Kumparan Logo

Peredaran Uang Tunai di India Tetap Tinggi Meski Transaksi Digital Terus Tumbuh

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mata uang Rupee. Foto: Denis.Vostrikov/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mata uang Rupee. Foto: Denis.Vostrikov/Shutterstock

Peredaran uang tunai di India tetap tinggi meski penggunaan pembayaran digital terus meningkat. Kondisi tersebut menjadi fenomena yang disebut sebagai ‘cash paradox’ atau paradoks uang tunai.

Dikutip dari BBC pada Selasa (15/9), Deputi Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Shirish Chandra Murmu mengatakan jumlah uang yang beredar terus tumbuh dengan laju dua digit meski porsi uang tunai dalam transaksi individu menurun seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital.

"Jumlah uang yang beredar terus tumbuh dengan laju dua digit, meskipun porsi uang tunai dalam transaksi individu menurun seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital. Kombinasi ini membuat permintaan uang tunai di masa depan semakin sulit diprediksi, sehingga mempersulit perencanaan kami terkait kapasitas produksi dan distribusi," kata Deputi Gubernur RBI Shirish Chandra Murmu.

Saat ini bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), mencatat ada 176 miliar lembar uang kertas yang beredar. RBI mencetak 28 sampai 30 miliar lembar uang baru dari enam pecahan setiap tahun dan menarik sekitar 21 miliar lembar uang yang sudah tidak layak edar.

Di sisi lain, transaksi digital melalui Unified Payments Interface (UPI) memang melonjak mendekati 1 miliar transaksi per hari.

Jumlah uang kertas yang beredar, menurut Murmu, sangat besar. Sebagai perbandingan, sekitar 56 miliar lembar dolar AS dan 30 miliar lembar uang euro beredar pada akhir tahun lalu.

Namun, perbandingan tersebut memiliki catatan. Jumlah lembar uang yang beredar di India sebagian dipengaruhi oleh tingginya proporsi pecahan kecil. Artinya, dibutuhkan lebih banyak lembar uang untuk menangani nilai transaksi yang sama.

Untuk menjawab cash paradox, Murmu juga menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan uang beredar. Menurutnya, uang yang beredar merupakan total nilai uang kertas dan koin fisik yang dimiliki masyarakat dan pelaku usaha, baik yang sedang digunakan maupun sekadar disimpan.

Adapun di India uang tunai sampai ke masyarakat melalui empat jalur utama yakni 19 kantor regional RBI, kantor cabang bank, lebih dari 250.000 ATM dan mesin penyalur uang tunai, serta jutaan business correspondent berupa agen lokal yang menyediakan layanan perbankan dasar di daerah pedesaan dan kota-kota kecil.

Uang Tunai Masih Dianggap Sebagai Instrumen Kedaulatan

Warga menyaksikan peluncuran roket orbital Skyroot Aerospace India, Vikram-1 dari Pusat Antariksa Satish Dhawan di Sriharikota, Andhra Pradesh, India, Sabtu (18/7/2026). Foto: R.Satish BABU / AFP

Saat ini RBI masih beberapa mengoperasikan pabrik kertasnya sendiri yakni empat percetakan uang dan pabrik tinta. Hal itu menjadi sebuah rantai pasok lengkap yang dibangun untuk menjaga kemandirian sembari mendorong penggunaan jaringan pembayaran instan terbesar di dunia.

Di samping itu, India juga sedang memulai menguji coba uang kertas berbahan polimer pecahan 10 dan 20 rupee yang pertama kali diusulkan satu dekade lalu. Adapun uang kertas polimer memang diklaim lebih awet sehingga bisa mengurangi biaya dan frekuensi penggantian uang yang sudah rusak.

Ekonom yang menjadi pemerhati keuangan India, Anirudh Tagat, mengatakan kondisi cash paradox memang menempatkan RBI dalam pilihan yang sulit. Pilihan itu adalah seberapa besar investasi yang harus dialokasikan untuk mengelola uang tunai dan seberapa besar untuk mendorong pembayaran digital.

Meski demikian, Tagat menilai RBI masih menjaga ketersediaan uang tunai sebagai suatu hal yang dapat diandalkan sebagai bagian dari kedaulatan moneter.

"RBI memiliki alasan kuat untuk mempertahankan uang tunai meskipun tersedia alternatif pembayaran digital baru," kata Tagat.

Jika nantinya transaksi digital melalui UPI mulai mengenakan biaya transaksi untuk pembayaran bernilai kecil, porsi penggunaan uang tunai menurutnya juga bisa kembali meningkat untuk fungsi pembayaran dan bukan hanya sebagai alat menyimpan uang.

Lebih lanjut, Tagat mengatakan fenomena pertumbuhan uang tunai yang berjalan beriringan dengan pembayaran digital sebenarnya juga terjadi di sejumlah negara lain. Hal itu terutama sejak krisis keuangan global 2007 sampai 2008.

"Cash paradox telah diteliti di berbagai negara dan India menjadi studi kasus yang unik karena skala pembayaran tunai dan non-tunainya sama-sama besar," ujar Tagat.

Menurut Tagat, uang tunai masih memiliki tiga fungsi yakni sebagai alat pembayaran, penyimpan nilai, dan perlindungan terhadap kondisi darurat. Dalam kerangka pemikiran tersebut, pembayaran digital baru menggantikan salah satu fungsi tersebut yaitu sebagai alat pembayaran.

Selain Tagat, David Humphrey dari Florida State University yang bersama Tanai Khiaonarong meneliti penggunaan uang tunai di 14 negara mengatakan adopsi pembayaran digital hanyalah salah satu dari banyaknya faktor yang memengaruhi jumlah uang tunai yang disimpan masyarakat.