Kisah Kakek di NTT Tertimpa Puing saat Selamatkan Cucu dari Gempa

Gempa yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat banyak rumah rusak dan warga harus mengungsi.
Di tengah kepanikan itu, Abdul Manan mendapat informasi ayahnya, Muhammad Damin, tertimpa puing bangunan saat menyelamatkan cucunya.
Abdul ketika ditemui di pengungsian Kecamatan Mata Air Barang Kolong, Reo, Manggarai, NTT, Minggu (16/8), mengatakan sang ayah harus menjalani perawatan. Tubuh bagian bawahnya sulit digerakkan setelah tertimpa material bangunan.
Damin terlihat sangat kesakitan dengan selang oksigen yang terpasang.
Abdul mengatakan, ayahnya sebenarnya sempat berusaha menyelamatkan diri ketika gempa terjadi. Namun, perhatian Muhammad Damin beralih kepada cucunya yang masih berada di dalam rumah.
"Wah, hancur (rumah). Tidak ada harapan. Hancur. Sempat lari dia ini tuh, cuma dia ingat lagi dia punya cucu ya dia masuk kembali, akhirnya tertimpa tembok sudah," kata Abdul.
Muhammad Damin tertimpa tembok batako yang runtuh dalam ukuran besar. Bagian bawah tubuhnya mengalami cedera sehingga membuatnya kesulitan bergerak.
Saat gempa terjadi sekitar pukul 05.30 WITA, Abdul tidak berada di rumah yang ditempati ayahnya. Ia tinggal di kawasan pertengahan gunung, sementara ayahnya berada di wilayah pesisir.
Kabar mengenai kondisi ayahnya baru diterima Abdul usai gempa. Saat itu, warga berlarian menyelamatkan diri. Adiknya kemudian membawa Muhammad Damin ke kampung di bagian atas.
"Sudah luar biasa sudah. Iya, rasanya sudah lain sudah perasaan saya tuh, karena memang mereka kan bonceng tiga. Dia di tengah, berarti saya bilang, wah mungkin agak parah Bapak ini. Ternyata betul dia tidak bisa goyang (bergerak) tuh. Ini alhamdulillah juga ini sudah agak (mendingan)," ujar Abdul.
Selain cedera pada bagian bawah tubuh, Muhammad Damin juga mengalami luka di bagian dahi dan kepala hingga mendapat jahitan.
Pada awalnya, Damin juga mengalami sesak napas dan kesulitan ketika tubuhnya disentuh.
"Awal-awal sesak. Iya, tidak bisa kita pegang badannya. Sakit," kata Abdul.
Menurut Abdul, ayahnya sebelumnya tidak memiliki penyakit yang membuatnya mengalami kesulitan bernapas. Kondisi tersebut muncul setelah tertimpa bangunan ketika gempa.
"Itu sesudah kejadiannya ini. Dia tidak ada sakit. Memang dia tidak sakit, hanya karena memang waktu gempa, kaget itu, dia mau lari ke luar," tuturnya.
Kondisi Semakin Membaik
Kini, Muhammad Damin telah dua malam berada di pengungsian. Abdul mengatakan kondisi ayahnya perlahan mulai membaik dan sudah bisa sedikit menggerakkan tubuhnya.
Meski begitu, rasa sakit masih dirasakan sang ayah, terutama ketika hendak buang air kecil.
"Batako yang besar itu (yang menimpa). Keberatannya lagi (tubuh) dia. Tapi ya bersyukur juga dia hanya cuma ini saja tuh," kata Abdul.
Muhammad Damin diperkirakan berusia 78 atau 79 tahun. Abdul sendiri merupakan anak pertama dan kini berusia lebih dari 50 tahun.
Di tengah kondisi rumah yang hancur dan ayah yang masih menjalani perawatan, Abdul hanya berharap kondisi orang tuanya segera pulih.
BNPB mencatat hingga Senin (17/8), terdapat 68 orang meninggal dunia akibat gempa magnitudo 7,7 ini. Sementara korban luka-luka mencapai 213 orang. Hingga saat ini masih terasa gempa susulan khususnya di wilayah Manggarai.
