Konten dari Pengguna

Dari Stiker WhatsApp hingga Kantor Terbakar: Ketika Candaan Kehilangan Empati

Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI

Sebuah candaan digital berujung pada peristiwa serius di Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pada Selasa, 11 Agustus 2026, seorang tenaga outsourcing berinisial MFA (24) diduga membakar ruang rapat di lantai tiga kantornya. Berdasarkan keterangan kepolisian yang diberitakan sejumlah media, tindakan tersebut diduga dilatarbelakangi rasa sakit hati karena MFA kerap menjadi bahan olokan di lingkungan kerja, termasuk fotonya yang diambil dan dijadikan stiker WhatsApp oleh rekan sesama tenaga outsourcing.

Sulit membayangkan bahwa sesuatu yang begitu dekat dengan keseharian kita—foto, grup WhatsApp, stiker, dan candaan antarteman—dapat menjadi bagian dari konflik yang berakhir pada tindakan destruktif.

Tentu saja, rasa tersinggung tidak dapat menjadi pembenaran untuk membakar kantor. Kemarahan, seberat apa pun, tidak memberikan hak kepada seseorang untuk merusak fasilitas atau melakukan tindakan yang dapat membahayakan orang lain. Namun, peristiwa tersebut juga meninggalkan pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kapan sebuah candaan berhenti menjadi lucu dan mulai melukai orang lain?

Dari Candaan Menjadi Perkara Hukum

Berdasarkan keterangan yang berkembang dalam penyelidikan, MFA bekerja sebagai tenaga outsourcing di Diskominfo Kutai Kartanegara. Ia disebut merasa sakit hati karena menjadi bahan ejekan di lingkungan kerjanya. Salah satu persoalan yang mencuat adalah foto dirinya yang diambil dan kemudian dijadikan stiker WhatsApp.

Persoalan tersebut diduga tidak berhenti sebagai ketidaknyamanan sesaat. Kemarahan yang terakumulasi kemudian berujung pada dugaan pembakaran ruang rapat kantor.

Pihak Diskominfo Kutai Kartanegara menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada kepolisian. Plt Kepala Diskominfo Kutai Kartanegara, Solihin, dalam keterangannya kepada media menyebut bahwa dugaan sementara berdasarkan pemeriksaan kepolisian menunjukkan adanya persoalan ejek-mengejek di antara rekan kerja.

“Dugaan sementara dari pemeriksaan Polres Kukar itu terjadi ejek-mengejek di antara rekan kerja mereka. Pelaku ini sakit hati sehingga melakukan tindakan tersebut,” ujar Solihin.

Peristiwa tersebut kemudian masuk ke ranah hukum. Kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap MFA dan mendalami motif serta rangkaian kejadian yang mendahului pembakaran.

Di balik proses hukum itu, kasus ini menyisakan persoalan lain yang tidak kalah penting: hubungan antarmanusia di lingkungan kerja.

Ketika “Cuma Bercanda” Tidak Lagi Lucu

Hampir semua pengguna WhatsApp mungkin pernah melihat stiker yang dibuat dari foto teman sendiri.

Caranya sangat mudah. Foto seseorang dipotong, ekspresi wajahnya diambil, kemudian ditambahkan tulisan tertentu. Dalam hitungan menit, foto tersebut berubah menjadi stiker yang dapat dikirim berkali-kali ke dalam percakapan.

Di antara teman dekat, hal itu bisa menjadi bagian dari keakraban. Orang yang fotonya dijadikan stiker ikut tertawa, bahkan ikut menggunakan stiker tersebut.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan: tidak semua orang memiliki batas kenyamanan yang sama.

Apa yang lucu bagi kita belum tentu lucu bagi orang lain.

Masalah menjadi lebih rumit ketika sebuah candaan dilakukan berulang kali kepada orang yang sebenarnya sudah merasa tidak nyaman. Pada titik itu, kalimat “cuma bercanda” tidak lagi cukup untuk menghapus dampak yang dirasakan oleh orang lain.

Kita sering menilai candaan berdasarkan niat. Selama tidak berniat menyakiti, kita merasa tidak melakukan kesalahan. Padahal dalam hubungan antarmanusia, niat dan dampak perlu dilihat bersama.

Bercanda seharusnya membuat orang yang terlibat sama-sama tertawa. Jika satu pihak terus tertawa sementara pihak lainnya merasa dipermalukan, mungkin yang perlu dievaluasi bukan sensitivitas orang tersebut, melainkan cara kita memperlakukannya.

Pintar Menggunakan Teknologi, Belum Tentu Pintar Memahami Manusia

Kasus ini menjadi relevan ketika dilihat melalui perspektif Estetika Humanisme, terutama konsep human literacy atau literasi manusia.

Teknologi telah membuat kita semakin mudah melakukan banyak hal. Kita dapat berkomunikasi dalam hitungan detik, mengedit foto melalui telepon genggam, membuat stiker secara instan, bahkan menggunakan kecerdasan buatan untuk mengubah wajah, suara, dan video.

Namun kemampuan menggunakan teknologi tidak otomatis membuat seseorang semakin mampu memahami manusia.

Kita mungkin mengetahui cara mengubah sebuah foto menjadi stiker dalam waktu kurang dari satu menit, tetapi belum tentu terbiasa meluangkan beberapa detik untuk bertanya:

“Apakah orang ini nyaman fotonya saya jadikan bahan bercanda?”

Pertanyaan sederhana tersebut merupakan bagian dari empati.

Dalam perspektif humanisme, manusia tidak boleh hanya dipandang sebagai objek. Setiap orang memiliki martabat, harga diri, emosi, pengalaman hidup, dan batas personal.

Sebuah foto di layar telepon memang hanya terdiri atas piksel. Namun di balik wajah yang terdapat di dalam foto itu ada manusia yang dapat merasa senang, malu, marah, ataupun terluka.

Semakin mudah teknologi memungkinkan kita menggunakan representasi orang lain, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya secara etis.

Dua Sisi Kecerdasan Emosional

Peristiwa di Kutai Kartanegara juga memberikan pelajaran penting tentang Emotional Intelligence atau kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional bukan sekadar kemampuan menahan kemarahan. Di dalamnya terdapat kemampuan mengenali emosi diri, mengelola respons, memahami emosi orang lain, berempati, dan membangun hubungan sosial yang sehat.

Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, kasus ini menunjukkan dua persoalan yang sama-sama penting.

Pertama adalah empati terhadap orang lain.

Lingkungan kerja membutuhkan kepekaan untuk memahami kapan sebuah candaan masih dianggap menyenangkan dan kapan candaan telah melewati batas. Keakraban tidak memberikan hak tanpa batas untuk menjadikan rekan kerja sebagai objek humor.

Ketika seseorang mengatakan atau menunjukkan bahwa dirinya tidak nyaman, seharusnya itu menjadi tanda untuk berhenti.

Kedua adalah kemampuan mengendalikan respons terhadap emosi sendiri.

Marah, kecewa, tersinggung, dan sakit hati adalah emosi manusiawi. Namun seseorang tetap bertanggung jawab terhadap tindakan yang dipilih setelah mengalami emosi tersebut.

Apabila merasa diperlakukan tidak menyenangkan di tempat kerja, terdapat banyak jalan yang dapat ditempuh: menyampaikan keberatan secara langsung, berbicara dengan atasan, menggunakan mekanisme pengaduan, meminta mediasi, atau mencari penyelesaian konflik melalui jalur yang tersedia.

Tindakan destruktif jelas bukan penyelesaian.

Karena itu, memahami mengapa seseorang marah tidak berarti membenarkan tindakan yang dilakukannya.

Kita dapat mengatakan bahwa mempermalukan atau mengolok-olok rekan kerja secara berulang merupakan perilaku yang tidak patut. Pada saat yang sama, kita juga harus menegaskan bahwa rasa sakit hati tidak membenarkan perusakan atau tindakan yang membahayakan.

Kedua hal tersebut dapat menjadi pelajaran kecerdasan emosional dari peristiwa yang sama.

Jangan Sedikit-Sedikit Menyebut Orang “Baper”

Ada satu kata yang begitu mudah digunakan ketika seseorang keberatan terhadap candaan: baper.

“Begitu saja baper.”

“Cuma stiker.”

“Kan cuma bercanda.”

Kalimat semacam itu terdengar sederhana, tetapi terkadang menjadi cara untuk mengabaikan perasaan orang lain.

Ketika seseorang merasa tersinggung, kita sering bertanya, “Mengapa dia terlalu sensitif?”

Padahal pertanyaan yang mungkin lebih penting adalah, “Apakah tindakan saya sudah membuatnya tidak nyaman?”

Setiap orang mempunyai pengalaman, kepribadian, dan batas personal yang berbeda. Sesuatu yang terasa biasa bagi kita mungkin memiliki makna berbeda bagi orang lain.

Empati tidak mengharuskan kita selalu memahami secara sempurna apa yang dirasakan orang lain. Empati dimulai dari kesediaan menerima bahwa perasaan orang lain tidak harus sama dengan perasaan kita.

Kalau seseorang tidak nyaman fotonya dijadikan stiker, berhenti membuat atau mengirimkannya sebenarnya bukan perkara sulit.

Tidak dibutuhkan teknologi baru. Tidak dibutuhkan regulasi yang rumit.

Hanya dibutuhkan rasa hormat.

Ilustrasi AI

Kantor Juga Ruang Kemanusiaan

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tempat kerja bukan hanya tempat menyelesaikan tugas.

Di kantor ada target, laporan, rapat, tenggat waktu, dan indikator kinerja. Namun di balik seluruh aktivitas tersebut terdapat manusia yang bekerja bersama manusia lainnya.

Mereka bercakap, bercanda, berbeda pendapat, membangun pertemanan, mengalami tekanan, dan terkadang terlibat konflik.

Karena itu, organisasi yang sehat tidak cukup hanya mempunyai sistem kerja yang baik. Organisasi juga membutuhkan budaya komunikasi yang sehat.

Humor tentu tidak harus hilang dari tempat kerja. Candaan dapat mencairkan suasana dan membangun kedekatan. Namun humor membutuhkan batas.

Organisasi juga perlu menyediakan ruang yang aman bagi seseorang untuk mengatakan, “Saya tidak nyaman diperlakukan seperti ini,” tanpa khawatir justru kembali menjadi bahan ejekan.

Konflik yang dikomunikasikan sejak awal memiliki peluang lebih besar untuk diselesaikan. Sebaliknya, konflik yang terus dipendam dapat berkembang menjadi persoalan yang semakin sulit dikendalikan.

Transformasi Digital Juga Membutuhkan Transformasi Empati

Persoalan ini menjadi semakin penting di tengah perkembangan Society 5.0, ketika teknologi ditempatkan untuk mendukung kehidupan manusia.

Hari ini persoalannya mungkin sebuah stiker WhatsApp. Ke depan, tantangannya dapat jauh lebih kompleks.

Kecerdasan buatan kini memungkinkan foto seseorang dimanipulasi dengan semakin realistis. Suara dapat ditiru. Video dapat dibuat seolah-olah seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Semakin besar kemampuan teknologi untuk memanipulasi representasi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab manusia yang menggunakannya.

Itulah mengapa transformasi digital seharusnya berjalan bersama transformasi empati.

Kita tidak cukup hanya menjadi masyarakat yang semakin terampil menggunakan teknologi. Kita juga perlu menjadi masyarakat yang semakin mampu menghargai manusia yang berada di balik teknologi tersebut.

Sebelum Menekan Tombol Kirim

Peristiwa pembakaran di Kantor Diskominfo Kutai Kartanegara kini menjadi perkara hukum yang ditangani pihak berwenang. Proses tersebut harus berjalan berdasarkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku.

Namun bagi masyarakat dan lingkungan kerja, kasus ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita viral yang dibaca beberapa menit kemudian dilupakan.

Ada pelajaran sederhana di dalamnya.

Dunia digital dan dunia nyata tidak benar-benar terpisah. Foto yang diambil di dunia nyata dapat menjadi stiker di dunia digital. Stiker dapat memengaruhi perasaan seseorang. Emosi yang tidak dikomunikasikan dan tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi konflik nyata.

Karena itu, tempat kerja perlu membangun komunikasi yang sehat, mencegah perilaku perundungan, menyediakan ruang penyelesaian konflik, dan mendorong kecerdasan emosional di antara orang-orang di dalamnya.

Pada tingkat pribadi, langkahnya bahkan bisa jauh lebih sederhana.

Sebelum mengambil foto seseorang, mengeditnya, menjadikannya stiker, menuliskan komentar, atau menekan tombol kirim, ada satu pertanyaan yang layak dibiasakan:

“Kalau saya berada di posisi orang itu, apakah saya masih menganggapnya lucu?”

Mungkin kita tidak akan pernah mampu membaca perasaan orang lain secara sempurna. Namun kita selalu dapat memilih untuk bertanya, meminta izin, berhenti ketika orang lain merasa tidak nyaman, serta mengelola emosi dengan baik ketika kita sendiri merasa disakiti.

Sebab di tengah dunia yang semakin digital, human literacy pada akhirnya bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi.

Ia adalah kemampuan untuk tetap melihat manusia sebagai manusia.

Ilustrasi AI