Menyambut Wacana Belajar Mendalam: Dari Mindset ke Sistem

Mahasiswa Magister Psikologi Unair.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Arief Rahman Nur Fadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak awal menjabat, salah satu kebijakan yang paling santer digaungkan pada masa pemerintahan Abdul Mu’ti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) adalah deep learning. Sang Menteri menerangkan bahwa deep, mindful, meaningful, dan joyful learning (DMMJ-L) bukan kurikulum, melainkan pendekatan belajar untuk melengkapi Kurikulum Merdeka.
Wacana integrasi deep learning bukannya tanpa sebab. Kurikulum saat ini dinilai memberikan siswa terlalu banyak kebebasan. Kemerdekaan tanpa arah malah membawa risiko tersendiri. Jika tidak dilengkapi dengan bimbingan yang tepat, siswa dapat tersesat di belantara hutan informasi. Tak jarang, mereka memilih mundur akibat merasa rintangannya terlalu sulit untuk dilalui bahkan sebelum mencoba.
Di tengah kebingungan tersebut, harapannya deep learning hadir sebagai kompas penunjuk arah. Mengarahkan siswa bukan untuk belajar lebih banyak, namun belajar lebih dalam dan penuh makna.
Tampak di atas kertas, menanamkan pendekatan belajar mendalam merupakan keputusan yang bijak. Secara khusus, pembelajaran bermakna, kompetensi digital, kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis, dan kemampuan siswa untuk transfer kemampuan serta pengetahuan dari satu konteks ke konteks lain dipandang penting saat ini. Konsekuensinya, hal ini mengarah pada perkembangan dan revitalisasi konsep yang mampu mencakup satu set kemampuan dan pemahaman tersebut. Konsep tersebut dalam konteks ini adalah deep learning (Winje & Løndal , 2020).
Penggunaan deep learning dalam konteks pendidikan juga menunjukkan lonjakan popularitas dalam skala global. Penelitian bibliometrik oleh Wibawa dkk. (2022) menunjukkan kalau penerapan deep learning dalam pendidikan telah berkembang pesat, terutama di negara-negara maju seperti Belanda, Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Norwegia.
Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengadopsi pendekatan belajar ini? Jangan sampai semangat mengejar tren global justru membuat kita Fomo dan abai terhadap persoalan mendasar yang belum selesai di dalam sistem pendidikan kita. Dibutuhkan setidaknya modal psikologis, kultural, dan struktural guna menyambut integrasi deep learning dalam pendidikan.
Pertama-tama, mari mulai dari kesiapan psikologis. Pendekatan ini menuntut pelajar untuk mendobrak pola pikirnya terkait belajar. Pelajar wajib memiliki rasa ingin tahu, berani menghadapi ketidakpastian, dan toleransi terhadap kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Kurang lebih serupa dengan konsep Grit yang dikemukakan oleh Psikolog Angela Duckworth dalam buku yang ia terbitkan dan diberi judul persis dengan konsep tersebut.
Tanpa ini, mereka akan frustrasi karena deep learning tidak memberikan hasil instan. Hasil belajar mereka tidak dapat segera diukur dengan angka, karena yang jadi tujuan utamanya adalah siswa mampu menciptakan konsep dari suatu pendalaman ilmu dan menerapkannya ke dalam konteks lain. Sayangnya, pola pikir semacam itu tidak dapat muncul seketika dalam semalam. Dibutuhkan habituasi, pembiasaan yang konsisten, agar nilai-nilai tersebut benar-benar mengakar.
Lingkungan tempat siswa tumbuh dan berkembang berperan penting dalam memberikan dorongan awal yang dibutuhkan. Ibarat mesin motor, lingkungan yang tepat bisa menjadi “starter manual” yang memantik semangat belajar. Dorongan ini dapat muncul lewat refleksi, diskusi, dan kolaborasi yang dikondisikan secara konsisten. Lebih lanjut, lingkungan sekolah wajib menjunjung tinggi budaya yang menghargai eksplorasi dan keragaman cara berpikir. Bila semua ini terpenuhi, maka modal kulturalnya telah terbentuk dengan baik.
Budaya belajar tersebut perlu diperkuat secara struktural dalam sistem pendidikan agar tidak hanya bergantung pada inisiatif perorangan, melainkan menjadi praktik yang ajeg dan berkelanjutan. Contohnya menanamkan budaya diskusi di sekolah. Pada materi belajar yang menuntut pemahaman dari beberapa sudut pandang (seperti IPS, PKN, dan Sejarah), kelas dapat diatur dengan model diskusi kelompok atau debat terbuka. Teknisnya dapat disesuaikan dengan masing-masing jenjang pendidikan.
Selama berjalannya diskusi guru tidak serta-merta memberikan satu jawaban benar, melainkan memberikan peluang serta apresiasi terhadap proses berpikir alternatif yang tumbuh di kelas. Selain itu, selama pembelajaran, guru membiasakan siswa untuk meminimalisir judgement. Tidak menghukum atau mendiskreditkan siswa atas percobaan eksploratif yang dilakukannya. Upaya ini sekaligus menguatkan budaya berpikir eksploratif dan menghargai keragaman berpikir.
Selain yang telah disebutkan di atas, salah satu tantangan terbesarnya adalah kebiasaan belajar dengan sistem kebut semalam. Kebiasaan ini tampak sepele, namun menandakan masih banyak siswa yang hanya belajar sehari sebelum ujian. Padahal untuk mencapai pemahaman yang mendalam, dibutuhkan kebiasaan belajar yang teratur dan konsisten. Kebiasaan ini merupakan dampak dari penerapan asesmen sumatif, evaluasi yang dilakukan di akhir suatu periode pembelajaran, dalam kurikulum.
Alternatifnya, asesmen sumatif dapat diganti menjadi asesmen formatif. Seperti yang dijelaskan oleh Black dan William (1998) dalam buku yang berjudul "Inside the Black Box: Raising Standards Through Classroom Assessment", asesmen formatif mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Terutama bagi mereka dengan capaian belajar rendah sekaligus mengurangi kesenjangan pencapaian antar siswa.
Alih-alih melakukan penilaian di akhir pembelajaran, asesmen formatif menekankan penilaian dilakukan sepanjang proses belajar. Dalam hal ini, guru berperan memberikan umpan balik spesifik dan membangun. Setiap umpan balik diberikan, siswa berpartisipasi aktif melakukan refleksi dan penilaian diri. Memberikan ruang bagi mereka untuk melakukan kesalahan dan belajar darinya. Memungkinkan interaksi dua arah antara guru dan murid.
Sangat berbanding terbalik dengan asesmen sumatif yang identik dengan nilai dan peringkat. Dengan penilaian semacam ini siswa hanya diberikan dua pilihan, antara lulus atau tidak lulus. Siswa seakan tidak diberikan ruang untuk gagal yang sebenarnya penting dalam proses belajar. Selain itu bagi mereka yang tidak lulus dalam ujian, terancam risiko terkena labeling sebagai siswa yang gagal di mata teman sebaya.
Menanamkan deep learning bukan hanya perkara menambahkan pendekatan belajar ke dalam kurikulum yang ada. Perlu diperhatikan juga kesiapan psikologis siswa, budaya sekolah, dan sistem yang mendukung. Tanpa itu semua, integrasinya berisiko tidak mulus atau malah akan sekadar menjadi slogan. Perlu kehati-hatian dan perencanaan matang sebelum benar-benar siap diimplementasikan.
