Konten dari Pengguna

Babi Ngepet dan Suburnya Kepercayaan Pesugihan

Arif Fadillah

Arif Fadillah

Sedang menempuh jalan untuk menjadi pengajar. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia di Universitas Brawijaya. Menyukai membaca topik-topik kebudayaan dan bahasa. Menulis untuk merawat logika.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Fadillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari yang lalu kita dihebohkan dengan berita pesugihan babi ngepet. Meskipun dikonfirmasi bahwa berita ini hoaks, namun masih banyak masyarakat yang masih percaya. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat kita masih memercayai mitos-mitos yang sulit dibuktikan kebenarannya.

foto babi yang dianggap sebagai babi ngepet. Sumber: Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
foto babi yang dianggap sebagai babi ngepet. Sumber: Kumparan

Lantas mengapa masyarakat kita masih gemar memelihara kepercayaan semacam ini? Bagaimana hoaks terkait pesugihan dapat dipercaya di masyarakat? Bukankah di era kiwari ketersinggungan antara manusia dengan cerita pesugihan semakin terkikis?

Untuk menjawabnya, terlebih dahulu kita mengetahui apa itu pesugihan. Menurut Pemberton (Mashuri, 2018) pesugihan adalah sebuah ilmu yang didapat dari tempat tertentu yang memungkinkan pengamalnya mendapat jalan untuk menjadi kaya raya. Di tempat tertentu ini, pengamalnya memiliki kesempatan untuk berubah wujud menjadi binatang dengan bantuan makhluk halus. Di Indonesia, binatang yang lazim diidentikkan dengan pesugihan adalah babi ngepet.

Selain babi ngepet, pesugihan lain yang terkenal adalah tuyul. Pesugihan jenis ini umunya diidentikkan dengan mencuri uang, meskipun menurut Geertz (2013) juga ada tuyul yang mencuri butir padi di sawah. Dari keduaanya memiliki kesamaan yakni berusaha memindahkan nilai materi dari satu orang ke orang yang lain.

Di Indonesia yang mayoritas warganya hidup dari sektor agraris pola pemunculan pesugihan tumbuh subur. Di tengah masyarakat yang memiliki kuasa dan ekonomi yang berbeda-beda, pesugihan tumbuh sebagai jalan keluar. Jalan keluar bukan berarti menggunakan pesugihan sebagai media meraih materi, namun lebih kepada tumpahan kebencian kepada orang kaya. Munculnya berbagai makhluk halus ataupun pesugihan menurut Geertz (2013) adalah bentuk kemenangan manusia atas bukan manusia, serta menangnya kebudayaan atas alam.

Kasus babi ngepet di Depok memiliki motif yang unik. Mengutip dari Tirto.id motif pelaku penyebar berita babi ngepet adalah agar pengikutnya bertambah banyak. Perlu diketahui pelaku adalah pemuka agama di wilayah tersebut. Dengan demikian, berita babi ngepet sengaja dimunculkan agar pelaku mendapatkan ketenaran yang akhirnya memberikan peningkatan ekonomi bagi pelaku.

Perubahan zaman mengkamuflasekan isu pesugihan dengan bentuk-bentuk baru. Bukan hanya motif iri karena orang lain memiliki ekonomi maupun kuasa yang lebih baik, namun juga mencari pengikut dan ketenaran bagi pelaku. Di era kiwari, orang berbondong-bondong mencari pengikut. Bukan hanya agar memiliki jaringan pertemanan yang lebih luas, tapi ada juga yang memanfaatkannya untuk mengeruk keuntungan pribadi. Perubahan zaman memungkinkan seseorang untuk menjadi pusat perhatian, meskipun orang tersebut tidak pantas dijadikan pusat perhatian.

Lantas bagaimana orang kita masih percaya pada takhayul semacam ini? Dalam berbagai kasus, orang memerlukan jawaban atas suatu fenomena. Di saat yang bersamaan, orang memiliki kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang rumit dan tidak pasti. Pada saat inilah orang mengambil jawaban dengan mencari bukti yang sesuai dengan pemikirannya. Jawaban dari seseorang inilah yang kemudian menyebar kemasyarakat luas. Ditambah lagi, hari ini penggunaan sosial media juga memercepat tersebarnya informasi, terlepas benar atau tidak.

Pada era ini, hubungan antara manusia dengan cerita pesugihan semakin kempis, namun bukan berarti padam. Memang masyarakat jarang menemui fenomena semacam ini, namun berbagai olahannya tetap disukai masyarakat. Tengok saja di YouTube, pemirsa dari tontonan bertema horor (termasuk pesugihan) masih sangat banyak, bahkan menyentuh angka jutaan. Bagi orang yang cerdik, tentunya ini menjadi ladang untuk mencari cuan. Hal ini menunjukkan kegandrungan masyarakat pada kepercayaan semacam ini yang mengakar kuat.

Fenomena di Depok seharusnya menyadarkan kita bahwa kesalahan yang dibenarkan oleh orang banyak tetap bernilai salah. Menyikapinya kita semestinya menggunakan kejernihan akal dan mendayagunakan kemampuan untuk mencari kebenaran. Kita sebagai warga maya harus menyadari bahwa yang dibaca di sosial media tetap harus dikunyah dahulu, jangan asal telan.