Makan Kambing yang Mati karena Sakit, 4 Warga Gunungkidul Positif Antraks

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas kesehatan hewan menyuntikkan vaksin antraks ke hewan ternak di Gedangsari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis (4/4/2024). Foto: Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas kesehatan hewan menyuntikkan vaksin antraks ke hewan ternak di Gedangsari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis (4/4/2024). Foto: Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO

Empat warga Dusun Pelem, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul positif antraks usai mengkonsumsi kambing yang sakit dan mati mendadak.

"Infonya memang itu lah brandu (mengkonsumsi daging dari ternak mati). Kemudian dikonsumsi bareng-bareng gitu. Kemudian ya karena ada suspek, kemudian diperiksa ke Labkesmas dan memang itu hasil PCR-nya positif, kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, dihubungi wartawan, Jumat (2/10).

Brandu atau porak selama ini jadi tradisi masyarakat setempat. Warga membeli ternak yang mati dengan tujuan meringankan beban pemilik ternak.

Ia menambahkan, pada September 2026, beberapa warga mengalami koreng pada kulit seperti gejala terpapar antraks. Sebanyak tujuh orang merupakan suspek. Setelah dites, empat orang dinyatakan positif.

"Luka-luka kayak koreng di kulit itu. Dan kita ambil swab-nya," katanya.

Kini Sudah Sehat

Ismono mengatakan kondisi empat warga tersebut saat ini sudah sehat.

"Sudah sehat," katanya.

Lalu, penelusuran kontak populasi berisiko diidentifikasi ada 47 orang yang punya riwayat paparan terhadap hewan maupun produk hewan dari kambing tersebut.

Mereka yang suspek ini juga turut diberikan profilaksis tujuannya sebagai upaya mencegah munculnya kasus tambahan. Pemantauan kesehatan juga dilakukan selama 60 hari atau dua kali masa inkubasi.

"Saat ini sudah nggak ada kasus baru itu, berarti sudah selesai di situ," ungkapnya.

Di sisi lain pihaknya terus mensosialisasikan agar tradisi brandu ini tidak berkelanjutan.

"Jadi sebetulnya sudah kita dari teman-teman di peternakan kalau ada hewan seperti itu jangan disembelih, kan gitu," pungkasnya.