertifikasi dan memahami SOP, bukan sekadar mengandalkan pengalaman lapangan tanpa landasan teknis.
Penutup: Jalan Rusak adalah Cermin Tata Kelola
Kerusakan jalan bukan semata akibat hujan deras atau beban berat. Ia adalah hasil dari rantai panjang keputusan yang buruk, mulai dari perencanaan, pengadaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Perbaikan jalan yang dilakukan asal-asalan hanya akan menjadi investasi yang sia-sia. Masyarakat perlu mendorong perubahan paradigma: bahwa jalan bukan sekadar beton dan aspal, melainkan aset publik yang harus dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Jika Anda pengambil kebijakan, konsultan infrastruktur, atau warga yang peduli, inilah saatnya mendorong reformasi pengelolaan jalan. Karena jalan yang baik bukan hanya soal kenyamanan berkendara, tapi juga cerminan kualitas tata kelola negara.
