4 Culture Shock Solo Traveling di Kamboja

A nature and culture enjoyer
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Arif Setyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Traveling ke negara baru selalu membawa kejutan tersendiri. Kamboja, negara tetangga kita di Asia Tenggara, ternyata menyimpan banyak hal unik yang bikin saya melongo. Dari transportasi yang unik sampai kayak udah di negara sendiri.
1. “Ojol” Tuktuk yang Unik

Kalau di Indonesia ojek online identik dengan motor roda dua yang ngebut di jalanan, di Kamboja ceritanya beda. Mereka pakai Tuktuk, atau yang kita kenal sebagai Bentor, sebagai ojol versi Kamboja. Bayangin aja, kendaraan tradisional yang bertemu dengan teknologi masa kini. Kombinasi yang gak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Pengalaman pertama naik Tuktuk keliling Phnom Penh bener-bener seru. Anginnya sepoi-sepoi, pemandangannya leluasa, dan yang paling penting sopirnya nggak ugal-ugalan kayak beberapa ojol di Indonesia. Rasanya aman dan nyaman banget.
Yang bikin makin happy, harganya terbilang murah. Sebagai turis yang parno takut kena tipu di negara orang, sistem Tuktuk di Kamboja ini bikin tenang karena mereka resmi berafiliasi dengan aplikasi transportasi online seperti Grab. Jadi, nggak ada tuh drama tawar-menawar harga atau takut dibawa ke tempat aneh.
2. Banyak Orang Indonesia (Terlalu Banyak Malah)
Ini dia yang paling bikin saya mixed feeling. Ternyata, Kamboja itu "dipenuhi" sama orang Indonesia. Fenomena WNI yang kerja di Kamboja, terutama di industri judi online, emang udah jadi rahasia umum. Tapi saya nggak nyangka bakal se-massive ini.
Obrolan pertama dengan warga lokal udah langsung nyenggol topik ini. Seorang warga Kamboja bilang dia punya banyak teman Indonesia yang kerja di kasino. Saya cuma bisa senyum kecut sambil geleng-geleng kepala. Yang lebih mengejutkan, ada penjual jalanan yang tiba-tiba ngomong bahasa Indonesia, ternyata dia belajar dari teman-teman Indonesia yang kerja di sana.
Puncaknya saat saya lagi menikmati pemandangan Sungai Mekong yang cantik, tiba-tiba kedengaran dua orang dewasa ngobrol pakai Bahasa Indonesia. Secara refleks, saya malah menghindar. Jauh-jauh ke Kamboja kok malah ketemu sama orang Indonesia sih? Rasanya kayak masih di Indonesia saja.
3. Bir Dijual Seperti Air Mineral
Kalau kamu pernah ke minimarket di Indonesia, paling kamu jarang banget lihat bir di pojok kecil dan pasti dengan jumlah terbatas. Nah, di Kamboja? Cerita lain banget, Sebelum ke Kamboja, saya sempat singgah di Thailand. Di Seven Eleven Thailand emang ada minuman beralkohol, tapi masih wajar.
Begitu sampai Kamboja, saya langsung melongo. Etalase minimarket penuh dengan deretan bir kayak display air mineral di Indonesia. Dari yang murah sampai premium, semua ada. Dan harganya? Jauh lebih murah dibanding di Indonesia.
Awalnya cukup kaget, tapi lama-lama jadi terbiasa. Bahkan warung-warung kecil di pinggir jalan pun jual alkohol. Hostel tempat saya menginap juga punya minibar lengkap dengan berbagai pilihan alkohol. Jalanan kota Phnom Penh pun sering terlihat bekas botol bir yang dikonsumsi warga lokal. Budaya minum alkohol di sini emang beda banget sama Indonesia.
4. USD vs Riel Kamboja
Ini dia yang paling bikin otak saya ngelag. Kamboja punya sistem uang yang unik, mereka pakai dua mata uang sekaligus untuk transaksi sehari-hari, Dolar Amerika (USD) dan Riel Kamboja
Kalau kamu first timer ke Kamboja, saran saya sih mending bawa Dollar Amerika. Kenapa? Karena ternyata masyarakat lokal lebih suka terima Dollar dibanding Riel sendiri. Hampir semua tag harga di minimarket menampilkan dua kurs sekaligus. Jujur, saya bingung gimana cara mereka ngitung konversinya dengan cepat.
Pengalaman paling nyeleneh saat belanja di Seven Eleven. Saya bayar pakai 10 Dollar, eh kembaliannya dikasih dalam pecahan Riel. Di awal-awal bikin pusing karena harus ngitung-ngitung lagi nilainya berapa. Tapi sistem ini ternyata udah jadi keseharian mereka. Fleksibel sih, tapi butuh adaptasi buat turis kayak saya.
Itu dia beberapa pengalaman culture shock solo traveling pertama kali ke Kamboja, menjadi pengalaman berkesan. Tapi, Kamboja tetap menjadi negara yang harus kamu kunjungi minimal sekali seumur hidup!
