Cerita Pelukis di Sentra Lukisan Pasar Baru: Tetap Gores Kuas Meski Sepi Pesanan

Bicara mengenai industri kreatif Jakarta, Sentra Lukisan di depan Pasar Baru dan Gedung Kesenian Jakarta menjadi salah satu denyut nadinya. Meski para pelukis mengakui ada penurunan pemesanan hingga omzet, mereka tak pernah berhenti menggores kuas di atas kanvas.
Salah satunya Suwito (58), yang sudah lebih dari 30 tahun menjadi pelukis di sana. Ketika ditemui kumparan di kiosnya, ia tengah menyelesaikan karikatur eks Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
"Saya terpanggil untuk mengabadikan beliau [dalam lukisan], ndilalahnya lukisan itu belum selesai, Pak Purbayanya sudah selesai. Nah ini nanti saya akan pajang di depan, anggap saja lah pameran," cerita sosok yang akrab disapa Mas Wit itu, membuka perbincangan dengan kumparan.
Dari urusan karikatur, obrolan pun bergeser ke topik yang lebih berat: perbedaan kondisi dulu dan sekarang. Mas Wit mulai bercerita, kondisi pesanan hingga omzetnya memang tengah menurun.
Ia menduga, efisiensi yang dilakukan pemerintah dengan meniadakan sejumlah acara seremonial di kementerian/lembaga menjadi salah satu penyebabnya. Tanpa hiruk pikuk acara seremonial itu, jumlah pesanan lukisan dan karikatur yang masuk ke kiosnya pun ikut menyusut.
"Peniadaan atau mengurangi acara entertain di kementrian, itu nyaris ditiadakan sehingga jasa seni kayak kami ini bukan turun drastis lagi, tapi sudah tiarap, nyungsep," ujarnya.
Sembari mengenang masa lampau, Mas Wit bercerita, ketika sentra ini masih ramai, terutama sebelum pandemi COVID-19 melanda pada 2020, ia bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi, semata dari hasil melukis.
Ia juga pernah merasakan era ketika pesanan lukisan atau karikatur datang silih berganti setiap hari. Namun, masa-masa itu kini tinggal kenangan.
"Dulu orang ngambil mesen, orang ngambil dapat pesanan, sekarang sebulan dua aja sudahlah, kenceng-kencengan doa saja," kata Mas Wit.
Adapun untuk saat ini, pesanan yang masih ia terima lebih banyak didominasi sektor perkantoran, pegawai swasta, dan segelintir kecil pejabat pemerintahan.
Tak jauh dari kios Mas Wit, kumparan juga menemui Djustru Abdul Madjis (65), pelukis lain yang telah berkarya di sentra tersebut sejak 1998. Senada dengan Mas Wit, Djustru turut bercerita soal penurunan pesanan dan omzet yang ia rasakan.
"Yang jelas sampai sekarang masih bertahan memang orang-orang yang masih bersyukur saja. Ada penurunan kalau dilihat dari jumlah pesanan," cerita Abdul.
Ia membandingkan, di masa sebelumnya ia masih bisa mengantongi penghasilan Rp 5 juta ke atas setiap bulan. Kini, untuk sekadar mendapatkan angka di bawah itu pun, ia mengaku kesulitan.
"Terasanya mulai dari instansi pemerintahan, TNI, Polri, biasanya pesanan pejabat resign, pensiun, sekarang enggak ada. Karena ada pemangkasan-pemangkasan [anggaran]" ujarnya.
Dari sisi omzet, Abdul mengaku penurunannya mencapai hingga 50 persen. Kondisi ini, menurutnya, bahkan membuatnya kesulitan membayar pajak atau retribusi kios yang ia tempati.
"Ini bayar pajak pun kita pengen lancar tapi tidak mampu," katanya.
Karena itu, ia berharap ada keringanan atau bantuan terkait pajak maupun retribusi dari pemerintah, khususnya lembaga yang membina keberlangsungan sentra lukisan tersebut.
