Gandawyuha, Kisah Esoteris Pada Relief Borobudur.

Ketua Majelis Sastra Madiun
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari arif gumantia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gandawyuha muncul dalam relief sebanyak 460 panel di lorong 2, 3, dan 4 pada Candi Borobudur. Dalam Gandawyuha terdapat kisah Sudhana yang menjalani laku menggapai pencerahan tertinggi dalam kebuddhaan. Sudhana berguru kepada banyak guru, baik dari kalangan biksu maupun orang-orang biasa. Sudah banyak kisah Nusantara yang bercerita tentang murid yang berjalan dan menemui banyak guru untuk menimba ilmu. Hampir semua tentang tokoh Nusantara pasti melakonkan. Entah itu untuk ilmu kesaktian, kanuragan, kearifan, maupun kebijaksanaan.
Budayawan Mudji Sutrisno dalam tulisan berjudul Gandawyuha, Toleransi dan Pluralisme menjelaskan bahwa mengembara untuk menemui satu guru ke guru lain dengan tujuan mencari kebenaran sejati adalah sesuatu yang ada dalam semua agama dan tradisi-tradisi dunia kerohanian mana pun. Dalam dunia kesantrian, sudah sangat umum seorang santri berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain belajar ilmu yang berbeda-beda. Demikian juga peziarahan-peziarahan Katolik ataupun lelana spiritual pelaku kebatinan dan penghayat Nusantara.
Kisah itu diperkirakan muncul pada awal abad 1 M di India Selatan kemudian menyebar ke seluruh Asia. Dalam kepercayaan Buddha Mahayana, Gandawyuha dikenal sebagai bagian terakhir atau bab 34 dari sutra besar, Sutra Avatasamka
Sedangkan di Borobudur, perjalanan spiritual Sudhana dipahat di atas batu sedemikian panjang. “Mengapa para arsitek Borobudur memilih memahatkan kisah sutra Gandawyuha bukan sutra yang lain? Itu adalah pertanyaan besar,” kata Mudji yang pernah mempelajari zen di Summer Course Religion and Arts di Ichigaya Sophia University of Tokyo, Jepang.
Mudji menambahkan bahwa John N. Miksic, arkeolog National University of Singapore, pernah mengatakan Gandawyuha diterjemahkan secara komplet dalam bahasa Cina pada 798 M oleh seorang rahib bernama Prajna. Sumbernya adalah manuskrip Gandawyuha yang diberikan oleh Raja Orissa, India, kepada penguasa Cina. Gandawyuha kemudian sangat populer di Cina terutama masa Dinasti Song tahun 960-1279 M.
“Ini menurut Miksic, tetapi ada indikasi para pemahat Borobudur tatkala memahat relief Gandawyuha sudah memegang atau merujuk versi komplet sebelum terjemahan ke dalam bahasa Cina selesai,” ujar Mudji.
Pada masanya, relief Gandawyuha di Borobudur telah menyajikan sebuah visi pluralis. Misalnya, terdapat sosok Mahadewa yang merupakan ikon dewata Hindu. Sosok ini digambarkan lengkap dengan ciri atribut Siwa. “Ini berbeda dengan yang di Cina atau Tibet. Di sana Buddha sama sekali menghilangkan bau Hindu,” lanjut Mudji.
Sementara itu menurut Hudaja Kandahijaya, cendekiawan Buddhis yang meneliti Candi Borobudur, hanya 25 persen guru yang ditemui Sudhana berasal dari kalangan Buddha. Sebanyak 25 persen lainnya adalah makhluk halus, termasuk Mahadewa. Sisanya yang 50 persen berasal dari kalangan lain termasuk Brahmana, cendekiawan, profesional, politikus, dan perumahtangga (umat awam yang hidup berkeluarga). Tak segan pula Sudhana menemui seorang pelacur kelas tinggi bernama Vasumitra. Pasalnya, dalam pandangan Buddha Mahayana semua makhluk bisa ambil bagian dalam hakikat Buddha.
“Kebenaran dalam perspektif Gandawyuha bisa datang dari segala lapisan sosial manapun,” kata Mudji.
Gandawyuha merupakan kisah esoteris agama Buddha Mahayana mengenai anak muda bernama Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi. Sudhana melakukan perjalanan religi keliling India menemui satu guru dan guru lain atau para sahabat spiritual (mitreka satata). Kisah suci ini diperkirakan muncul pada awal abad 1 Masehi di India Selatan dan kemudian menyebar ke seluruh Asia. Gandawyuha dikenal sebagai bagian terakhir dari sutra besar agama Buddha Mahayana yakni Sutra Avatasamka. Agama Buddha Mahayana memiliki berbagai sutra seperti Sutra Prajna Paramita, Sutra Lankavatara, Sutra Surangama, Sutra Vimalakirti, Sadharma Pundarika Sutra atau Lotus Sutra, dan Maha Parinirvana Sutra.
Gandawyuha merupakan Bab 34 dari Sutra Avatasamka. Sebagai bab penutup Avatasamka Sutra tetapi Gandawyuha kemudian sering diedarkan terpisah dan menjadi sutra tersendiri. Tokoh Sudhana dalam seni lukis religius di Tiongkok, Tibet, atau Jepang sering digambarkan di gulungan kain-kain atau gambar-gambar di kertas. Dari lorong kedua Borobudur, pada awalnya Sudhana mengunjungi bodhisatwa Manjusri. Manjusri memberikan arah bagi perjalanan Sudhana. Sudhana menemui berbagai rahib, biarawati, tabib, dewi-dewi dan beberapa orang suci. Ia memperoleh petuah, nasihat, dan wejangan.
Sudhana mulai mendapatkan kebijakan yang dicari setelah bertemu dengan bodhisatwa welas asih Avalokitesvara. Pada lorong ketiga, relief menggambarkan Sudhana berjumpa bodhisatwa Maitreya yang dalam khazanah Mahayana dianggap sebagai Buddha masa depan. Guru terakhir inilah yang menghantarkan pangeran Sudhana mencapai kearifan tertinggi dan kebenaran yang hakiki. Sudhana diajak Maiteya memasuki menaranya, lalu diajak mengalami berbagai dimensi semesta atau dharmadhatu. Pada lorong keempat Borobudur, relief Gandawyuha dilanjutkan dengan relief Bhadracari yang menjadi kisah penutup Gandawyuha. Relief itu menampilkan Sudhana bertemu dengan bodhisatwa Samanthabadra.
Pada saat bertemu Saman tabhadra. Sudhana juga bertekad untuke mengikuti sumpah Samanthabadra. Samantabhdra terkenal akan 10 sumpahnya yang menjadi rujukan atau ikatan bagi semua bodhisatwa. Sumpah ini meliputi sumpah mengakui kesalahan-kesalahan silam dan berubah menjadi baik serta sumpah mempersembahkan segala jasa dan kebaikan kepada makhluk lain. Gandawyuha sedemikian dalam maknanya.
Dalam serat Gandawyuha yg dipahatkan di relief Borobudur, juga diceritakan tentang duka. Duka berasal dari bahasa Sanskerta Dukka. Perasaan sedih, gundah, ketidak nyamanan di hati. Sumber duka adalah rasa memiliki sesuatu, yg punya konsekuensi adanya rasa kehilangan.
Relief Gandawyuha di Borobudur sangat relevan dibicarakan di tengah kecenderungan fanatisme dan intoleransi agama saat ini. Borobudur Writer and Cultural Festival menganggap bahwa pencarian ketuhanan dalam kisah Gandawyuha ini sangat universal dan mencerminkan tingkat toleransi agama yang tinggi. Lebih dari itu Gandawyuha merupakan sebuah pencarian ketuhanan yang berkebudayaan. Sesungguhnya relief Gandawyuha merupakan salah satu rujukan tertua di nusantara bagi toleransi dan pluralisme di Indonesia," terang Mudji Sutrisno.
Relief Gandawyuha bisa menjadi payung untuk mendiskusikan berbagai pengalaman religi dalam semua agama. Tak terbatas pada agama besar, tetapi juga agama-agama yang muncul dari bumi Nusantara yang selama ini termarjinalkan. Pencarian ketuhanan dalam kisah Gandawyuha sangat universal. Kisah ini mencerminkan tingkat toleransi agama yang tinggi.
Arif Gumantia
Ketua Majelis Sastra Madiun
