Konten dari Pengguna

Menulis: Kreativitas, Identitas, dan Transformasi Akademik di AKKES dr. Soedjono

Ari Susilowati

Ari Susilowati

Dosen Akademi Kesehatan dr. Soedjono & Mahasiswa Program Doktor Fakultas Biologi UGM

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari Susilowati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto : Workshop penulisan ilmiah oleh pusat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (P3M) , foto milik Akademi Kesehatan dr. Seodjono Magelang
zoom-in-whitePerbesar
foto : Workshop penulisan ilmiah oleh pusat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (P3M) , foto milik Akademi Kesehatan dr. Seodjono Magelang

Menulis adalah keterampilan mendasar sekaligus kompleks yang dimiliki manusia. Ia bukan sekadar aktivitas teknis untuk menyusun huruf menjadi kata, atau kata menjadi kalimat, melainkan sebuah proses kreatif yang melibatkan pikiran, emosi, pengalaman, dan imajinasi. Melalui tulisan, manusia merekam sejarah, menyebarkan ilmu pengetahuan, membangun komunikasi, dan menyalurkan gagasan. Namun ironisnya, di banyak ruang kelas, menulis masih diperlakukan sebagai keterampilan sekunder, bahkan sering kali diabaikan.

David McVey (2008) dalam artikelnya Why all writing is creative writing menolak dikotomi antara “creative writing” dan “academic writing”. Baginya, semua tulisan adalah hasil kreativitas, karena setiap teks melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Bahkan instruksi teknis atau laporan ilmiah tetaplah sebuah karya kreatif, sebab ia menyusun simbol, makna, dan pengalaman menjadi sebuah teks baru. Perspektif ini membebaskan kita dari pandangan sempit bahwa hanya puisi atau cerpen yang pantas disebut “kreatif”.

Sementara itu, Steve Graham (2019) dalam Changing How Writing Is Taught menekankan dimensi lain: menulis adalah keterampilan kompleks yang tidak berkembang secara alami. Ia harus diajarkan dengan waktu yang cukup, strategi berbasis bukti, dan dukungan kebijakan. Sayangnya, banyak sekolah di seluruh dunia gagal memberikan instruksi menulis yang memadai. Guru sering kali tidak meluangkan waktu cukup, siswa jarang diminta menulis teks panjang, dan penggunaan teknologi digital masih minim. Akibatnya, menulis menjadi “prisoner of time” (NCOW, 2003), terjebak dalam kurikulum yang padat dan prioritas yang salah.

Dua perspektif ini—McVey dengan penekanan pada kreativitas, Graham dengan penekanan pada pedagogi—saling melengkapi. Keduanya menyampaikan pesan yang sama: menulis adalah keterampilan esensial yang terlalu penting untuk diabaikan.

Menulis sebagai Aktivitas Kreatif

McVey menegaskan bahwa menulis, dalam bentuk apa pun, adalah aktivitas kreatif. Bahkan laporan penelitian atau teks pembelajaran memiliki dimensi kreatif karena melibatkan penciptaan makna baru. Menulis, dengan demikian, adalah sarana ekspresi diri sekaligus penciptaan pengetahuan.

Kreativitas ini tidak hanya relevan dalam dunia sastra, tetapi juga dalam dunia akademik dan profesional. Laporan ilmiah, proposal bisnis, atau artikel opini semuanya membutuhkan kreativitas dalam struktur, bahasa, dan penyajian. Menulis adalah cara manusia mencipta dunia melalui simbol dan bahasa.

Menulis sebagai Identitas Intelektual

Menulis membantu seseorang menemukan suara intelektualnya. McVey menekankan bahwa kompetensi menulis akademik dapat melepaskan kreativitas dan membantu mahasiswa menemukan jati diri di atas kertas. Identitas ini penting karena tulisan mencerminkan cara berpikir, nilai, dan perspektif penulis.

Dalam dunia akademik, reputasi seseorang sering kali ditentukan oleh kualitas tulisannya. Artikel ilmiah, buku, atau opini publik menjadi bukti kontribusi intelektual yang membangun kredibilitas dan pengaruh. Menulis, dengan demikian, adalah sarana membangun identitas akademik yang berkelanjutan.

Menulis sebagai Sarana Berpikir Kritis

Menulis bukan hanya hasil dari proses berpikir, tetapi juga sarana untuk berpikir lebih dalam. Graham (2019) menekankan bahwa menulis adalah keterampilan kompleks yang membutuhkan waktu dan instruksi yang baik. Tanpa latihan yang memadai, siswa tidak akan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui menulis.

Ketika menulis, seseorang dipaksa untuk menyusun logika, memilih argumen, dan menghubungkan konsep. Proses ini menajamkan kemampuan analisis dan melatih berpikir kritis. Dengan demikian, menulis adalah bagian integral dari proses belajar dan pengembangan intelektual.

Menulis sebagai Kontribusi Sosial

McVey menegaskan bahwa bahkan tulisan utilitarian tetap kreatif karena menyusun simbol dan makna. Graham menambahkan bahwa menulis adalah keterampilan yang digunakan di sekolah, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. Tulisan dapat memengaruhi kebijakan, meningkatkan kesadaran, dan memberi solusi atas masalah nyata.

Artikel ilmiah, laporan penelitian, atau opini publik adalah bentuk kontribusi sosial yang nyata. Melalui tulisan, pengetahuan disebarkan, diskusi dibangun, dan perubahan sosial didorong. Menulis, dengan demikian, adalah sarana partisipasi dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan peradaban.

AKKES dr. Soedjono: Dari Wacana ke Aksi

Di Indonesia, urgensi menulis dan publikasi ilmiah mulai dijawab oleh berbagai institusi pendidikan tinggi. Salah satu contoh nyata adalah Akademi Kesehatan dr. Soedjono (AKKES) di Magelang. Pada 22 Oktober 2025, sebanyak 29 dosen dan tenaga kependidikan mengikuti Workshop Penulisan Ilmiah Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M).

Kegiatan ini bukan sekadar transfer pengetahuan teknis, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk menata ulang peran akademisi dalam mendukung tridharma perguruan tinggi. Target yang ditetapkan jelas: setiap dosen menghasilkan minimal satu publikasi penelitian dan satu publikasi pengabdian masyarakat per tahun. Tema prioritas yang diusung adalah Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS), isu kesehatan yang relevan dan berdampak luas. Target ini bukan sekadar angka, melainkan bagian dari visi besar menjadikan AKKES sebagai institusi unggul di tingkat nasional dan Asia Tenggara pada 2035.

Identitas Akademik Digital

Sesi kedua workshop membuka cakrawala baru: pentingnya membangun identitas akademik digital. Para peserta dipandu membuat akun di lima platform utama—Google Scholar, ResearchGate, ORCID, SINTA, dan Scopus. Pendampingan teknis dari tim P3M memastikan proses ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah awal membangun jejak ilmiah yang kredibel dan terukur.

Simulasi pencarian jurnal dengan teknik Boolean serta eksplorasi jurnal SINTA gratis menjadi momen reflektif: publikasi bukan hanya soal menulis, tetapi juga strategi dan literasi digital. Pengenalan Mendeley sebagai alat manajemen referensi menambah dimensi baru, memastikan bahwa menulis menjadi lebih terstruktur, efisien, dan kredibel.

Insentif Berbasis Luaran

Salah satu terobosan penting adalah skema insentif berbasis luaran. Dosen yang berhasil mempublikasikan karya di jurnal nasional terakreditasi atau jurnal internasional bereputasi akan mendapatkan penghargaan finansial. Bahkan karya non-jurnal seperti buku ajar, modul pengabdian, dan artikel opini di media massa turut diapresiasi. Ini adalah sinyal kuat bahwa institusi mulai mengakui keragaman kontribusi akademik.

Dari Workshop ke Ekosistem Akademi

Di akhir kegiatan, peserta menerima sertifikat resmi sebagai pengakuan kompetensi. Namun lebih dari itu, workshop ini adalah titik awal membangun ekosistem akademik yang produktif dan berdaya saing. Rencana tindak lanjut mencakup pendampingan intensif bagi dosen pemula, klinik penulisan manuskrip, dan pelatihan publikasi lanjutan.

Dengan semangat kolaboratif dan dukungan penuh dari pimpinan institusi, AKKES dr. Soedjono menegaskan posisinya bukan hanya sebagai penyelenggara pendidikan, tetapi sebagai kontributor aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Menulis sebagai Kebebasan Intelektual

McVey mengingatkan bahwa menulis adalah cara menemukan diri. Mahasiswa yang belajar menulis menemukan suara intelektualnya, sementara dosen yang produktif meneguhkan kepemimpinan akademiknya. Menulis memberi kebebasan untuk berpikir, berbicara, dan mencipta. Tulisan memungkinkan gagasan bertahan melampaui waktu, dibaca oleh generasi berikutnya, dan memberi pengaruh yang tak terbatas.

Menulis juga memberi kebebasan untuk melawan kebisuan. Dalam masyarakat yang penuh dengan suara dominan, tulisan dapat menjadi senjata bagi mereka yang ingin menyuarakan kebenaran. Dengan demikian, menulis adalah jalan menuju kebebasan intelektual dan kebermaknaan sosial.

Referensi

• McVey, D. (2008). Why all writing is creative writing. Innovations in Education and Teaching International, 45(3), 289–294. https://doi.org/10.1080/14703290802176204

• Graham, S. (2019). Changing How Writing Is Taught. Review of Research in Education, 43, 277–303. https://doi.org/10.3102/0091732X18821125#SDG3_KesehatanYangBaik

#SDG4_PendidikanBerkualitas

#PublikasiIlmiahBerdayaGuna

#IdentitasAkademikDigital

#RisetDanInovasiMagelang

#WorkshopP3M2025

#TransformasiAkademik