Kumparan Logo

Cerita Usaha Percetakan di Pasar Tebet Bertahan dari Gempuran Undangan Digital

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Percetakan Omega Print di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Percetakan Omega Print di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Dari lantai dasar Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, deretan mesin cetak dan tumpukan kertas warna-warni masih setia menemani hari-hari para pedagang.

Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra percetakan berbagai kebutuhan, mulai dari undangan pernikahan, brosur, hingga buku doa. Namun di balik hiruk pikuk itu, era digital diam-diam telah menggerogoti bisnis yang dulu berjaya ini.

Ronal (42), pemilik percetakan Omega Print di Pasar Tebet Barat, tak memungkiri jumlah pesanan hingga omzet usahanya kini menurun. Begitu pula dengan jumlah toko percetakan yang bertahan di kawasan itu, satu per satu mulai tutup.

Saat ditemui kumparan di tokonya, pemilik usaha percetakan yang telah berdiri sejak 2007 ini bercerita, dahulu lantai dasar Pasar Tebet Barat dipadati puluhan gerai percetakan. Kini, hanya tersisa sekitar lima hingga tujuh toko saja.

"Dulu di sini (lantai dasar) kurang lebih ada 10 gerai lebih ya, di sini sisa kurang lebih 5 atau 7 lagi, karena masanya," kata Ronal.

Cerita itu pun sejalan dengan pantauan kumparan pada Rabu (30/9), di mana hanya terlihat 5 toko percetakan yang masih buka di lantai dasar pasar tersebut. Sisanya kosong melompong, menjadi saksi bisu pergeseran zaman.

Ronal (42) yang merupakan pemilik percetakan Omega Print di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Soal jumlah pesanan, Ronal mengaku penurunan mulai terasa signifikan sejak pandemi COVID-19 melanda. Saat itu undangan digital tiba-tiba menjelma menjadi primadona baru.

"Dulu sama sekarang sangat berbeda, ya. Kalau dulu mungkin ramai, sekarang sudah tergerus sama masanya. Jadi mungkin yah 50-70 persen sisanya [pemesan]. Karena mungkin sudah banyak online ya, utamanya undangan digital, jadi ya lama-lama tergerus juga," cerita Ronal.

Ia menjelaskan, tren penurunan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak 2020 hingga sekarang, tanpa ada tanda-tanda membaik. Kini, jumlah pesanan yang datang ke tokonya pun tak menentu setiap bulannya.

"Per bulan tak menentu, [sekitar] 3 sampai 7 [pemesan], itu kecil sampai besar [pesanannya]" ujarnya.

Ilustrasi Undangan Pernikahan Foto: Nida Arfanni/Dokumen Pribadi

Bukan hanya jumlah pemesan yang menyusut, volume cetakan per pesanan pun ikut merosot tajam. Ronal mengenang, dulu satu pesanan bisa mencapai ribuan lembar cetakan, sementara sekarang kebanyakan hanya berkisar ratusan lembar saja.

"Biasanya bikin 1.000 [cetak] sekarang 500, sekarang banyaknya 100, 200, kalau dulu ribu-ribuan. Sekarang kebanyakan ratusan, dulu mah jarang banget 500, kebanyakan ribuan, paling dikit 500. Sekarang bahkan ada yang 20, 50," cerita Ronal.

Penurunan drastis ini pun berimbas langsung pada omzet usahanya, yang kini telah anjlok lebih dari separuh sejak 2020. "Lumayan signifikan, 50 persen lebih, dari 2020 ke sini itu, makin lama makin merosot," ujarnya, dengan nada yang menyiratkan keprihatinan atas nasib bisnis yang telah ia geluti belasan tahun.

Di tengah gempuran digitalisasi itu, Ronal mengaku belum memiliki toko online di platform marketplace untuk usaha percetakannya. Namun kini ia mulai aktif memasarkan jasa percetakannya lewat media sosial, berharap bisa menemukan celah bertahan di tengah arus zaman yang terus berubah.