kumparan
KONTEN PENGGUNA
14 Februari 2020 12:34

6 Tips Fotografi saat Traveling ala Fotografer Profesional

Traveling dan fotografi adalah dua hal yang tak terpisahkan sampai kapanpun. Apalagi jika Anda sedang menekuni profesi sebagai travel writer maupun travel fotografer. Bagi sebagian orang mungkin lebih memilih foto-foto yang indah sebagai kenang-kenangan mereka setelah selesai traveling.
ADVERTISEMENT
Dibandingkan dengan mengumpulkan oleh-oleh khas dari satu daerah. Saya setuju, karena foto yang indah mampu dinikmati lebih banyak orang daripada oleh-oleh yang hanya bisa dinikmati oleh beberapa orang saja.
mohammad-alizade-720632-unsplash_rez.jpeg
Take photo like a pro? why not? (Image/Unsplash.com)
Untuk itu, diperlukan kiat-kiat agar foto yang dihasilkan menjadi lebih keren. Suatu kebanggaan juga apabila foto yang kita bagikan di blog atau sosial media dapat menjadi inspirasi orang lain untuk memulai traveling.
Lalu apa saja kiat-kiat tersebut? Tenang, untuk menciptakan sebuah foto yang menarik tidak selalu memerlukan peralatan yang mahal dan canggih. Satu-satunya peralatan yang paling mahal itu adalah otak dan tangan kita yang dianugerahkan oleh Tuhan secara gratis.
Berikut adalah tips fotografi traveling sederhana untuk membuat foto liburan agar lebih menarik. Bagi saya, pertama-tama yang harus dipersiapkan sebelum memulai perjalanan adalah,
ADVERTISEMENT

Riset Destinasi Traveling

Berbagai cara dapat dilakukan untuk riset tentang lokasi yang akan kita kunjungi. Cara Saya yang paling favorit adalah riset melalui Instagram dan Google Image Search, atau bahkan melalui video di Youtube. Cukup mengetik kata kunci dan akan banyak hasil pencarian gambar bertebaran.
joao-silas-74207-unsplash_rez.jpeg
Lakukan riset sederhana tentang destinasi kamu (Image/Unsplash.com)
Gunakan hasil pencarian untuk virtual research tentang lokasi yang akan menjadi tujuan traveling. Mungkin dari banyak hasil pencarian tersebut akan menampilkan foto yang “mirip” , baik dari segi angle maupun komposisi. Tidak menjadi masalah, gunakan imajinasi untuk merencanakan foto yang akan dibuat dengan versi Anda.
Setelah nama destinasi tujuan ditemukan, riset juga aspek non teknis lain seperti cuaca, kapan cahaya terbaik untuk memotret, kapan destinasi tersebut ramai atau sepi, atraksi apa saja yang bisa ditemukan di tempat tersebut.
ADVERTISEMENT
Jika ingin mendapatkan informasi yang lebih dalam, jangan sungkan untuk menjalin komunikasi dengan bertanya kepada fotografer atau kreator foto lain. Jika beruntung Anda bisa mendapat insight yang berguna untuk perjalanan nantinya.
Kebiasaan saya setelah riset adalah menyusun checklist atau wishlist tentang apa saja yang akan saya potret. Mulai dari foto yang paling umum, hingga foto yang lebih detail guna keperluan bercerita nantinya. Wishlist bisa berupa catatan di ponsel, kertas kecil atau dimanapun yang anda inginkan. Bagi saya yang seorang pelupa wishlist ini sangat membantu untuk tetap on the track.
Mengeksplorasi suatu destinasi tanpa perencanaan memang memiliki tempat dan tantangan tersendiri. Tetapi mempersiapkan kegiatan memotret dengan riset sebelumnya akan sangat menghemat waktu. Sehingga Anda bisa dengan leluasa menghasilkan foto terbaik ketika sudah berada di sana, dan dapat memaksimalkan waktu.
ADVERTISEMENT

Selalu Bangun Lebih Pagi dan Pulang Setelah Gelap

Bersiap-siaplah rejekimu dipatok ayam wahai para bangsawan. Bangsawan disini adalah akronim pelesetan dalam bahasa Jawa yang bermakna bangsa tangi awan, atau sekelompok orang yang suka bangun kesiangan. Lalu apa hubungannya ungkapan tersebut dengan kiat memperindah foto traveling?
Semua orang tahu jika fotografi adalah kegiatan melukis dengan cahaya sebagai modal utama. Sedangkan cahaya terbaik memiliki rentang waktu tersendiri pada setiap harinya. Sunrise dan sunset adalah waktu yang paling umum untuk memotret. Selain itu ada istilah Golden Hour dan Blue Hour.
Ilustrasi, Sunset, Matahari Terbenam, Ngabuburit, Pantai Losari
Warga menanti saat berbuka puasa di pelataran Masjid Terapung Amirul Mukminin, Anjungan Pantai Losari. Foto: Antara/Abriawan Abhe
Golden hour adalah rentang waktu satu jam setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Pada sudut kemiringan tertentu, matahari menghasilkan cahaya keemasan yang lembut dengan bayangan yang memanjakan mata.
ADVERTISEMENT
Sedangkan blue hour adalah rentang waktu satu jam sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam. Dimana warna langit masih biru pekat dan lampu-lampu perkotaan masih menyala.
Bangun dan datang lebih awal juga membantu menghasilkan foto lebih baik. Semakin sedikit turis dan fotografer yang sudah datang, semakin hasil foto akan mendekati kualitas untuk dipajang sebagai foto kalender atau kartu pos.
david-emrich-1623919-unsplash_rez.jpeg
Datang lebih awal dari pengunjung lain berpotensi kamu bisa mendapat foto yang 'bersih' (Image/Unsplash.com)
Tapi jangan juga terlalu terpatok dengan rentang waktu tersebut, bukan berarti apabila tidak pada rentang waktu tersebut, tidak ada foto bagus yang bisa dihasilkan. Semua kembali kepada proses kreatif masing-masing.

Berinteraksi Dengan Penduduk Lokal

Bagi Saya, ini bagian paling favorit sekaligus paling sulit. Sebagai seorang introvert, agak sulit untuk membuka interaksi dengan orang yang bahkan tidak kita kenal sebelumnya. Apalagi pikiran di dalam kepala selalu berkata, “bagaimana ya respons mereka terhadap orang asing yang tau-tau sok akrab?”. Well, tidak jawaban yang paling tepat selain mencobanya. Iya, mencoba untuk berinteraksi dengan orang lokal yang belum kita kenal.
com-Ilustrasi petani.
com-Ilustrasi petani. Foto: Shutterstock
Caranya ada beberapa, biasanya Saya menggunakan kiat-kiat sebagai berikut,
ADVERTISEMENT
  • Kalungkan kamera di leher, sebagai identitas bahwa kamu seorang fotografer.
  • Pasang senyum yang ramah dan sopan.
  • Mulai menyapa dengan sapaan yang sopan, menggunakan sapaan khas daerah lokal lebih bagus.
  • Bangun obrolan yang bersifat umum atau seputar kegiatan yang sedang mereka lakukan. Misalnya basa basi tentang cuaca, atau proses bertani, menangkap ikan. Ungkapan bernada apresiasi menurut saya adalah ide yang cukup bagus. Misalkan, “panennya melimpah ruah ya Bu, Alhamdulillah”, atau “besar kali ikan ini bang, bisa cukup untuk makan satu kampung ini?”.
  • Tipikal orang Indonesia biasanya gemar bertanya balik. Saat itu jawab juga dengan nada sopan dan ramah, jauh dari kata-kata bernada jumawa, dan biarkan pembicaraan mengalir.
  • Proses setelahnya akan lebih mudah, seperti meminta foto, selfie, atau bahkan bila beruntung bisa diajak makan siang atau sekedar dibuatkan kopi. Asyik kan?
ADVERTISEMENT
Bagi saya apabila mendapat pengalaman seperti ini akan semakin menambah value dari cerita perjalanan yang akan kita tulis nantinya. Lanjut ke tips fotografi traveling berikutnya yaitu,

Perhatikan Komposisi (Rule of Thirds / Golden Rules)

Salah satu teknik fotografi paling dasar adalah Rule of Thirds. Dimana frame dibagi menjadi 3 bagian vertikal dan horizontal. Memahami Rule of Thirds dapat membantu menciptakan komposisi yang seimbang dalam sebuah foto.
Cara yang paling mudah menerapkan Rule of Thirds adalah dengan mengaktifkan fitur Grid Overlay pada kamera. Setelah itu tempatkan obyek yang akan menjadi point of interest di sepertiga bagian frame. Contohnya seperti meletakkan obyek manusia pada sepertiga garis di bagian kiri atau kanan frame.
ADVERTISEMENT
Bisa juga meletakkan cakrawala atau horison pada garis sepertiga di bagian bawah, alih-alih meletakkannya tepat di tengah sehingga nampak seperti memotong frame. Penting juga untuk menjaga agar garis horison tetap lurus, tidak miring.
Setelah memahami Rule of Thirds, secara tidak langsung akan mendorong untuk berfikir seperti, “obyek apa yang akan menjadi point of interest yang utama sebelum memotret”. Rule of Thirds adalah teknik fotografi yang sudah ada sejak lama. Seiring berkembangnya ilmu dan trend tentang fotografi, Rule of Thirds juga kerap sengaja di langgar. Tentu saja untuk eksperimen atau eksplorasi gaya fotografi baru. Sah-sah saja menurut Saya, tidak ada yang keliru dalam dunia seni. Tetapi saran saya, tetap pelajari dasar Rule of Thirds untuk pengetahuan, setelah itu silahkan kembangkan sesuai selera.
ADVERTISEMENT

Memotret Dengan Mode Manual & Pahami Segitiga Exposure

Memang fitur AUTO pada kamera keluaran terbaru sudah cukup untuk membuat foto yang bagus, tetapi untuk menghasilkan foto yang lebih “mengesankan” Anda perlu mulai menggunakan mode manual.
Ilustrasi Danau Tahoe
Ilustrasi Danau Tahoe Foto: Pixabay
Setting manual pada kamera pada dasarnya meliputi 3 aspek penting yang utama atau yang biasa disebut Segitiga Eksposur. Pahami setting manual dasar pada kamera dan Segitiga Eksposur. Dengan menguasai manual mode pada fotografi, akan lebih banyak sentuhan kreatifitas pada foto-foto yang dihasilkan. Segitiga exposur adalah salah satu bagian terpenting dalam tips fotografi traveling.

Tambahkan Elemen Manusia

Bukan, bukan swa foto yang memperlihatkan wajah dengan senyuman lebar di setiap foto yang Anda hasilkan. Elemen manusia yang saya maksud adalah bentuk manusia yang bisa mewakili diri sekaligus emosi orang yang menikmati foto tersebut. Coba tengok style foto #followmeto dari Murad Osman. Gaya foto miliknya sempat menjadi trend baru di Instagram. Menurut Saya karena penikmat foto dapat sejenak berimajinasi menjadi orang yang menggandeng atau digandeng pada set lokasi foto diambil. Sangat menarik sih konsepnya, selain model perempuannya juga selalu “menarik”.
ADVERTISEMENT
Mendapatkan foto yang indah adalah sebuah kepuasan tersendiri dalam setiap perjalanan. Namun kurang bijaksana juga apabila terlalu terobsesi akan sebuah hasil foto semata. Sehingga menjadi lupa akan makna perjalanan yang sebenarnya. Bagi saya merasakan pengalaman eskapis dan eksplorasi ke tempat baru adalah prioritas utama. Menyerap budaya, kearifan, pelajaran, dan nilai-nilai lokal untuk diceritakan adalah kewajiban berikutnya. Pintar-pintarlah dalam mengkolaborasikan kedua hal tersebut agar perjalanan terasa lebih menyenangkan.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan