Konten dari Pengguna

Nikahsirri.com: Lelang Perawan dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Ari Ulandari

Ari Ulandari

Kadang kita tidak sadar bahwa kalimat-kalimat sederhana dapat sangat mempengaruhi hidup seseorang

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari Ulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hebohnya pemberitaan mengenai situs nikahsirri.com telah menyentil rasa penasaran kita akan berbagai aspek kehidupan sosial yang luput dari perhatian. Salah satunya adalah ‘lelang perawan’ yang disampaikan oleh Aris Wahyudi, pendiri situs nikahsirri.com, sebagai salah satu tradisi bangsa yang dapat ditelusuri lewat Novel Ronggeng Dukuh Paruk karangan Ahmad Tohari.

Pernyataan tersebut kemudian mengundang tanya dalam benak kita. Apakah benar ‘lelang perawan’ merupakan bagian dari tradisi Indonesia? Topik itulah yang akan aku share pada Sobat Kumparan kali ini.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tentang seorang gadis bernama Srintil. Gadis terebut didaulat menjadi seorang ronggeng di sebuah desa yang disebut Dukuh Paruk. Kedudukan sebagai seorang ronggeng di daerah tersebut akan memberikan status sosial yang tinggi bagi pelakunya. Seorang ronggeng akan menari di depan umum dan pria manapun yang mampu memberikan bayaran tertinggi akan berkesempatan untuk melakukan hubungan seksual dengan sang ronggeng. Tradisi tersebut tidak dipandang rendah bahkan masyarakat menganggap hal tersebut bagian dari ritual desa. Sang ronggeng sendiri dijadikan perlambang kesuburan dan denyut kehidupan desa. Kehidupan Dukuh Paruk beserta ronggengnya kemudian harus berakhir menyusul terjadinya prahara politik tahun 1965. Tradisi ini dianggap dekat dengan PKI sehingga harus dilenyapkan.

Novel ini adalah novel menarik yang kini telah diterjemahkan dalam 5 bahasa dunia. Selain itu cerita tersebut juga telah mengilhami lahirnya sejumlah karya film, diantaranya adalah film berjudul ‘Sang Penari.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah ‘lelang perawan’ dalam novel tersebut adalah kisah nyata?

Menurut penuturan pengarang novel tersebut, Ahmad Tohari, sebagaimana dilansir oleh Metro TV News bahwa novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah karya fiksi. Beliau mengatakan bahwa ia sempat berkenalan dengan seorang pria yang mengaku berasal dari sebuah daerah bernama Dukuh Paruk. Adapun motivasi terkuat dari penulisan novel tersebut adalah kegalauan Ahmad Tohari akan hilangnya sebuah budaya dan masyarakat akibat sebuah prahara politik.

Well, sampai di sini kita tahu bahwa novel tersebut adalah sebuah karya fiksi.

Aku ingin mengutip juga pendapat Indra K.S yang dilansir oleh Wawasan News yang mengatakan bahwa ada perbedaan syarat untuk menjadi ronggeng antara kisah dalam drama Sulasih Sulandana karya Aming Widiyono dengan kisah Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam drama Sulasih Sulandana, dikatakan bahwa syarat mnjadi ronggeng haruslah seorang perawan ting-ting, sedangkan dalam Ronggeng Dukuh Paruk, syarat menjadi ronggeng adalah dengan prosesi buka kelambu atau ‘lelang perawan’. Lebih lanjut Indra mengungkapkan pandangannya bahwa belum jelas apakah tradisi ‘buka kelambu’ adalah kisah nyata atau hanya sekedar imajinasi Ahmad Tohari. Pada penjelasan di atas sudah disebutkan bahwa Ahmad Tohari sendiri mengatakan bahwa novelnya tersebut adalah kisah fiktif.

Kenyataannya pada saat ini tidak dikenal adanya tradisi ‘lelang perawan’ di kalangan penari ronggeng asal Banyumas. Indra berpendapat bahwa sekalipun jika benar ada tradisi semacam itu maka kemungkinan hal tersebut terjadi sebelum datangnya islam ke daerah tersebut. Semenjak kedatangan islam maka diperkenalkan istilah lengger, yaitu penari laki-laki yang didandani untuk melakukan lakon ronggeng.

Well, jadi sudah sedikit tercerahkan ya guys bahwa tradisi ‘lelang perawan’ hanya punya 2 kemungkinan. Pertama, tradisi itu tidak pernah ada di Indonesia. Kedua, tradisi itu ada namun kemudian menghilang setelah kedatangan islam. So, sebaiknya kita tidak ikut-ikutan jalan pemikiran Aris Wahyudi sang pendiri nikahsirri.com yang mengatakan bahwa tradisi ‘lelang perawan’ merupakan bagian dari tradisi nusantara.