Dampak Multitasking Terhadap Kinerja Akademis dan Psikologis Pelajar

Siswa SMK Telkom Purwokerto
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rafif Arga Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebiasaan mengerjakan beberapa aktivitas sekaligus (multitasking), telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup pelajar di era digital. Seorang siswa sering kali terlihat mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sambil mendengarkan musik, menonton video, atau membalas pesan di media sosial.
Banyak pelajar beranggapan bahwa metode ini dapat menghemat waktu dan merupakan indikator produktivitas yang tinggi. Namun, berbagai studi psikologi dan pendidikan menunjukkan bahwa kebiasaan multitasking justru memberikan dampak negatif yang signifikan bagi pelajar, mulai dari penurunan kualitas akademis hingga terganggunya kesehatan mental.
Penurunan Efisiensi dan Ketelitian
Banyak yang merasa multitasking bikin kerjaan cepat selesai. Padahal, ketika seorang pelajar membaca buku sambil mengecek notifikasi ponsel, fokus mereka sebenarnya terpecah-pecah.
Berdasarkan riset yang dipublikasikan oleh American Psychological Association (APA) dan studi dari Dr. David Meyer di University of Michigan, proses perpindahan fokus antar tugas (task-switching) memakan "biaya kognitif" yang besar. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa perpindahan fokus yang terjadi secara terus-menerus justru membuang hingga 40% dari waktu produktif seseorang. Alhasil, tugas yang seharusnya selesai dalam waktu satu jam malah molor, dan hasilnya pun menjadi tidak maksimal karena kosentrasi yang menurun.
Hambatan pada Pemahaman dan Daya Ingat
Pernahkah kamu belajar berjam-jam tetapi keesokan harinya lupa semua materi saat ujian? Kebiasaan membagi fokus bisa jadi faktor utamanya. Belajar yang efektif menuntut konsentrasi mendalam agar informasi baru dapat disimpan ke dalam memori jangka panjang.
Hal ini dibuktikan oleh penelitian ahli saraf neurokognitif Dr. Russell Poldrack dari Stanford University. Poldrack menemukan bahwa belajar sambil melakukan aktivitas lain mengubah rute otak dalam menyimpan informasi. Multitasking memaksa pemrosesan informasi berpindah dari hippocampus (pusat memori jangka panjang dan fakta) ke bagian striatum (pusat kebiasaan). Dampaknya, informasi hanya menumpang lewat dan pemahaman siswa menjadi sangat dangkal.
Peningkatan Tingkat Stres dan Kelelahan Mental
Selain merugikan secara akademis, multitasking diam-diam merusak kondisi psikologis pelajar. Memaksa otak untuk melakukan perpindahan tugas secara cepat dan konstan dapat memicu ketegangan pada sistem saraf.
Sebuah studi dipimpin oleh Dr. Gloria Mark dari University of California, Irvine, menemukan bahwa orang yang bekerja dengan fokus yang sering terinterupsi mengalami tingkat stres dan frustrasi yang jauh lebih tinggi. Efeknya, tubuh merespons beban kognitif ini dengan memproduksi hormon stres seperti kortisol. Jadi, ketika seorang pelajar merasa sangat kelelahan (burnout), bisa jadi energi mental mereka terkuras habis bukan karena tugasnya yang sulit, melainkan karena otak yang kelelahan berpindah-pindah fokus.
Keterbatasan Biologis dan Kapasitas Kognitif Otak
Mengapa semua dampak buruk ini bisa terjadi? Jawabannya ada pada keterbatasan biologis sistem saraf kita. Otak manusia, khususnya bagian prefrontal cortex yang berfungsi memproses informasi kompleks, memiliki "bandwidth" atau kapasitas perhatian yang sangat terbatas.
Ketika pelajar memaksa sistem ini untuk memproses rangsangan visual, audio, dan tugas secara bersamaan, terjadilah cognitive overload (kelebihan beban kognitif). Keterbatasan kapasitas sistem saraf inilah yang menjadi jaminan mengapa memaksakan otak bekerja multitasking pasti akan mengorbankan kualitas pemahaman, memperlambat kinerja, dan memicu stres.
Kurangi Multitasking dan Beralih pada Single-Tasking
Melihat penjabaran beserta bukti-bukti dari penelitian neurosains di atas, sudah saatnya kita mengurangi multitasking. Dari menurunnya efisiensi, terhambatnya daya ingat, hingga ancaman burnout, kerugiannya terbukti jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Sebagai gantinya, mulailah menerapkan metode single-tasking: selesaikan satu tugas secara penuh sebelum beralih ke aktivitas lainnya. Singkirkan gadget saat sedang merangkum materi, atau matikan musik saat sedang mengerjakan tugas. Pendekatan ini tidak hanya akan meningkatkan prestasi akademis secara signifikan, tetapi juga menjaga kewarasan dan kesehatan mental di tengah padatnya tuntutan pendidikan.
