Konten dari Pengguna

Laut Cina Selatan: Konflik yang Kita Pura-Pura Lupakan

Arfandi Pratama

Arfandi Pratama

Mahasiswa, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arfandi Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto ilustrasi ketegangan di Laut Cina Selatan, Sumber: AI
zoom-in-whitePerbesar
Foto ilustrasi ketegangan di Laut Cina Selatan, Sumber: AI

Ada sesuatu yang jarang kita akui: kita tahu Laut Cina Selatan sangat penting, tetapi kita lebih suka mengabaikannya. Seolah-olah konflik itu terlalu jauh, terlalu kompleks, atau hanya "urusan orang lain." Padahal, kawasan ini adalah mesin ekonomi Asia. Setiap tahun, lebih dari tiga triliun dolar perdagangan global mengalir melaluinya, angka yang menjadikannya arteri vital (Kaplan, 2016). Meskipun demikian, karena suatu alasan, banyak dari kita memperlakukannya sebagai masalah sehari-hari yang tidak penting. Realitasnya lebih kompleks. Cina telah melakukan lebih dari sekadar mengklaim wilayah. Mereka membangun pulau buatan, memperluas instalasi militer, dan mengerahkan kapal penjaga pantai yang mengesankan. Ini bukanlah "aktivitas rutin." Ini adalah strategi jangka panjang yang, perlahan namun pasti, mengubah realitas di lapangan (Mastro, 2021). Dan sikap kita? Kita tetap terlalu puas untuk menganggapnya sebagai ancaman nyata. ASEAN tidak berbeda. Alih-alih menjadi pilar keamanan regional, organisasi ini seringkali terjebak dalam diplomasi yang hati-hati. Mereka takut melukai perasaan negara-negara anggota, menciptakan suasana yang tidak nyaman, dan pada akhirnya, mengambil sikap tegas. Jones dan Smith (2017) telah lama berpendapat bahwa pola ini membuat ASEAN tampak lebih seperti klub debat daripada lembaga yang mampu menanggapi ancaman serius. Pada intinya, ASEAN terlalu sibuk menjaga keharmonisan, sementara aktor lain sibuk mendefinisikan kembali lanskap. Sementara itu, kekuatan-kekuatan besar bertindak lebih cepat. Filipina, misalnya, memperkuat aliansi pertahanannya karena tidak lagi dapat mengandalkan diplomasi regional yang sopan (Storey, 2020). Amerika Serikat juga telah meningkatkan patroli militernya sebagai peringatan bahwa kawasan ini tidak dapat menjadi "danau" yang dimiliki oleh siapa pun (O'Rourke, 2023). Jadi, jika bahkan kekuatan-kekuatan besar melihat ini sebagai ancaman serius, mengapa negara-negara tetangga tampak begitu tenang? Masalah ini bukan hanya tentang perbatasan atau bendera yang ditancapkan di terumbu karang tertentu. Ini tentang penipisan sumber daya minyak dan gas. Banyak penelitian menunjukkan bahwa perebutan sumber daya inilah yang mendorong negara-negara di kawasan ini untuk semakin mempertahankan klaim mereka (Vandana, 2019). Ini berarti bahwa jika kita lengah, kita tidak hanya akan kehilangan wilayah tetapi juga masa depan energi kita. Masalah mendasar terletak pada bagaimana kita membingkai isu ini. Banyak pemerintah memilih untuk meremehkan ancaman tersebut demi menjaga hubungan diplomatik. Namun, seperti yang dijelaskan oleh Buzan dan Wæver (2003), ancaman yang tidak diakui sebagai ancaman tidak menarik perhatian publik. Dan ketika publik tidak peduli, pemerintah tidak merasa perlu untuk bertindak. Akibatnya? Kita semua hidup di bawah ilusi bahwa semuanya baik-baik saja. Semua ini menunjukkan fakta sederhana: kita tahu ini adalah masalah serius, tetapi kita menolak untuk mengatasinya secara langsung. Namun, harga dari sandiwara ini sangat tinggi. Kita bisa kehilangan ruang maritim, sumber daya, pengaruh regional, dan pada akhirnya, kendali atas apa yang terjadi di dalam perbatasan kita sendiri. Dialog tetap penting, tentu saja. Namun, dialog tanpa strategi, tanpa pendirian yang tegas, dan tanpa mengetahui siapa yang bergerak lebih cepat, hanyalah formalitas belaka yang tidak pernah mengubah situasi. Laut Cina Selatan adalah ujian apakah kita benar-benar peduli terhadap keamanan regional atau hanya tertarik pada kepentingan diplomatik. Sudah saatnya berhenti berpura-pura. Jika kita terus mengabaikan hal ini, suatu hari nanti kita mungkin akan terbangun dan mendapati peta kawasan telah berubah tanpa kita memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam membentuknya.