Penggunaan AI di Sekolah: Larang atau Rangkul dengan Bijak?

Siswa SMK Telkom Purwokerto
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rafif Arga Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini berkembang begitu cepat, termasuk di lingkungan sekolah. Sayangnya, respons sebagian guru justru melarang penggunaannya. Alasannya sederhana: takut siswa jadi malas berpikir sendiri.
Padahal, melarang total AI bukan solusi yang tepat. Selama digunakan dengan cara yang bertanggung jawab dan didukung aturan yang jelas, AI justru bisa menjadi alat bantu belajar yang sangat berharga.
Teman Belajar di Saat Buntu
Pernah nggak, bingung mengerjakan tugas sulit atau stuck mencari letak error pada kode di tengah malam, tapi sungkan menghubungi guru? Dalam situasi seperti ini, AI bisa membantu menjelaskan langkah-langkah penyelesaian dengan bahasa yang mudah dipahami. Tidak perlu menunggu sampai besok pagi untuk bertanya, belajar mandiri pun bisa langsung dilanjutkan.
Hal ini sejalan dengan panduan resmi UNESCO (2023) dalam “Guidance for Generative AI in Education and Research”, yang menyebutkan bahwa AI berpotensi mendukung personalized learning, pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa, lewat umpan balik langsung yang melatih pemahaman mandiri.
Bikin Cari Informasi Jauh Lebih Efisien
Coba bandingkan dengan mencari bahan tugas lewat Google: kita sering harus membuka banyak halaman web dan menyaring teks panjang hanya untuk menemukan intinya. Dengan bantuan AI, kita bisa meminta rangkuman poin-poin penting dari materi yang rumit. Waktu yang tersisa bisa lebih difokuskan untuk memahami isi pelajaran, bukan habis untuk mengumpulkan artikel.
Beberapa studi pemanfaatan teknologi pendidikan bahkan menunjukkan bahwa pemrosesan informasi berbasis AI dapat menghemat waktu pencarian bahan hingga 30 persen. Meski begitu, informasi dari AI tetap perlu dicek ulang lewat sumber terpercaya, karena AI juga bisa saja memberikan informasi yang kurang akurat.
Rasa Malas dan Copy-Paste Bisa Diatasi
Kekhawatiran bahwa AI memicu sikap malas dan copy-paste sebenarnya bisa diatasi lewat mekanisme pengawasan di sekolah. Sekolah bisa mewajibkan siswa menyerahkan draf awal dan riwayat perintah (prompt history) untuk menjaga transparansi. Langkah ini bisa diperkuat lagi dengan evaluasi lisan atau tanya jawab singkat di kelas.
Dengan cara ini, guru bisa memastikan siswa benar-benar memahami materi yang dikerjakan. Penjiplakan bisa dicegah, dan daya kritis siswa pun tetap terasah.
Bukan Soal Melarang, tapi Mengarahkan
Cepat atau lambat, teknologi AI akan terus berkembang dan menjadi hal yang lumrah di dunia kerja masa depan. Menolak kehadirannya di sekolah justru berisiko membuat siswa gagap teknologi dan tertinggal oleh zaman.
Karena itu, kuncinya bukan pelarangan, melainkan tiga hal: aturan sekolah yang tegas, pengawasan berbasis transparansi prompt, dan mekanisme penilaian yang interaktif. Dengan batasan dan sistem kontrol seperti ini, kehadiran AI tidak akan menurunkan kualitas berpikir siswa, justru bisa membentuk generasi yang lebih kritis, efisien, dan adaptif terhadap kemajuan teknologi.
