Konten dari Pengguna

Natuh: Pesan Pelestarian Alam dari Pertunjukan Teater Boneka

Ari Ulandari

Ari Ulandari

Kadang kita tidak sadar bahwa kalimat-kalimat sederhana dapat sangat mempengaruhi hidup seseorang

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari Ulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seni adalah bagian dari budaya manusia. Tanpa seni rasanya kehidupan ini akan sangat membosankan. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita selalu meluangkan waktu untuk menikmati berbagai karya seni.

Hal itulah yang aku lakukan kemarin sore, Minggu, 25 Maret 2018.

Mungkin ada sebagian dari sobat sekalian yang belum tahu kalau di lantai 8 West Mall Grand Indonesia ada sebuah ruang budaya yang dapat dinikmati oleh siapa saja secara gratis. Tempat itu benama ‘Galeri Indonesia Kaya’.

Sama seperti aku, pengunjung lain tampak antusias. Sobat sekalian bisa lihat dengan panjangnya antrian masuk menuju panggung utama. Studio pertunjukan hanya bisa menampung sekitar 150 orang saja, oleh karena itu sayang sekali teman-teman yang berjumpa denganku di meja registrasi tidak bisa masuk karena quota sudah terpenuhi.

Kali ini kelompok seniman yang terpilih untuk menampilkan karyanya di panggung Galeri Indonesia Kaya adalah Flying Balloons Puppet. Kalau ditelisik dari namanya tentu mereka akan membawakan pertunjukan wayang. Aku bisa bilang kalau ini adalah pertunjukan wayang modern.

Flying Balloons Puppet menampilkan sebuah pertunjukan berjudul “Natuh”. Apa itu Natuh dan kenapa diberi judul Natuh? Yuk simak terus ceritaku kali ini.

Sebelum pertunjukan, ada beberapa video mengenai Galeri Indonesia Kaya yang diputarkan di hadapan penonton. Tidak lupa juga sebuah video prosedur keselamatan.

Kemudian ...

Tiba-tiba studio menjadi gelap. Tidak ada yang bisa aku lihat. Lalu lampu sorot menerangi satu titik di panggung. Di sana, di atas sebuah gundukan yang merupakan representasi dari batu, berdiri sebuah boneka. Namanya To’ Bomoh. Dia adalah seorang saman (kita tentunya lebih akrab dengan sebutan ‘dukun’ ketimbang saman ya guys, hehe).

Aku mencoba menghayati apa yang ditampilkan di atas panggung. Boneka To’ Bomoh dan juga peran-peran lainnya dikendalikan masing-masing oleh 2 orang dalang yang berpakaian serba hitam seperti yang bisa kalian lihat di bawah ini. Pesanku jika ingin menghayati sebuah pertunjukan teater boneka, arahkan fokus kalian pada alur cerita dan gerakan sang boneka. Dengan kata lain abaikan sang dalang.

Suara To’ Bomoh yang melengking memulai ritual pemujaan arwah leluhur, Luta, membuatku merinding. Di panggung juga terlihat asap-asap. Mungkin itu kemenyan. Tidak lama kemudian muncul dua-beradik Taran dan Talah. Taran berjenis kelamin perempuan, sedang Talah laki-laki.

Dikisahkan bahwa ketiganya hidup dalam sebuah negeri bernama Natuh. Sebuah negeri yang sangat damai dan subur. Sebagai ungkapan rasa syukur, ketiganya selalu mengadakan ritual pemujaan terhadap Luta.

Suasana gelap berganti agak sedikit terang dan aku sangat menyukai suara musik khas yang terdengar. Aku sangat suka alunan dawai yang mengiringi adegan kehidupan damai Talah dan Taran. Para dalang tampak dengan lihai memainkan ‘wayang’ nya.

Adegan jenaka juga diperlihatkan tokoh Talah dengan cara ‘mencolek-colek’ salah satu penonton yang duduk persis di depan panggung. Para penonton tampak tertawa geli melihat sifat jahil tokoh Talah.

Adegan dramatis juga semakin menarik perhatian. Ketika Talah terlihat terbang, para dalang memberi efek ‘slow motion’ dan cahaya panggung diredupkan total menyisakan tokoh Talah yang tersorot cahaya lampu dalam gerakan lambatnya.

Berbagai ekspresi dan permainan dilakoni oleh Talah dan Taran di atas panggung. Kejenakaan keduanya memaksa penonton untuk tertawa.

Pertunjukan ‘Natuh’ tidak hanya mengandalkan gerakan-gerakan wayang boneka, tapi juga layar ‘shadow’ atau bayang-bayang seperti di bawah ini.

Kombinasi dari semua elemen panggung tersebut berhasil menjadikan ‘Natuh’ sebagai pentas yang menarik dan penuh makna tanpa perlu dilengkapi dengan narator sedikitpun.

Di tengah-tengah buaian alunan khas musik dari negeri ‘Natuh’, penonton dikagetkan dengan munculnya gemuruh. Oh Tuhan, ternyata itu adalah pertanda datangnya makhluk jahat yang ingin menghancurkan negeri ‘Natuh’. Dalam hal ini diperankan oleh seekor babi. Kemunculan babi tersebut disajikan dengan bantuan layar ‘shadow’.

Suasana semakin mencekam dan tampak To’ Bomoh, Taran, dan Talah mencoba meminta bantuan Luta.

Di saat itulah berganti adegan menjadi kemunculan makhluk yang bagiku cukup menyeramkan, apalagi jika ditonton dalam kondisi studio menjadi sangat gelap seperti saat itu. Makhluk putih besar dengan muka yang tidak bersahabat itu ternyata adalah Luta. Inilah dia penampakan Luta dalam pentas ‘Natuh’.

Di atas panggung, Luta tampak menghancurkan negeri ‘Natuh’ hingga tak bersisa. Seolah-olah jahat ya guys. Tenang! Itu adalah cara Luta untuk memulihkan kembali negeri ‘Natuh’ yang telah dirusak oleh makhluk tidak bertanggung jawab.

Luta kemudian membaringkan tubuhnya di atas panggung. Dari dalam tubuh Luta keluar beberapa jenis tumbuh-tumbuhan. Well, aku hanya bisa tertawa geli saja membayangkan sebenarnya benda apa yang Flying Balloons Puppet gunakan sebagai atribut tumbuhan yang tumbuh dari dalam tubuh Luta. Hehe, maklum aku duduk di pojokan penonton. Kendati demikian adegan ini sangat menghiburku.

Alur cerita kemudian kembali didominasi oleh alunan khas musik negeri ‘Natuh’ dan layar ‘shadow’ yang menceritakan proses pemulihan negeri tersebut seperti sedia kala.

Sembari pertunjukan ditutup dengan beberapa adegan yang terlihat dari layar ‘shadow’, anggota tim Flying Balloons Puppet membagikan sejumlah bingkisan kecil kepada para penonton. Tidak semua penonton mendapat bingkisan tersebut. Beruntung, aku bisa memilikinya yang ternyata adalah sebutir benih bunga matahari. Ini dia bingkisan lucu tersebut. Perhatian: biji yang aku dapat belum sempat aku semai. Adapun tumbuhan kecil di samping kantung adalah koleksi pribadiku.

“Satu tunas aja yang kalian rawat itu menjaga satu kehidupan, satu harapan, satu cita-cita, dan satu kenangan. Itu rumah untuk siapa aja,” ucap Rangga sang founder Flying Balloons Puppet.

Pertunjukan ini mendapat tepuk tangan gemuruh dari para penonton. Tampak sejumlah orang-orang dari negara tetangga yang ikut duduk di barisan penonton. Semuanya tampak senang menyaksikan pentas ‘Natuh’.

“Selamat untuk Natuh ... saya tidak punya pertanyaan untuk pementasan seindah ini,” ungkap Meutia diiringi tepuk tangan penonton lainnya.

“Saya agak amazed dengan pementasan teater boneka karena tanpa kata-kata teman-teman bisa bercerita dengan luar biasa indahnya. Tadi, saya sempat nangis juga bagian memeluk si mbok-nya itu [To’ Bomoh dan Taran]. Saya mungkin secara pribadi saya suka sekali dengan seni pertunjukan. Saya berterima kasih juga buat Galeri Indonesia Kaya yang telah menampilkan seniman-seniman yang luar biasa hari minggu ini. Terima kasih,” lanjutnya.

Ini lho guys adegan peluk-pelukan yang dimaksud Mbak Meutia di atas.

Bukan hanya dipersilakan untuk berkomentar, para penonton juga diberi kesempatan untuk mencoba menjadi dalang boneka. Hasilnya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tampak teman-teman yang mencoba menggerakkan boneka wayang mengalami kesusahan.

Hal ini dikarenakan untuk menggerakkan satu boneka secara dinamis dan ‘halus’ diperlukan kekompakan antara kedua dalang. Selain itu juga tentunya kemahiran dalam menggerakkan bagian-bagian tubuh boneka sehingga tercipta ekpresi yang tajam.

Berikut potret ketika teman-teman mencoba menjadi dalang boneka.

Aku merasa semakin kagum ketika diceritakan mengenai fakta bahwa musik indah yang kami semua nikmati sebelumnya dihasilkan oleh paduan alat musik yang diciptakan khusus oleh Lutfan untuk mengiringi pentas Natuh. Seperti ini rangkaian alat musik yang disebuat ‘Cak Jeng’ tersebut.

“Dalam imajinasi saya, Natuh itu memiliki budaya sendiri, musik sendiri, dan mungkin juga kehidupan sendiri. Oleh karena itu saya ingin sekali menciptakan musik khusus yang hanya bisa kalian dengan di Natuh,” ujar Lutfan.

Selain musik, Flying Balloons Puppet juga menghadirkan tata lampunya sendiri. Padahal jika mau mereka bisa menggunakan pengaturan cahaya yang disediakan oleh Galeri Indonesia Kaya.

“Sungguh susah untuk menciptakan tata lampu yang tidak terlalu menor, tapi cantik. Dan akhirnya formulanya ditemukan,” jelas Nano mewakili kelompok seni yang sudah berdiri selama 3 tahun dan 6 kali melakukan pementasan ini.

Flying Ballons Puppet juga menceritakan bagaimana perjuangan untuk menciptakan sebuah boneka yang cocok untuk pementasan mereka. Proses kreatif itulah yang menurut mereka merupakan salah satu pembeda kelompoknya dengan kelompok seni sejenis.

Untuk pembuatan boneka sendiri mereka sudah pernah mencoba berbagai bahan seperti paralon, busa hati, dan bahkan rotan hingga akhirnya terbentuk boneka yang seperti sekarang ini. Jadi guys, bahkan bonekanya saja mereka buat sendiri alias original karya seni mereka. Kurang kreatif apalagi coba kan!

“Rasanya yang lain.... ada lucunya, ada harunya, ada ketegangannya. Itu yang saya rasakan juga di sini,” terang Barkah sang mentor yang ikut duduk di bangku penonton selama pertunjukan .

Ruang berkarya seperti yang disediakan oleh Galeri Indonesia Kaya sungguh sangat penting keberadaannya. Kita sudah sama-sama menyaksikan begitu positifnya kegiatan seni bagi manusia, khususnya generasi muda.

“Teater boneka mengajarkan kami untuk mengontrol diri ... kami menahan ekspresi kami .. kita bermain tidak boleh memberikan fokus lebih ke pemain, tetapi harus fokusnya ke boneka. Berbagi!” ungkap Rangga saat ditanya mengapa memilih teater boneka untuk digeluti.

“Dari dulu memang tertarik dengan seni pertunjukan, tapi saya orangnya pemalu dan teater boneka itu tidak memunculkan diri saya, tapi saya mentransfer emosi dan energi saya ke boneka dan teater boneka itu sejauh ini adalah seni pertunjukan yang cocok untuk saya sendiri, pribadi,“ timpal Meida yang pernah belajar ilmu politik, namun juga menjadi pelaku seni.

Sebelum benar-benar meninggalkan panggung utama Galeri Indonesia Kaya, para penonton dipersilakan untuk mencoba berbagai atribut pementasan. Tampak ada yang berswafoto dengan para boneka wayang.

Ada juga yang mencoba memainkan layar ‘shadow’.

Ketika aku melihat para pengunjung memainkan pernak-pernik layar ‘shadow’, aku teringat akan seni wayang kulit tradisional. Ingatanku pun melayang pada seorang kenalan yang sudah cukup sepuh menceritakan bahwa dirinya pernah diundang secara khusus ke benua Amerika untuk memberikan pertunjukan wayang.

Di situ imajinasiku berkolaborasi. Aku berpikir sebenarnya setiap budaya itu indah dan akan semakin indah jika ditambahkan unsur kreativitas, seperti yang dilakukan oleh Flying Ballons Puppet dalam Natuh.

Nah, sampai di sini apakah sobat sudah tahu jawaban pertanyaanku di awal mengenai kenapa judul pementasan kali ini adalah ‘Natuh’. Jawabannya sederhana guys. Coba saja kalian baca kata tersebut dari belakang ke depan. Itulah jawabannya. Jika masih belum ‘ngeh’ juga, silahkan hubungi tetangga terdekat untuk meminta bantuan, haha. Cocok banget kan judul dengan alur cerita pentasnya.

Aku semakin bangga dengan kelompok anak muda ini yang mampu membawa pesan lestari dalam bentuk pertunjukan seni yang menghibur. Aku tersadar bahwa ‘Natuh’ sangat pas untuk dipentaskan sesaat setelah manusia di seluruh jagat ini merayakan Earth Hour Day yang jatuh pada tanggal 24 Maret lalu. Benar sekali kata Rangga, “Satu tunas saja yang kalian rawat itu menjaga satu kehidupan, satu harapan, satu cita-cita, dan satu kenangan. Itu rumah untuk siapa aja”.

Bagi sobat sekalian yang ingin menemani aku nonton pementasan seni lainnya di Galeri Indonesia Kaya, silahkan segera klik di sini.

Lakukan pemesanan tempat agar bisa ikut nonton pementasan “King” yang akan dibawakan oleh Maha Dance Papua pada tanggal 31 Maret 2018 pukul 15.00 WIB. Tenang saja semua ini gratis, tis, tis!

Salam lestari, salam budaya sobatku semua!