Konten dari Pengguna

Misteri Mengenai Yeti Terungkap Lewat Analisa DNA

Ari Ulandari

Ari Ulandari

Kadang kita tidak sadar bahwa kalimat-kalimat sederhana dapat sangat mempengaruhi hidup seseorang

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari Ulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Misteri mengenai sisa-sisa tulang belulang Yeti adalah sebuah kebohongan, berdasarkan hasil kajian terkini.

Dikutip dari mirror.co.uk bahwa sebanyak 8 spesimen, termasuk tulang-belulang, gigi, kulit, rambut dan contoh kotoran yang pernah ditemukan sebelumnya sesungguhnya berasal dari beruang dan salah satunya juga berasal dari anjing.

Sisa-sisa tubuh tersebut dikumpulkan dari pegunangan Himalaya dan dataran tinggi Tibet yang diklaim sebagai bukti keberdaan Yeti atau manusia salju.

Tes DNA membuktikan bahwa cerita mengenai keberadaan makhluk berbulu yang menyerupai manusia menghuni kawasan terpencil di Nepal dan Tibet adalah tidak benar.

Ketua kelompok ilmuwan, Dr Charlotte Lindqvist dari Universitas Buffalo, Amerika Serikat, mengatakan, “Penemuan kami ini menunjukkan secara nyata legenda keberadaan Yeti ternyata hanyalah berasal dari beruang yang pernah tingggal di daerah setempat dan hal ini menunjukkan bahwa kajian genetik dapat mengungkap misteri lainnya yang sejenis”.

Lindqvist menambahkan, “Jelas, sebagian besar legenda Yeti sebenarnya adalah tentang beruang.”

Kajian ini merupakan analisa terkini terhadap sejumlah sampel yang berkaitan dengan mitos makhluk seperti manusia seagaimana tertulis dalam jurnal Proceedings of The Royal Society B.

Legenda tentang keberadaan Yeti merupakan salah satu cerita rakyat yang berkembang di Nepal semenjak ratusan tahun yang lalu.

Cerita mengenai manusia salju pertama kali muncul dalam kebudayaan populer barat pada abad ke 19.

Ada banyak sekali penampakan makhluk dan jejak kaki yang diduga telah dibuat, didukung dengan foto buram dan video klip yang tidak stabil mengenai adanya Yeti.

Namun selama bertahun-tahun tidak ada seorangpun yang mampu menunjukkan bukti nyata bahwa Yeti benar-benar ada.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa beruang hitam Asia, beruang coklat Himalaya, dan beruang coklat Tibet merupakan bagian dari mitos tersebut.

Salah satu sampel yang dikaji oleh Dr Lindqvist bersama timnya merupakan barang peninggalan sebuah biara yang terdiri dari sebuah sisa kulit yang diawetkan dari bagian tangan atau kaki yeti.

Sampel lainnya berupa potongan tulang paha dari tubuh yang hancur dari salah satu makhluk yang ditemukan di dalam sebuah gua di Tibet.

Sampel kulit diketahui berasal dari beruang hitam Asia dan sampel tulang berasal dari beruang coklat Tibet.

Selain menelusuri mengenai mitos Yeti, para peneliti juga berhasil mengungkap informasi mengenai sejarah evolusi beruang Asia.

Dr Lindqvist mengatakan, “Beruang di kawasan ini dalam keadaan rentan dan terancam punah berdasarkan pandangan konservasi, namun tidak diketahui banyak informasi mengenai sejarah masa lalunya”.

“Beruang coklat Himalaya contohnya, sangat terancam punah”.

“Mengklarifikasi struktur populasi dan keberagaman genetik dapat membantu memperkirakan ukuran populasi dan menyusun strategi pengelolaan”.

Hasil analisa menunjukkan bahwa tidak sama seperti beruang coklat Tibet yang yang memilki kekerabatan dekat dengan beruang yang ada di Amerika dan Eurasia, beruang coklat Himalaya memiliki galur evolusi yang berbeda dari jenisnya.

Periode di masa glasier 650.000 tahun yang lalu kemungkinan telah menyebabkan beruang Himalaya terpisah dari keluarga intinya.

“Penelitian genetika lanjutan terhadap hewan-hewan langka ini mungkin dapat memberikan pencerahan terhadap sejarah lingkungan di kawasan tersebut. Hal ini tentunya juga akan memberikan pencerahan terhadap sejarah evolusi dunia, dan sampel Yeti telah ikut berkontribusi dalam pekerjaan kali ini, “ sambung Dr Lindqvist.