Konten dari Pengguna

Kondisi Negeri Ini Makin Modern, tapi Pola Pikirnya Begitu- Begitu saja

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arfiansah Buhari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa lagi di antara kita yang hatinya tak bergetar atau bahkan teriris melihat kondisi negeri yang beriak dan bergejolak, belakangan ini? Adakah mata yang masih bisa tetap dingin dan menatap datar seolah tak ada badai yang sedang terjadi?

Mungkin ada. Mereka yang memilih mati rasa. Mereka yang sengaja gulung tikar dari kepedulian karena terlalu lelah oleh keadaan, atau mereka yang menyerah karena merasa tak lagi punya daya untuk berbuat apa-apa. Lebih tragis lagi, mungkin mereka yang abai justru adalah bagian dari para pelaku yang meretakkan cermin kebangsaan kita sendiri.

Tak henti-hentinya tanah air ini disapa gelombang ujian. Ujian demi ujian yang datang bukan sekadar menerpa kulit luar, melainkan menusuk lurus ke dalam ulu hati, menghimpit dada hingga terasa begitu sesak.

Tiga puluh enam tahun sudah usia hidupku berjalan di atas tanah ini. Dalam rentang tiga dekade lebih itu, aku menjadi saksi bagaimana gedung-gedung bertingkat merambat naik memeluk langit. Aku menyaksikan teknologi menembus batas-batas yang dulu tak terbayangkan, jalan-jalan tol membentang, dan wajah modernitas berhias dengan sangat megah.

Namun, di balik fondasi beton yang kian kokoh dan gemerlap etalase pembangunan itu, ada sesuatu yang terasa kian melapuk, jiwa manusianya, pola pikirnya, dan rasa empati antarsesama yang kian terkikis. Kita seolah bertumbuh pesat dalam wujud fisik, namun kian kerdil dalam kepekaan nurani.

Tulisan ini bukanlah sebuah analisis politik yang rumit dengan teori-teori akademis tingkat tinggi. Ini hanyalah jeritan sunyi yang bergema kian nyaring di relung dada. Mengapa rasa pedih ini menetes begitu pekat dan menekan lebih keras hari demi hari?

Mungkin karena benih cinta yang terlanjur tertanam mendalam untuk negeri ini. Atau mungkin juga karena rasa cinta kepada keluarga kecilku, serta cinta pada keberlangsungan diriku sendiri. Sebab aku menyadari satu hal mendasar: apa pun yang terjadi pada bangsa ini, dampaknya akan menjangkau kita semua tanpa terkecuali. Ketika kapal besar bernama Indonesia ini digoyang badai dan bocor di mana-mana, tidak ada satu pun penumpang yang benar-benar bisa melarikan diri dari genangan airnya. Kita berada di atas geladak yang sama.

Jujur, terkadang aku hampir kehabisan kata. Ada begitu banyak fenomena dan realitas sosial yang kucoba cerna dan pahami, namun logika ini kerap membentur dinding kening. Betapa sulitnya mencerna kebijakan dan dinamika yang sering kali terasa jauh dari rasa keadilan dasar.

Di tengah kebingungan dan kecemasan itu, satu-satunya hal yang masih bisa kuharapkan, impikan, dan kirimkan dalam doa adalah agar hati para pemangku tampuk kekuasaan di negeri ini tidak membatu. Semoga nurani mereka kembali jernih, mampu membasuh jelaga ketamakan dan keegoisan yang mengendap.

Betapa indahnya jika:

Dinding rumah baru dicat yang rembes, gambaran kondisi negeri. source ChatGpt.Com

Telinga mereka tak lagi tersumbat oleh bisikan pujian palsu, melainkan peka meresapi jeritan jujur dari akar rumput.

Mata mereka tersingkap lebar untuk melihat jelata yang tertatih-tatih di balik kemilau angka-angka pertumbuhan.

Kaki mereka mau melangkah lebih jauh, menelusuri lorong-lorong sunyi tempat rakyatnya bergulat dengan nasib sehari-hari.

Tangan mereka lebih banyak terulur untuk merengkuh dan membantu, bukan sekadar memegang tongkat kendali atau mengepal kepentingannya sendiri.

Pikiran mereka senantiasa memancarkan ide-ide jernih dan gagasan terbaik demi kemaslahatan bersama, bukan sekadar kalkulasi kekuasaan jangka pendek.

Catatan sederhana ini lahir dari kecamukan pikiran yang riuh dan hati yang penuh. Tak ada alur cerita yang muluk-muluk atau klaim paling benar.

Namun, dari segala kekacauan rasa ini, hanya ada satu ajakan yang tersisa untuk kita semuaterutama mereka yang memegang kendali atas arah bangsa ini: berhentilah sejenak dari ingar-bingar kepentingan, dan tataplah kembali negeri ini dengan mata hatimu