Konten dari Pengguna

Doa Mendoakan: Semoga Keajaiban Selalu Menyertaimu

Argya D Maheswara

Argya D Maheswara

Jurnalis di kumparan, tinggal di sudut timur Jakarta Raya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Argya D Maheswara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Unsplash/Kai Oberhauser
zoom-in-whitePerbesar
Unsplash/Kai Oberhauser

Doa kepada sesama manusia menjadi hal yang tak luput dari banyak momen dalam kehidupan. Pertemuan, perpisahan, perayaan, pernikahan, pemakaman, apapun itu biasanya kita selalu menambahkan doa untuk sesama manusia lain, minimal untuk saudara seiman dan sebangsa.

Namun, pernahkah kita berfikir doa apa yang sebenarnya penting untuk kita doakan dan kita didoakan oleh orang lain? Salah satu doa yang menurut saya menjadi salah satu esensi penting dalam berjalannya kehidupan adalah permohonan atas terjadinya keajaiban.

Ajaib, keajaiban, menerima keajaiban maupun melihat keajaiban rasanya menjadi hal yang seharusnya diharapkan oleh setiap manusia.

Dalam beberapa kesempatan saya beberapa kali menghadiri pernikahan, kelahiran, ulang tahun dan sebagainya dari saudara, teman maupun kerabat lainnya. Hal yang tak luput dan sudah saya lakukan dengan konsisten adalah mendoakan orang terkait agar selalu disertai keajaiban.

“Semoga keajaiban selalu menyertaimu,” ucap saya kepada setiap teman dan saudara yang ulang tahun, menikah atau sedang bahagia atas kelahiran buah hati.

Namun hal ini dirasa cukup aneh untuk sebagian orang. Beberapa orang sangat asing dengan doa yang saya selalu ucap dan harapkan untuk mereka.

“Kenapa tidak panjang umur? banyak rezeki? langgeng? jadi anak bermanfaat? dan sebagainya? kenapa harus keajaiban? memangnya kita kenapa sampai-sampai membutuhkan keajaiban?,” ujar sebagian orang.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin menjawab segala pertanyaan tersebut. Dalam hidup, tentu kita tak pernah sendiri melainkan selalu diawasi oleh pencipta, Tuhan atau apapun sebutannya. Bahkan, kehadiran kita di dunia juga tentu atas kehendaknya, bukan kita yang tiba-tiba hadir tanpa sebab.

Saya percaya bahwa setiap kehadiran kita memiliki alasan masing-masing yang Tuhan sisipkan untuk kita cari tau selama hidup berlangsung. Dalam proses tersebut, tentu kita memiliki banyak kemungkinan bahwa hidup berjalan tidak sesuai apa yang kita bayangkan bahkan bisa jadi lebih buruk dari yang kita bayangkan, syukur-syukur kalau hidup persis seperti yang kita bayangkan.

Pada proses inilah peran keajaiban berlangsung. Kenapa harus berharap keajaiban? Bukankah kita bisa mendapatkan segala hal dari usaha kita sendiri?

Dalam pengalaman saya, beberapa tradisi budaya, dan beberapa pakem teologis dikenal yang namanya kehendak manusia dan kehendak Tuhan. Kita memang harus berusaha, sekeras-kerasnya dan itu hal yang mutlak.

Namun tidak setiap usaha akan menghasilkan hasil sesuai yang kita bayangkan, seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa kita memiliki banyak kemungkinan bahwa hidup berjalan tidak sesuai apa yang kita bayangkan bahkan bisa jadi lebih buruk dari yang kita bayangkan.

Di sinilah doa yang saya ucap selama ini, yang saya doakan selama ini pada setiap orang saya harap bisa qobul.

“Kalau begitu kita tidak usah usaha dong, berharap saja pada keajaiban?,” tanya beberapa orang.

Inilah hal yang harus digaris bawahi bahwa berusaha, berjuang sekeras-kerasnya, semati-matian mungkin adalah wajib. Perjuangkan apapun yang kita impikan, kita mau dan kita cita-citakan.

Namun agar kita tidak menjadi gila atau stres ketika perjuangan kita sia-sia, maka kita perlu keajaiban. Di mana nantinya keajaiban bisa turun dalam berbagai bentuk, hal lain yang lebih baik, ketabahan, penghiburan dari Tuhan atau apapun.

Setidaknya kita tidak hidup dalam kesengsaraan yang disebabkan oleh gagalnya harapan kita sendiri.

Terakhir, saya juga ingin berbagi suatu hal mengenai keajaiban, pencapaian dan kesombongan. Dalam beberapa kesempatan, ada beberapa hal melekat pada diri saya yang dianggap sebagai suatu pencapaian oleh orang lain.

“Wah lu mah keren sudah A, bisa B, punya keahlian C, dan sebagainya,” ujar sebagian kecil lingkup saya.

Pada titik ini, saya menyadari bahwa saya tidak pernah mencapai apa-apa, menjadi apa-apa bahkan bisa apa-apa. Semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, titipan Tuhan dan cara Tuhan agar saya bermanfaat bagi beberapa orang yang membutuhkan saya.

Sebelumnya, ada beberapa masa di mana saya menganggap ada beberapa pencapaian kecil yang saya raih, hasilnya adalah kesombongan karena by default, manusia merasa bangga terhadap apa yang telah Ia capai dari kerja kerasnya.

Maka dari itu saat ini saya tidak pernah merasa saya mencapai apa-apa, menjadi apa-apa bahkan bisa apa-apa karena kerja keras saya. Meski demikian saya tetap bekerja sekeras mungkin, memanfaatkan apa yang Tuhan beri sebaik mungkin untuk tetap berguna, bedanya dulu saya merasa itu adalah pencapaian namun saat ini saya merasa bahwa ini adalah berkat dari keajaiban yang diberi Tuhan.

Dengan begitu, kesombongan-kesombongan dasar manusia setidaknya bisa mengelupas sedikit, demi sedikit.

Sekali lagi, ini pengalaman pribadi saya, saya takut merasa saya telah sombong ketika mengetik hal ini. Semoga Tuhan menyertai siapapun yang membaca tulisan ini dengan keajaiban. Amin.