30 Tahun Terendam Tanpa Kejelasan: Warga Kampung Apung Dipaksa Akrab dengan Air

Jurnalis di kumparan, tinggal di sudut timur Jakarta Raya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Argya D Maheswara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak 1992, Kampung Teko atau biasa dikenal sebagai Kampung Apung harus merasakan genangan air yang terus menerus datang.
Genangan air ini pun lama kelamaan menjadi sebuah bencana yang permanen. Warga pun terpaksa harus akrab dengan genangan air dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Genangannya sendiri hari ini bukan sebatas genangan air yang dangkal melainkan genangan air dengan kedalaman lebih dari 2 meter.
Dengan luas kurang lebih 4 hektar serta dihuni oleh kurang lebih 200 Keluarga, Kampung Apung juga merupakan kawasan yang cukup padat. Kebanyakan warga di sini merupakan pemukiman tetap yang memang memiliki hak atas tanah dari bangunan rumahnya masing-masing.
Karena banjir permanen yang menggenang mencapai kedalaman 2 meter lebih yang mana ini menyebabkan rumah mereka semua tenggelam, mereka membangun rumah baru di atas atap rumah bagian lama. Bahannya sendiri ada yang permanen, ada juga yang hanya menggunakan balok balok kayu.
Pengurukan Jalan serta Pendirian Pabrik dan Gudang
Kejadian ini bermula saat adanya proses pengurukan di Jalan Raya Kapuk yang menyebabkan permukaan jalan lebih tinggi daripada rata-rata ketinggian tanah Kampung Apung. Hal ini yang diperkirakan menjadi titik mula terjadinya banjir permanen di Kampung Apung. Karena permukaan jalan lebih tinggi, air dari jalan akan turun dan tertampung di kawasan Kampung Apung.
Pengurukan jalan ini juga dilanjutkan pada tahun 2003, di mana pada tahun tersebut Jakarta dilanda banjir besar di beberapa titik. Kawasan Kapuk raya juga terdampak terutama pada kawasan Kampung Apung. Ini yang menyebabkan adanya proses pengurukan jalan kembali pada Jalan Raya Kapuk.
Faktor tersebut juga diperparah dengan adanya izin pendirian pabrik dan gudang di belakang Kampung Apung. Izin ini sendiri diberikan oleh Pemprov DKI Jakarta. Lahan yang kini menjadi pabrik dan gudang ini dulunya merupakan daerah resapan air yang tersisa di kawasan tersebut. Karena pabrik didirikan di sana, kawasan tersebut kehilangan daerah resapan, hal ini membuat tergenangnya Kampung Apung yang daratannya lebih rendah daripada kawasan pabrik.
Bang Jiih, sesepuh yang sudah 30 tahun lebih tinggal di Kampung Apung mengungkapkan bahwa tergenangnya Kampung Apung merupakan kelalaian pemerintah yang memberikan izin untuk berdirinya pabrik.
“Kami sebetulnya korban kelalaian pemerintah, karena pemerintah memberikan izin berdirinya pabrik dan gudang tanpa memikirkan kampung kami yang kecil ini kan”, Ungkapnya.
Keberadaan TPU Kapuk Teko
Perlu kita ketahui juga bahwa lahan yang kini tenggelam juga merupakan Tempat Pemakaman Umum yaitu TPU Kapuk Teko. Kini Tempat Pemakaman Umum tersebut kini tergenang air setinggi lebih dari 2 meter.
Di TPU Kapuk Teko sendiri terdapat kurang lebih 430 makam yang terendam. Pada 2015, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat juga sempat merencanakan perpindahan makam ke TPU Tegal Alur. Namun rencana ini belum juga terealisasi.
Pra Konstruksi Pasca Banjir Permanen
Banjir besar yang terjadi pada 2007 di beberapa titik di Jakarta juga menimbulkan dampak yang cukup parah pada saat itu bagi Kampung Apung. Menurut Bang Jiih, kejadian ini mendorong datangnya berbagai bantuan yang berasal dari beragam komunitas sosial, salah satunya adalah Yayasan Buddha Tzu Chi. Bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi sendiri merupakan bahan bangunan yang dapat digunakan untuk merekonstruksi Kampung Apung yang kini sudah mulai akrab disebut dengan Kampung Apung.
Bang Jiih juga menambahkan bahwa bantuan juga datang dari kalangan akademisi melalui seorang Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo. Pada awalnya beliau penasaran dengan keberadaan Kampung “Terapung” seperti kebanyakan rumah di Kalimantan, setelah itu ia mengirim asistennya untuk mencari informasi lebih lanjut. Beliau aktif meneliti di Kampung Apung bahkan hingga mendatangkan bantuan dari sebuah bank asing, Standard Chartered yang membangun jembatan cor dari Jalan Kapuk Raya menuju Kampung Apung.
“Waktu itu pak Imam datang bersama bule dari bank luar, Bank Standard Chartered. Lalu dibuatlah itu jembatan (sambil menunjuk ke arah jembatan depan Kampung Apung), tutur Bang Jiih.
Selain itu warga setempat juga membangun berbagai infrastruktur guna kepentingan masyarakat. Beberapa di antaranya adalah kamar mandi umum, jembatan bambu sampai memperbaiki sebuah sumur yang seharusnya sudah tenggelam di bawah permukaan air dengan meninggikan bibir sumur hingga berada di atas permukaan air. Air dari sumur tersebutlah yang digunakan warga guna kepentingan mandi, cuci dan kakus harian di kamar mandi umum.
“Ini sumur sengaja ditinggikan agar tidak terkena air yang tercemar, di sana juga ada jembatan, itu yang bangun saya sama para mahasiswa yang pernah penelitian di sini” ungkap Bang Jiih
Kondisi Air yang Tercemar
Dibangunnya pabrik dan gudang di belakang Kampung Apung yang mengakibatkan terendamnya Kampung Apung secara permanen juga mempengaruhi kualitas air di Kampung Apung. Warga Kampung Apung sendiri hari ini sudah tidak menggunakan air tanah lagi karena air tanah memiliki kualitas yang bahaya jika dikonsumsi, ini akibat tercemarnya air tanah sehingga air tanah memiliki bau dan rasa yang sangat aneh.
Pada akhirnya warga memilih untuk membeli air bersih yang dijual per jerigen. Ini merupakan upaya guna mencukupi kebutuhan air bersih. Di Kampung Apung, air bersih dihargai 6 Ribu Rupiah per jerigen. Jadi, bisa kita bayangkan andai kebutuhan air per keluarga sehari adalah 4 jerigen, maka satu keluarga harus mengeluarkan 24 Ribu Rupiah per harinya, hal ini semata dilakukan sekali lagi guna mencukupi kebutuhan air bersih.
Tanah yang Membal serta Banjir
Ada suatu hal unik yang disisakan oleh Bang Jiih sebagai sampel tanah di atas genangan air yang sengaja ia sisakan di depan rumahnya. Hal unik ini adalah keberadaan tanah yang membal, hal ini diakibatkan karena banyaknya sampah yang tertimbun cukup lama di atas genangan air.
Ini yang menyebabkan jika kita menginjak tanah tersebut maka rasanya tanah tersebut sangat membal layaknya trampolin. Kendati begitu, tanah tersebut tetap dapat ditumbuhi tanaman.
“Ini tanahnya membal tapi bisa tanami tumbuhan” jelas Bang Jiih
Kala hujan deras turun, Kampung Apung juga sering mengalami banjir akibat naiknya permukaan genangan. Hal ini terjadi beberapa kali dan cukup membuat warga harus terbiasa bergaul dengan air. Jika banjir terjadi, ketinggiannya bisa mencapai setengah meter dari permukaan tanah yang ditinggikan.
Upaya Normalisasi Kampung Apung
Pada tahun 2014 Pemprov DKI melalui Wali Kota Jakarta Barat saat itu, Burhanudin sudah melakukan upaya penyedotan air yang menggenangi Kampung Apung. Hasilnya air tersedot kering sampai makam-makam yang berada di TPU Kapuk Teko terlihat kembali.
Proses ini memakan waktu seminggu lamanya. Namun hal ini merupakan tindakan yang bisa dikatakan sia-sia. Karena Kampung Apung kembali terendam lagi kala hujan terus menerus mengguyur. Permasalahannya tetaplah sama yaitu daratan Kampung Apung yang lebih rendah daripada daratan sekitarnya.
