Pelari "Kalcer": Antara Hobi dan FOMO

football enthusias
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Arfan Azmi Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awal tahun 2025 banyak orang yang sadar bahwa kesehatan itu penting dan mulai berolahraga. Olahraga menjadi sebuah kebutuhan baru dari para gen-z selain untuk kesehatan tentunya sebagai ajang pamer di media sosial. Banyak orang mulai gemar berolahraga seperti gym, padel dan lari.
Lari merupakan kegiatan olaharaga yang murah dan semua orang bisa melakukanya. lari menjadi hobi baru buat para anak muda karena hanya bermodalkan sepatu saja sudah bisa melakukan olahraga lari. Saat ini kemajuan kemajuan teknologi dengan hadirnya media sosial membuat lari bukan hanya sebagai olahraga tetapi sebagai ajang pamer di media sosial.
Stater pack pelari dari yang dulunya hanya memakai sepatu lari, jersey, dan celana pendek sekarang berubah memakai kaos berbahan katun, slayer, topi, celana dan sepatu. Selain itu penambahan aksesoris seperti jam juga merupakan hal yang dilakuin pelari sekarang.
Selain itu, tentunya tidak lupa dengan aplikasi Str*va yang ada di smartphone pelari. Aplikasi ini sebenarnya merupakan tracker untuk mengetahui seberapa jauh kita berlari dan seberapa cepat kita berlari. Aplikasi ini juga menyediakan beberapa fitur seperti statistik dan dapat membuatkan jalur lari yang tentunya memudahkan pelari untuk mengetahui berapa jarak yang kita butuhkan untuk program latihan.
Namun, di era media sosial Str*va kini menjadi ajang memamerkan kegiatan berlari. Konten pelari di media sosial juga bermacam macam mulai dari aktivitas lari hingga istirahat di coffe shop semua terdokumentasikan dan siap untuk dibagikan ke media sosial.
Fenomena ini disebut sebagai pelari kalcer. pelari kalcer tidak hanya fokus pada kecepatan berlari namun pada style yang nantinya akan dibagikan lewat media sosial.
Tidak jarang banyak nitizen yang berkomentar bahwa trend ini merupakan sebuah sifat Fear of Missing Out atau FOMO. Fomo sendiri muncul ketika kita ingin melakukan apa yang orang lain lakukan di media sosial jika tidak melakukanya orang tersebut akan cemas dan gelisah.
Fomo merupakan tindakan negatif namun jika fomo terebut mengarah pada tindakan positif seperti berolahraga tentunya akan memberikan manfaat pada tubuh kita. Tidak usah pedulikan omongan orang yang penting kesehatan kita dan kebuguran tubuh kita tetap terjaga.
