Filsafat Sugih Tanpo Bondo Ala Sosrokartono

Jurnalis di kumparan, tinggal di sudut timur Jakarta Raya.
Tulisan dari Argya D Maheswara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita tentu mengenal Raden Ajeng Kartini, dia adalah gadis emas asal Jepara yang lahir dan tumbuh dengan berbagai gagasan besar akan perjuangan melawan feodalisme gender di Jawa. Namun, apakah sebagian dari kita mengenal Raden emas Panji Sosrokartono? dia merupakan kakak dari Kartini yang sangat menjadi inspirator dari Kartini itu sendiri.
Sosrokartono sendiri kelak dikenal juga sebagai guru filsafat dan spiritual dari Soekarno. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di eropa. Bahkan, ia sempat menjadi koresponden untuk New York Times yang melaporkan penyerahan blok poros kepada sekutu di Paris, Prancis.
Di masa tuanya, ia kembali ke tanah air dan menemui KH Hasyim Asy'ari di Jombang yang kelak menjadi pendiri Nahdlatul Ulama sebagai guru spiritualnya. Setelah itu ia menetap di bandung hingga akhir hayatnya. Di dia memulai berbagai pengobatan alternatif spiritual kepada siapapun. Itu sebabnya dialah yang dicari Soekarno karena Soekarno mengenalnya selama masa menjadi tahanan di penjara Banceuy,
Hidupnya mungkin kurang dikenal khalayak luas, namun dia merumuskan falsafah “Sugih Tanpo Bondo” yang mana itu menjadi hal yang sangat menarik untuk dibahas. Apa itu Sugih Tanpo Bondo?
Sebenarnya filsafat ini bukan sekadar satu kalimat melainkan tersusun atas beberapa kalimat yaitu,
Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Langgeng
Tanpo susah
Tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng
Begitulah kiranya filsafat hidup yang lengkap dirumuskan Sosrokartono. Jika kita lihat, filsafat tersebut sangat mengarahkan kita untuk tidak hidup dalam ambisi yang akan menelan kita sendiri. Mari kita mulai dari Sugih tanpo bondo, fraseyang berarti kaya tanpa harta tersebut bermakna bahwa sejatinya manusia dilahirkan ke dunia bukan untuk memiliki apa-apa dan kembali dengan apa-apa yang berbentuk materi,
Tuhan memberi kita sesuatu yang bersifat materi sekadar sebagai bekal menjalani kehidupan di dunia. Rasa tidak memiliki terhadap berbagai materi itulah yang menghindari kita dari kesombongan duniawi. Ini juga memperbesar jiwa berbagi yang kita miliki, itu disebabkan oleh dorongan perasaan kita untuk tidak merasa memiliki atas segala sesuatu.
Digdoyo tanpo aji, sebagai frase selanjutnya diartikan sebagai berkuasa tanpa alat. Ini bisa kita artikan dengan untuk berkuasa kiat tidak perlu menjatuhkan. Berapa banyak orang hari ini yang berambisi untuk berkuasa namun dengan menjatuhkan orang lain? Ini menjadikan sebuah paradoks bahwa surga bagi kita bisa jadi adalah neraka bagi orang lain.
Selanjutnya kita lanjutkan dengan gabungan Trimah mawi pasrah, Sepi pamrih, Tebih ajrih. Kita bisa mengerjakannya dengan cara menerima segala kemungkinan dalam hidup, bahkan kita harus siap hidup sebagaimana hal yang paling kita tidak sukai. Kita menjadi manusia segala musim yang sangat pasrah namun tetap hidup. Selanjutnya semangat kita bekerja juga adalah semangat berkarya, bukan semangat untuk menumpuk materi. Hal ini yang jika dikembangkan akan menjadi frase baru bahwa kaya bukanlah tujuan hidup. Jika hal ini sudah kita jiwai maka kita akan Tebih ajrih, jauh dari rasa takut.
Langgeng tanpo susah, tanpo seneng, membawa kita sebagai pribadi yang tetap tenang di dalam segala kondisi. Jika sedang senang maka kesenangan tersebut tidak boleh melampaui batas dan kita tetap berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Begitupun jika sedang sedih, kesedihan tidak boleh melarutkan kita untuk terpuruk terus-menerus. Justru kita harus bangkit dari kondisi tersebut dan kembali menjalani keseharian dengan biasa saja.
Terakhir, frasetersebut dilanjutkan dengan Anteng mantheng, sugeng jeneng. Makna yang bisa kita petik dari situ adalah kesungguhan dalam hidup yang wajib kita jalani. Kesadaran ini dimulai dari makna bahwa Tuhan menciptakan kita tidak main-main, melainkan Tuhan menciptakan kita sangat serius dan sungguh-sungguh sampai segalanya dipersiapkan untuk kita oleh-Nya. Begitulah makna filosofis dari filsafat Sugih Tanpo Bondo karya Sosrokartono. Ini juga mengajarkan kita untuk memandang sisi lain dari Kartini di mana secara spiritual, Sosrokartono adalah role model dari Kartini itu sendiri. Maka banyak gagasan Kartini yang sesungguhnya muncul dari pancingan sang kakak.
