Jangan Sampai Ketergantungan AI Menjajah Berpikir Kritis Pelajar Indonesia

Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Putra Sahubawa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketergantungan AI Bisa Mengikis Berpikir Kritis Pelajar Indonesia di Era Artificial Intelligence

Ketergantungan AI Mulai Mengubah Cara Pelajar Berpikir
Dunia saat ini sedang menghadapi peningkatan ketergantungan AI yang membuat cara masyarakat memperoleh informasi dan menyelesaikan pekerjaan ikut berubah. Di Indonesia, penggunaan Artificial Intelligence semakin dekat dengan kehidupan pelajar Indonesia, termasuk dalam mengerjakan tugas. Kondisi ini perlu diperhatikan karena penggunaan AI secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan risiko kemalasan kognitif. sebagaimana dibahas dalam penelitian "AI dependence and critical thinking”.
Kemalasan Kognitif dan Ancaman Berpikir Kritis
Data statistik menunjukkan tingkat rata-rata penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan mahasiswa mencapai 47,49%, dengan penurunan kemampuan berpikir kritis sebesar 25,05% berdasarkan kajian akademis di Indonesia. Studi pendukung dari Universitas Pancasakti Tegal dan Oregon State University turut menyoroti risiko kemalasan kognitif serta penurunan keterampilan analitis akibat ketergantungan pada respons instan.
Ini menunjukan bahwa jika hal ini menjadi kebiasaan, maka tidak menutup kemungkinan bahwa pemikiran kritis alami yang dimiliki manusia akan terkikis dan terjajah serta diambil alih AI.
masalah ini menjadi tantangan bagi dunia, terutama negara kita untuk bagaimana caranya mengantisipasi ketergantungan tersebut
Menjaga Kedaulatan Pemikiran di Era AI
Oleh karena itu, demi menjaga kedaulatan negara dari ancaman jajahan AI terhadap pemikiran kritis masyarakat Indonesia, kita wajib berkomitmen untuk melepas ketergantungan tersebut dan lebih mengandalkan kemampuan pemikiran kritis kita. Khususnya pemuda-pemudi Indonesia yang menjadi tonggak penting sekaligus agen pemutus perubahan siklus buruk tersebut.
Kita perlu menyadarkan diri masing-masing untuk tidak terlalu bergantung akan kecerdasan buatan, tetapi dengan mengandalkan dan mengasah terus pemikiran kritis yang dimiliki otak kita. Sekarang memang AI sangat kita butuhkan, namun hal tersebut tidak udah menjadi budaya untuk ketergantungan. Jika ada hal yang memang darurat, baru kita gunakan AI sebagai alternatif akhir.
