Solusi Sabun Ramah Lingkungan Sebagai Penerapan Kimia Hijau

Saya adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Saat ini saya sedang menempuh perkuliahan di Jurusan Kimia sejak tahun 2022.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ariel Al Farizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda berpikir bahwa sabun yang kita gunakan setiap hari dapat menjadi penyelamat bumi? Di balik busa yang mengalir di wastafel, ternyata ada potensi besar untuk menjaga lingkungan lewat konsep green chemistry atau kimia hijau. Di era di mana polusi dan limbah kimia jadi masalah serius, konsep ini hadir bukan hanya sebagai pendekatan ilmiah, tetapi juga sebagai gaya hidup ramah lingkungan.
Menurut laporan United Nations Environment Programme (UNEP, 2022), industri kimia menyumbang sekitar 11% emisi karbon global dan menghasilkan jutaan ton limbah berbahaya setiap tahunnya. Produk sehari-hari seperti sabun, deterjen, dan pembersih rumah tangga, meski terlihat sepele, ternyata memberi kontribusi signifikan terhadap pencemaran air dan tanah akibat kandungan fosfat, surfaktan sintetis, serta bahan kimia non-biodegradable.
Kimia hijau adalah pendekatan ilmiah yang menekankan pada reduksi atau eliminasi penggunaan bahan berbahaya dalam desain, pembuatan, dan penerapan produk kimia. Dalam konteks sabun, prinsip ini diterapkan dengan mengganti bahan kimia sintetis berbahaya dengan bahan alami, seperti minyak nabati, enzim dari mikroorganisme, dan pewangi berbasis tanaman.
Banyak sabun modern yang kini menggunakan surfaktan dari kelapa sawit atau jagung yang lebih mudah terurai di alam. Penelitian oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN, 2023) menunjukkan bahwa sabun berbahan dasar minyak kelapa murni (VCO) dan alkali alami menghasilkan residu yang lebih cepat terurai dan tidak mencemari lingkungan perairan. Oh yaa,, kita juga bisa loh membuat sabun ramah lingkungan seperti itu untuk keperluan rumah tangga.!!!
Berikut cara yang harus dilakukan :
Bahan yang diperlukan :
1. Minyak Kelapa Murni (VCO) – 500 ml
2. Larutan soda kue rumahan – 100 gram
3. Air bersih – 200 ml
4. Jeruk Lemon –2 buah
5. Pewarna alami/ bubuk kunyit
Alat yang diperlukan :
1. Wadah tahan panas
2. Sendok dan blender
3. Cetakan sabun (plastic/Loyang)
4. Sarung tangan dan masker
5. Timbangan digital
Cara Pengerjaan :
1. Campur 100 gram soda kue dengan 200 ml air panas dan aduk rata;
2. Panaskan VCO dengan api kecil hingga hangat (±40–50°C), jangan sampai mendidih.
3. Tuangkan larutan alkali ke dalam minyak kelapa hangat secara perlahan sambil diaduk terus menerus.
4. Gunakan blender atau pengocok tangan selama ±10–15 menit hingga mengental dan teksturnya seperti adonan puding.
5. Tambahkan perasan jeurk lemon dan pewarna alami sesuai selera dan aduk hingga merata.
6. Tuang adonan ke dalam cetakan dan diamkan disuhu ruang selama 24 jam
7. Keluarkan sabun dari cetakan dan tunggu mengeras selama 2-4 minggu
8. Sabun siap digunakan.
Mudah bukan?? Yukkk mulaiii bikin dan stok sabun ini dirumahh!!!
Sabun ini sangat direkomendasikan untuk keperluan rumah tangga. Selain mudah dibuatnya, harganya pun sangat murah dan terjangkau. Sabun ramah lingkungan ini tentu memiliki banyak manfaat dengan kandungan VCO kaya akan asam laurat yang memiliki sifat antibakteri, antijamur, dan antiinflamasi, sehingga sabun ini sangat cocok untuk menjaga kesehatan kulit, mengurangi iritasi, dan mencegah infeksi ringan.
Sabun bukan hanya alat kebersihan, tetapi bisa menjadi simbol perubahan menuju masa depan yang lebih hijau. Melalui penerapan kimia hijau, industri sabun bisa menjadi pelopor dalam menciptakan produk yang bersih untuk tubuh, bersih juga untuk bumi. Kita juga memiliki peran penting dengan mulai memilih produk yang ramah lingkungan dan mendorong industri untuk terus berinovasi. Karena setiap tetes sabun yang kita pakai hari ini, punya dampak untuk bumi esok hari.
REFERENSI
1. United Nations Environment Programme (UNEP). (2022). Chemicals and Waste. https://www.unep.org/
2. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (2023). Kajian Biodegradasi Sabun Berbasis Minyak Nabati dan Bahan Alami.
3. Anastas, P. T., & Warner, J. C. (1998). Green Chemistry: Theory and Practice. Oxford University Press.
4. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2021). Kebijakan Pengelolaan Limbah B3 di Indonesia.
