Konten dari Pengguna

Bilangan 60 : Puisi Sebagai Jendela Batin

arif gumantia

arif gumantia

Ketua Majelis Sastra Madiun

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari arif gumantia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses kreatif tentunya dimulai dengan pengalaman batin, pengalaman hati. Karena dalam hati manusia itulah terdapat jendela untuk melihat Tuhan, untuk melihat cerminan dirinya. Oleh karena itu, puisi juga merupakan katarsis, upaya bersih diri dari bentuk-bentuk kehidupan profan dengan nilai-nilai transendental. Puisi bisa menjadi pernyataan baru, sebuah cinta yang mendalam dan personal. Demikian pernyataan dari Penyair Profetik-sufistik Abdul Hadi WM.

Begitu juga proses kreatif yang akhirnya menghasilkan karya kumpulan puisi Bilangan 60 karya Wina Bojonegoro. Seorang yang telah kita kenal sebagai penulis novel dan cerpen, dengan 9 buku karya sendiri, dan masih banyak karya bersama dengan penulis lain. Perempuan dengan nama asli Endang Winarti seakan hendak memberi kado kepada dirinya sendiri dan para pembacanya saat usia 60 tahun dengan buku kumpulan puisi berjudul Bilangan 60. Buku kumpulan puisi yang menarik untuk kita baca dan kita renungkan, ditambah dengan ilustrasi dari pelukis Yoes Wibowo ( suami Wina ) membuat kumpulan puisi ini semakin puitis dan estetis. 60 tentu adalah usia yang cukup panjang untuk melihat dan mengalami peristiwa-peristiwa dalam hidupnya untuk kemudian dituliskannya dalam puisi. Puisi menjadi ekspresi dari bagaimana dia mengungkapkan pengalaman batin yang telah dilaluinya. Ada 59 puisi yang dibagi menjadi 3 bagian yaitu Asmaradana, Dharma, dan Mantrapuja. Apa yang diungkapkannya dalam puisi tidak sekedar menuliskan pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya dalam memperoleh pengalaman batin tersebut, tapi juga historisitas yang ada di peristiwa hidupnya.

Wina mencoba mengungkapkan pengalaman-pengalaman batinnya dalam puisi-puisinya dengan berbagai emosi, imajinasi, ide, irama, ironi dan metafora. Hingga diksinya bisa bertransformasi dari makna konseptual menjadi makna imajinatif di benak pembaca, Seperti puisi berjudul Di Jembatan Penyeberangan ( hal 18 ) :

Di bawah kilau warna-warna

Kita akan saling melambai

Di Jembatan Pelangi

Kamu siapa ?

Seseorang melintas

Barisan pagar dingin

Deru roda gemerincing

....,.....................

Sebuah pengalaman hidup jika ditulis dengan gaya penulisan yang liris dan diksi yang sederhana, jika disusun dalam kalimat yang tepat itu bisa menyampaikan isi puisi tersebut ke pembaca dan menjadikan seolah menjadi pengalaman bersama yang dialami antara penulis dan pembaca. Hal ini menjadikan puisi menjadi narasi yang otentik. Dalam hal ini Wina mengerti betul dan telah menjadi habitus dalam kepenulisannya. Habitus menurut Pierre Bourdieu adalah nilai-nilai yang dihayati oleh manusia, dan tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri manusia, termasuk dalam cara menulis.

Seperti dalam puisi halaman 21

Perempuan Kue Kenari

: kalimasada

..................

Malam ini adalah malam seribu bulanmu, Na

Tak cukup seribu doa untukmu

Bahkan kau tak pernah menghitung

Berapa ribu malam telah kau lahirkan butiran Kenari

Untuk ribu atau juta nyawa di lenganmu

Sendiri, menghapus lelaki sepintas sepi

Dan pada puisi dengan judul Buku Harian ( halaman 59 )

.......................

Kau bercermin juga di sore hari, ketika langit malas berpendar dan rambutmu jauh dari sisir rapi. Kau tatap kalender weton di dingding kusam seraya mendesah : apakah hidup hanya berlomba membuat Canva dan menjalin kata-kata ?

Kuikat rambut sepertiga perak ini. Kupecahkan kaca. Kau adalah aku yang malu entah pada siapa

Sebagai seorang yang sering traveling Wina juga banyak mengabadikan kisah perjalanannya dan tempat-tempat yang pernah disinggahinya, tentu saja sebagai penulis yang tumbuh di era kemenangan estetika humanisne universal, cara menuliskannya pun dengan gaya metafora humanisme universal, seperti dalam puisinya Ketapang ( halaman 64 )

.....................

Ribuan mata angin menyerbu

Deru buritan menggeram melawan

Perjalanan hanyalah perpindahan menuju cahaya

Kami sebangsa laron

Melawan kebosanan dimakan zaman

Mencari cahaya pulau Dewata

Mencari cahaya

Salah satu pengalaman batin Wina yang berhubungan dengan hati adalah jendela untuk melihat Tuhan, dituliskannya dalam puisi berjudul Ritual ( Halaman 105 )

Ada yang tengah mengalirkan

Serangkaian kata-kata serupa doa

Cepat menderap

Bagai kilat

Ada yang bergerak ritmis

Bersujud, bersimpuh, berdoa

Gerakan mekanis tanpa rasa

Kau dikejar siapa ?

.............

Di sini Wina menuliskan kegelisahan batinnya, bahwa apa sebenarnya ritual itu? Apa substansinya? Bukankah ritual itu bukan sekedar religius, tapi membawa nilai-nilai religiusitas yang pada akhirnya dimanifestasikan dalam perilaku kita. Dan hubungan dengan Sang Maha Pencipta adalah keintiman yang syahdu, seperti istilah filsuf Rudolf Otto sebagai Mysterium Tremendum et Fascinosum: Dia adalah kegaiban unik yang menautkan kejut-getir dan rindu yang menyengat. Misteri yang menggetarkan sekaligus memesona.

Puisi sebagai sebuah bagian dari seni tentunya juga tunduk pada sebuah hakikat karya seni, yaitu selalu terjadi keregangan antara Konvensi dan pembaharuan (inovasi). Itulah kenapa Rifaterre mengatakan Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya. Hingga sah-sah saja kalau Wina Bojonegoro menulis puisi-puisinya sesuai dengan konsep estetik yang diyakininya. Dan jika pembaca Ingin tahu apa makna usia 60 bagi Wina, Maka bacalah puisi berjudul Menuju 60, yang dituliskannya dengan metafora dan ironi pada puisi terakhir buku kumpulan puisi Bilangan 60 ini ( Halaman 114 )

Kemarau mengetuk pintu

Seperti hendak berseru:

Segera tiba waktumu

Kukirim siur bediding di kulit tuamu

Mengerut oleh isapan musim

Menyeretmu pada hening malam nan tintrim

Kemarau mengintip lobang angin

Serapuh senja digulung langit

Dicurinya doa gerimis yang kusimpan dalam ingin

Lidahku tak mampu memanjat dingin

Kemarau memanen persahabatan

Dilucutinya ikatan demi ikatan

Sisa segelintir atau dua

Seringkih sore yang dilibas awan

Salam...salam ....ya salam

Judul buku : Bilangan 60

Penulis : Wina Bojonegoro

Jumlah Halaman : 127

Cetakan : Pertama, Juli 2024

Penerbit : Penerbit JBS

Jalan Keloran Dalam Rt. 8 Keloran

Tirtonirmolo, Kasihan Bantul, Yogyakarta

Telpon: 081802717528

Arif Gumantia

Ketua Majelis Sastra Madiun