Konten dari Pengguna

Sejarah Istilah Puisi Mbeling di Indonesia

arif gumantia

arif gumantia

Ketua Majelis Sastra Madiun

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari arif gumantia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maraknya media sosial ini seriring sejalan dengan maraknya anak-anak muda menulis puisi di status-status medsosnya, yang istilah kekiniannya adalah muisi. Seandainya dilakukan riset sekelas konsultan politik nasional, barangkali akan ditemui puisi-puisi yang bergenre seragam, yaitu liris romantik, cinta-cintaan.

Puisi yang berisi tema-tema cinta, rindu, galau, tersakiti, dan semua yang merasuki hati. Barangkali ada baiknya jika diperkenalkan pada mereka genre puisi yang lain, biar puisi-puisi di medsos jadi beragam, salah satunya adalah puisi mbeling.

Pada mulanya, Puisi Mbeling merupakan nama sebuah kolom pada majalah Aktuil asuhan Remy Sylado yang berlaku pada tahun 1972-1973, untuk menampung kreatifitas anak muda. Kata mbeling berasal dari bahasa Jawa yang berarti nakal, susah diatur, memberontak.

Puisi Mbeling Remy Sylado

Sesuai dengan namanya, puisi mbeling adalah bentuk puisi yang tidak mengikuti aturan-aturan pada penulisan puisi pada umumnya. Tentunya puisi-puisi seperti ini tidak akan bisa masuk ke majalah sastra yang punya ukuran estetika tersendiri.

Dapat dikatakan puisi mbeling ini adalah perlawanan dari anak-anak muda waktu itu karena gerah dengan aturan-aturan estetika puisi yang "njelimet" dan "ndakik-ndakik". Sehingga mereka muisi dengan diksi main-main, tanpa aturan estetika, dan terkadang berisi nyinyiran terhadap puisi-puisi yang ada waktu itu. Meskipun temanya bisa saja sangat seriyes, seperti puisi Remy Silado ini :

Teks Atas Decrates

Orang Perancis

berpikir

maka mereka ada

Orang Indonesia

tidak berpikir

namun terus ada

akan tetapi puisi-puisi tersebut tetap dalam koridor definisi puisi yang baik dan benar jika mengacu pada istilah “Puisi” berasal dari kata Yunani “poiesis” yang artinya “menemukan”. Sebagai penemuan, puisi tentu soal penghayatan, pertanyaan terhadap realitas dalam diri maupun di luar diri. dan bagaimana mencari jawabannya.

Hal ini membuat puisi selalu relevan bagi kehidupan, bahkan signifikan atau penting. Metafora-metafora yang berisi kata-kata sederhana dan cenderung main-main tetap saja bisa mengajak pembacanya untuk dekat dengan kehidupan yaitu tidak mengkerut keningnya untuk berfikir, tapi tersenyum dan terkadang tertawa, karena humor adalah sesuatu hal yang terpisahkan dengan kehidupan.

Seperti puisi “Tak Lari “ karya Yudhistira ANM Massardi

Ketika radio dimatikan

datanglah sepi yang terkenal itu

Sewaktu kopi dihabiskan

matilah lampu. Dan gelap yang terkenal itu datang juga

Padahal, kalau sepi janda-janda pada lari

kalau gelap, perawan-perawan juga lari, ke rumah kekasihnya

Akibatnya banyak orang bunting

lari tak bisa, tak lari tak bisa.

Puisi-puisi seperti ini agaknya harus segera disemarakkan kembali di medsos-medsos kita hari ini, akan tetapi hal ini tentulah tidak mudah, karena sejak di bangku sekolah kita jarang tahu ada puisi-puisi seperti ini, yang ada di buku-buku teks sekolah seringnya ada Chairil Anwar, W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, dan puisi-puisi liris lainnya. Jarang sekali guru bahasa mengajarkan puisi-puisi mbeling saat pelajaran sastra, seperti yang saya alami sendiri.

Sapardi Djoko Damono pernah menulis buku “Bilang Begini Maksudnya Begitu”, ya memang muisi itu seperti itu, sinisme dalam kenyinyirannya, dan sarkasme yang telanjang pun sering ada ironi di dalam diksi-diksi puisi termasuk puisi mbeling. Menurut Sapardi, Ironi inilah sebenarnya terletak inti puisi : “bilang begini, maksudnya begitu”.

Dan meskipun terkesan main-main, saya yakin puisi mbeling pasti tetaplah berasal dari sebuah Proses kreatif. Proses kreatif tentunya dimulai dengan pengamatan sekitar, kondisi terkini, dan pengalaman batin.

Seperti puisi Nelayan karya Jeihan Sukmantoro ini :

Di tengah laut

Seorang nelayan berseru

Tuhan bikin laut

Beta bikin perahu

Tuhan bikin angin

Beta bikin layar

Tiba-tiba perahunya terguling

Akh,

Beta main-main

Tuhan sungguh-sungguh

Mungkin penyair di era sekarang ini yang bisa dikategorikan menulis puisi-puisi mbeling adalah Joko Pinurbo, akrab dipanggil Jokpin, yang masih sering menggunakan diksi jenaka, hal ini bisa mengobati kerinduan pada puisi-puisi mbeling.

Salah satu contohnya adalah puisinya yang berjudul Celana Ibu :

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit

dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang

ke kubur anaknya itu, membawakan celana

yang dijahitnya sendiri dan meminta

Yesus untuk mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.

“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,

Yesus naik ke surga.

Juga pada puisinya tentang kopi :

Kita ini secangkir kopi. Aku cangkirnya, kamu kopinya.

Cangkirnya bergambar kamu, kopinya beraroma aku.

Sebenarnya puisi mbeling ini pas banget dengan kredo dari media sosial yang mengharuskan kita menuliskan sesuatu dengan ringkas, cepat, dan bergegas karena adanya batasan ruang, maka beberapa puisi yang ditulis bisa menjadi semacam ironi dari dunia yang semakin tanpa sekat, seolah olah dekat, tetapi karena hanya di dunia maya maka banyak jiwa jiwa yang terperangkap dalam rindu yang dalam pada dunia nyata.

Dengan demikian sudah saatnya anak-anak muda muisi dengan menghadirkan kembali puisi-puisi mbeling yang semarak di tahun 1970-an.