Perihal Kesepian

Ketua Majelis Sastra Madiun
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari arif gumantia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah gemerlap konektivitas digital yang menjanjikan keterhubungan tanpa batas, manusia justru semakin akrab dengan kesepian. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan platform virtual lainnya memang memudahkan interaksi, tetapi sering kali hanya menyentuh permukaan.

Banyak orang kini dikelilingi oleh notifikasi dan percakapan daring, namun tetap merasa hampa dan terasing secara emosional. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah teknologi benar-benar mendekatkan manusia, atau justru menciptakan ilusi kedekatan yang mengikis makna hubungan sejati?
Saya jadi ingat kutipan dari Novel Olenka karya Budi Darma : "Kesepian adalah saat kita bersama orang-orang yang ingin kita berpura-pura". Secara filosofis, kesepian bukan sekadar ketiadaan orang lain di sekitar kita, melainkan kondisi eksistensial yang mencerminkan keterputusan antara individu dan makna yang ia cari dalam hidup.
Dalam pemikiran eksistensialis, seperti yang diutarakan oleh Søren Kierkegaard dan Jean-Paul Sartre, kesepian adalah bagian dari keberadaan manusia yang menyadari dirinya terlempar ke dunia tanpa pegangan mutlak. Ia muncul ketika seseorang merasa tidak dipahami, meskipun secara fisik dikelilingi oleh banyak orang. Kesepian dalam konteks ini justru membuka ruang kontemplasi: siapa diri kita sebenarnya, apa arti hubungan yang kita jalin, dan bagaimana kita memaknai keberadaan kita di tengah dunia yang hiruk-pikuk namun sering terasa sunyi.
Dan hal ini ditangkap dengan sigap oleh kapitalisme, hingga kesepian dijadikan komoditas dalam industrialisasi. Narasi-narasi tentang kesepian ini penyelesaiannya adalah kita harus melakukan "healing", baik ke cafe, dunia gemerlap malam, maupun ke tempat-tempat pariwisata yang telah disulap menjadi industri yang riuh. Dengan berbagai iklan yang menyergap kesadaran kita. Padahal ketika kita sudah mendatangi tempat -tempat itu, sesudahnya adalah tetap saja yang tersisa hanya sepi. Solusi yang ditawarkan adalah instan dan temporer.
Mengatasi kesepian bukan berarti sekadar mencari keramaian atau menambah daftar pertemanan digital, melainkan membangun kembali kualitas hubungan yang bermakna—termasuk hubungan dengan diri sendiri. Cara terbaik untuk menyelesaikan rasa kesepian adalah dengan merawat koneksi yang tulus, baik dengan orang lain maupun dengan dunia batin kita. Ini bisa dimulai dari keberanian untuk hadir sepenuhnya dalam percakapan, mendengarkan dengan empati, hingga membuka ruang keheningan untuk mengenal diri lebih dalam.
Aktivitas seperti menulis, bermeditasi, atau berkarya secara kreatif sering kali menjadi jembatan untuk menyatukan kembali yang terpisah di dalam diri. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, kesediaan untuk memperlambat langkah dan hadir secara otentik bisa menjadi penawar kesepian yang paling manusiawi.
Di tahun 2000an ada lagu yang saya sukai tentang kesepian, judulnya Kesepian Kita dari grup Band asal Bandung, PAS Band featuring Tere. Dengan personil Yukie ( Vokal ), Beng Beng ( Gitar ), Trisno ( Bass ) dan Sandy ( Drum ), lagu yang muncul di film hits saat itu, Ada Apa Dengan Cinta ( AADC ).
Lagu ini berhasil menggabungkan unsur rock alternatif (ciri khas Pas Band) dengan sentuhan pop yang kuat, terutama melalui vokal Tere. Ada juga sedikit nuansa funk dan hip-hop, pada ritme bass dan drum serta vokal Yukie. Dipadu dengan lirik tentang kesepian dan pencarian makna hidup yang universal sangat menyatu dengan melodi dan aransemennya, memperkuat pesan emosional lagu.
Ingatkah kawan kita pernah berpeluh cacian
Digerayangi dan digeliati kesepian
Walaupun sejenak nafas dari beban
Tuk lewati ruang gelap yang teramat dalam
Hidup ini hanya kepingan yang terasing dilautan
Memaksa kita memendam kepedihan
Arif Gumantia
Madiun, 15 Juni 2025
