Konten dari Pengguna

Melahap Kebenaran ala Abu Lahab

Arief Sulistyanto
Pemerhati Kepemimpinan, Etika Publik, dan Refleksi Spiritualitas Sosial.
21 Oktober 2025 9:45 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Melahap Kebenaran ala Abu Lahab
Selama manusia hanya beragama secara seremonial, tanpa beriman secara moral dan rasional, maka Abu Lahab tidak akan pernah mati.
Arief Sulistyanto
Tulisan dari Arief Sulistyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Abu Lahab. Foto: oneinchpunch/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Abu Lahab. Foto: oneinchpunch/Shutterstock
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Oleh: Arief Sulistyanto

Pendahuluan — Sang Penantang Kebenaran

Setiap zaman punya Abu Lahab-nya sendiri — manusia yang tak bisa hidup tanpa api.
Dalam catatan spiritual Islam, Abu Lahab adalah sosok yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad, tetapi justru menjadi penentang paling keras terhadap kebenaran yang dibawanya. Ia bukan orang bodoh, bukan pula tidak paham risalah, melainkan terlalu sombong untuk menerima bahwa kebenaran bisa datang dari luar dirinya.
Abu Lahab hidup dari gengsi. Ia menolak cahaya bukan karena tak melihatnya, tetapi karena silau yang mengancam kehormatannya sendiri.
Istrinya, seorang perempuan berstatus sosial tinggi, ikut memainkan peran penting: menjadi pembawa kayu bakar — metafora bagi siapa pun yang menyalakan dan memelihara api kebencian. Ia menyebar fitnah, menyalakan gosip, dan memberi bahan bagi bara kesombongan suaminya agar terus menyala.
ADVERTISEMENT
Surah yang mengabadikan keduanya bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan cermin moral bagi umat manusia sepanjang zaman hingga masa kini.
Pesannya sederhana tapi menohok: kesombongan yang ditopang oleh pujian palsu akan membakar bukan hanya hubungan sosial, tetapi juga hati nurani manusia.
Sifat dan sikap itu tidak pernah padam; ia hidup abadi dalam diri manusia dan berevolusi seiring kemajuan peradaban.
Api kesombongan yang dulu membakar di padang pasir, kini menjelma dalam bentuk yang lebih canggih — tersembunyi di balik simbol status, kekuasaan, dan pencitraan.
Abu Lahab tampil dengan jas dan gelar; istrinya hadir dalam rupa sistem yang menyanjung, media yang memoles, dan jejaring yang membenarkan setiap kebohongan.
Mereka tetap berpasangan: yang satu menegakkan diri dengan ego, yang satu memelihara bara dengan pujian.
ADVERTISEMENT

Refleksi Sosial–Spiritual: Melahap Kebenaran

“Melahap kebenaran” adalah cara halus manusia modern untuk menolak cahaya tanpa terlihat gelap.
Kebenaran hakiki tidak lagi dibantah secara terang-terangan, melainkan diamputasi dan diganti dengan kebenaran imitasi — versi palsu yang dibuat untuk membenarkan kelancungan perbuatannya sendiri.
Di tangan manusia yang pandai bersilat kata, nilai berubah menjadi opini, prinsip bergeser menjadi strategi, dan nurani terbungkus dalam retorika moral yang tampak saleh tapi beraroma kepentingan.
Ia tidak menutup telinga seperti Abu Lahab dahulu, melainkan menyalakan pengeras suara
baru bernama argumentasi, data, dan citra. Yang ditolak bukan pesan kebenaran itu sendiri, tapi otoritas moral yang membawanya.
Kebenaran tak lagi dihakimi dari nilai, tapi dari siapa yang mengucapkannya — dan di sinilah bara kesombongan menemukan bahan bakarnya.
ADVERTISEMENT
Dunia kini tidak kekurangan orang pintar, tetapi miskin orang jujur. Manusia berlomba menafsirkan ulang moral agar sesuai dengan kepentingan dirinya.
Kata “benar” dipelintir menjadi “relevan”, dan “salah” dihaluskan menjadi “tidak kontekstual”. Abu Lahab dulu melawan wahyu dengan amarah, kini keturunannya melawan nurani dengan narasi — dan keduanya sama-sama melahap kebenaran dengan tenang, seolah sedang bersantap siang.
Dalam setiap bidang kehidupan, wajah Abu Lahab muncul dengan gaya berbeda. Di ruang politik, ia mengenakan jas keanggunan dan bicara tentang moral sambil menegosiasikan nilai. Di ruang agama, ia berbicara atas nama Tuhan tapi membungkam suara kejujuran.
Di dunia profesional, ia bersembunyi di balik kata “strategi”, “komunikasi publik”, atau “damage control” — padahal hakikatnya sedang menyulap kebohongan menjadi kebijakan.
ADVERTISEMENT
Semuanya memiliki satu kesamaan: mengatur makna agar kebenaran tunduk pada kenyamanan.
Sementara “istrinya” — si pembawa kayu bakar — kini menjelma dalam bentuk sistem sosial yang menyalakan apinya:
media yang memoles citra hingga tampak suci, buzzer yang menyalakan perdebatan palsu, dan sekelompok orang yang membela tokoh dengan keyakinan lebih kuat daripada mereka membela nilai.
Mereka menyalakan bara bukan dengan kayu, tapi dengan “like”, “share”, dan “komentar”.
Maka, Abu Lahab hari ini bukanlah musuh agama, melainkan musuh kesadaran.
Ia hidup di setiap ruang tempat kebenaran bisa diputarbalikkan — di podium, di kantor, di media, bahkan di ruang hati manusia yang lebih takut kehilangan wibawa daripada kehilangan nurani.
Dan seperti dahulu, api itu tidak datang dari luar; ia menyala dari dalam diri.
ADVERTISEMENT
Setiap kali manusia lebih mencintai pengakuan daripada kejujuran, lebih bangga disanjung daripada dikoreksi, lebih suka memenangkan debat daripada menemukan kebenaran — di situlah Abu Lahab sedang bertepuk tangan. Sebab bagi mereka, kebenaran yang tidak menguntungkan memang layak dilahap.

Komodifikasi Kebenaran yang Menghanyutkan

Kebenaran hari ini tidak lagi dibunuh, tapi dikomodifikasi.
Ia dijual dalam kemasan yang rapi, dengan label “versi resmi”, “hasil riset”, atau “narasi yang disetujui bersama”.
Di tangan manusia modern, kebenaran bukan untuk dijaga, tapi dikelola — agar tetap menguntungkan, aman, dan tidak menyinggung siapa pun yang sedang berkuasa atau berpengaruh.
Dalam dunia politik, kebenaran sering diseret ke ruang tunggu. Ia hanya boleh bicara setelah disetujui oleh survei dan kepentingan elektoral.
ADVERTISEMENT
Janji kebaikan diucapkan dengan gaya yang meyakinkan, tapi tanpa niat untuk diwujudkan. Kata-kata “demi rakyat” terdengar heroik di podium, namun berubah menjadi “demi kelompok” saat rapat tertutup dimulai.
Di situlah Abu Lahab tersenyum — karena bara kesombongannya kini dihidupi oleh sistem yang membuat kebohongan terasa rasional.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebenaran sering kali menjadi korban kesibukan dan kepentingan. Orang menutup mata bukan karena tidak tahu mana yang benar, tetapi karena kebenaran itu terlalu merepotkan untuk diikuti.
Di kantor, di rapat, di forum publik, atau bahkan di lingkaran keluarga, manusia kerap memilih diam ketika kebenaran mengancam kenyamanannya sendiri.
Ia tahu yang salah, tapi membiarkannya berjalan — demi harmoni semu atau keuntungan pribadi.
ADVERTISEMENT
Di media sosial, orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun nurani. Kejujuran tidak lagi diukur dari isi pesan, tapi dari berapa banyak yang menyukai unggahannya. Kebenaran bergeser menjadi performa: bagaimana tampak benar, bukan bagaimana menjadi benar.
Maka lahirlah generasi yang cerdas berargumen tapi miskin keberanian moral — pandai berbicara tentang integritas, namun gagap ketika harus menerapkannya pada diri sendiri.
Di dunia publik dan media, kebenaran telah menjadi bahan bakar paling laku. Dipelintir, dipoles, dan dijual dalam paket trending.
Media tidak lagi menyalakan cahaya, tapi mengikuti di mana arah sorot lampu paling ramai. Komentar lebih cepat dari klarifikasi, opini lebih viral dari fakta, dan sensasi lebih menguntungkan dari kejujuran.
Maka manusia modern melahap kebenaran bukan karena lapar akan makna, tetapi karena takut ditinggalkan oleh algoritma.
ADVERTISEMENT
Dan yang paling halus dari semuanya: melahap kebenaran dengan diam. Tidak ikut bohong, tapi juga tidak membela yang benar.
Tidak menyalakan api, tapi menikmati hangatnya kebohongan yang sedang berkobar. Inilah bentuk baru dari kesetiaan pada Abu Lahab — kesetiaan yang lahir dari kenyamanan, bukan dari keyakinan.

Penutup – Api yang Tak Pernah Padam

Kisah Abu Lahab bukan sekadar lembar sejarah di masa lalu.
Ia adalah peta watak manusia yang terus bereinkarnasi dalam setiap zaman — hanya berganti wajah, bahasa, dan bentuk kuasa. Kesombongan yang dulu menolak wahyu kini hidup dalam bentuk yang lebih halus: rasionalitas yang membenarkan kebohongan, citra yang menggantikan integritas, dan sistem sosial yang membuat dusta terasa wajar.
ADVERTISEMENT
Di sinilah letak keabadian kisah itu — bukan karena tokohnya hidup kembali, tetapi karena sifat dan sikapnya diwariskan tanpa disadari.
Jika manusia membaca kisah itu hanya sebagai catatan masa lalu, maka tragedi moral itu akan terus berulang.
Abu Lahab akan tetap hidup di balik wajah modern: di ruang rapat, di media, di layar gawai, bahkan di dalam hati yang menganggap diri paling tahu dan paling benar.
Setiap kali kebenaran diubah menjadi komoditas, setiap kali pujian lebih dihargai daripada kejujuran, di situlah api lama menyala lagi — bukan karena Allah menyalakannya, tapi karena manusia sendiri yang meniup bara itu.
Maka, tugas kita bukan sekadar mengenang kisah, tapi mengenali diri di dalam kisah itu.
ADVERTISEMENT
Sebab setiap zaman menuntut cara baru untuk “beriman” — dan iman sejati tidak berhenti di bibir atau simbol, melainkan pada keberanian untuk menundukkan ego di hadapan kebenaran.
Inilah makna terdalam dari “beragama dengan benar”: menjadikan nilai-nilai Ilahi sebagai cermin untuk membersihkan diri, bukan sebagai senjata untuk membenarkan diri.
Selama manusia hanya beragama secara seremonial, tanpa beriman secara moral dan rasional, maka Abu Lahab tidak akan pernah mati.
Hanya berganti nama, jabatan, dan medium, tapi tetap membawa api yang sama: api kesombongan yang membakar nurani.