AHY Lihat Lukisan, Ingatkan Indonesia Jangan Sampai Terjebak Hukum Rimba

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat berbicara dalam sesi EAEU-ASEAN pada rangkaian St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 di St. Petersburg, Rusia, Kamis (4/6/2026). Foto: Kemenko Infra
zoom-in-whitePerbesar
Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat berbicara dalam sesi EAEU-ASEAN pada rangkaian St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 di St. Petersburg, Rusia, Kamis (4/6/2026). Foto: Kemenko Infra

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan agar Indonesia jangan sampai terjebak dalam situasi hukum rimba.

Pesan itu disampaikan AHY saat menghadiri pembukaan Pameran Lukisan SBY Art Community (SAC) 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (18/8).

AHY menyampaikan pesan tersebut ketika menjelaskan salah satu karya kolaborasi yang dipamerkan dalam acara bertajuk Art for Peace and a Better Future: Collaboration.

Lukisan berjudul "Law of the Jungle" berukuran 2,7 meter x 7 meter. Lukisan itu dibuat secara kolaboratif oleh para seniman SBY Art Community.

"Kalau tadi di dalam karya lukis kolaborasinya, ada kata-kata 'The strong do what they can, the weak suffer what they must'. Itu kata-kata dari Thucydides, mengingatkan kita jangan sampai kita menjadi yang dikorbankan dalam sebuah gejolak," kata AHY dalam sambutannya.

Sejumlah lukisan dipamerkan di Pameran Lukisan SBY Art Community 2026 di Taman Ismail Marzuki, Selasa (18/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

AHY mengatakan Indonesia memang harus menjadi negara yang kuat. Namun, kekuatan tersebut tidak boleh digunakan untuk melanggar aturan maupun norma yang telah disepakati.

"Kita harus menjadi kuat, tapi tidak boleh melabrak aturan, melanggar sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi norma, pranata, termasuk hukum internasional, termasuk hukum perang dan humaniter, termasuk Konvensi Jenewa," ujarnya.

Ia kemudian menyoroti visual dalam lukisan yang menggambarkan sejumlah binatang buas.

"Tadi diilustrasikan dengan banyak binatang buas. Ada singa, ada harimau, ada serigala, burung bangkai. Jangan sampai hukum rimba berlaku di Indonesia," kata AHY.

Menurutnya, politik di Indonesia boleh berlangsung keras dan penuh perbedaan. Namun, situasi tersebut tidak boleh berkembang menjadi praktik yang mengabaikan aturan.

"Politik keras, tapi tidak boleh menjadi hukum rimba," tegasnya.

AHY berharap Indonesia tetap menjadi negara yang menjunjung perdamaian sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

"Indonesia harus makin maju karena diisi oleh kita-kita yang sekali lagi mencintai perdamaian dan punya kepedulian untuk bumi dan lingkungan hidup kita yang semakin lestari ke depan," katanya.

Kata Pramono

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri Pembukaan Pameran Lukisan SBY Art Community 2026 di Taman Ismail Marzuki, Selasa (18/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang membuka pameran turut memberikan perhatian terhadap karya kolaborasi tersebut.

Pramono mengaku sempat merasa terharu ketika melihat karya kolaborasi para seniman SAC. Menurutnya, lukisan tersebut bukan sekadar karya seni, melainkan membawa pesan besar.

"Saya terus terang pada waktu tadi Pak SBY menjelaskan tentang lukisan kolaborasi, sebenarnya saya agak meneteskan air mata. Bukan apa-apa, itu adalah karya besar, pesan besar untuk dunia, dan yang menyampaikan adalah orang besar, Pak SBY," kata Pramono.

Pramono juga mengungkapkan kekagumannya terhadap kemampuan SBY mengumpulkan para seniman dengan karakter dan latar belakang berbeda dalam satu wadah.

Menurutnya, hal tersebut bukan perkara mudah karena masing-masing seniman memiliki prinsip, keinginan, hingga ego masing-masing.