Konten dari Pengguna

Khalayak dalam Sosiologi Komunikasi dan Media Massa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Rifki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi sosial yaitu suatu hubungan atau komunikasi yang menimbulkan proses saling mempengaruhi antara indivudu atau kelompok (Seorjono Soekanto dalam buku Mahyudin yang berjudul Sosiologi Komunikasi Dinamika Relasi Sosial di dalam Era Virtualisasi 2019).

Dalam sosiologi komunikasi khalayak adalah partisipan aktif dalam membangun dan menginterpretasikan makna atas apa yang mereka baca, dengar dan lihat sesuai dengan konteks budaya (Street, 2001 : 95-97) khalayak sangat berpengaruh dalam membangun budaya sedang menyebar dengan cara mereka membaca, mendengar, melihat dan cara mereka memaknai suatu budaya yang sedang menyebar tersebut.

komunikasi massa biasanya ini dilakukan dengan memanfaatkan media, pemanfaatan yang digunakan ada yang melalui media elektronik televisi, radio, cetak press, misal suratkabar, majalah dan sekarang media tersebut mulai ditinggalkan oleh kebanyakan masyarakat apalagi generasi millenial Khalyak pada saat ini memang sangat erat hubungannya dengan media sosial. Komunikasi masa menurut Bittner, bahwa komunikasi massa yaitu pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. khalayak mengkonsumsi media dalam berbagai cara dan kebutuhan yang menekankan pada pengalaman subyektif seseorang dalam memahami suatu fenomena.

Komunikasi massa dalam mendapatkan audiens melihat pada bagaimana audiens merasakan make sense media sebagai sebuah produk budaya dan bagaimana interpretasi atas apa yang mereka baca, lihat dan dengar Lorimer (1994 : 170). Sering kali kita juga temui budaya populer saat ini, banyak budaya barat atau bahkan KPOP yang sering mendominasi berita di sosial media saat ini dengan begitu, mereka memperkenalkan budaya mereka ke Indonesia secara cuma-cuma dan juga menyebar sangat cepat dan mudah diterima juga dengan baik tanpa memfilter terlebih dahulu.

Peran teknologi pada media massa adalah khalayak saat ini semakin di mudahkan dalam segala sesuatu semakin cepat dan melampaui batas dan semakin tidak ada batasan antar individu dengan individu lainya, dengan zaman yang serba canggih ini informasi sudah bebas di akses jadi masyarakat bisa berpendapat dengan asumsinya masing-masing. dengan hanya kita membuka smartphone yang tersedia jaringan internet kita bisa menikmati pembelajaran secara online bahkan dakwah online. Namun sering kali kita menemukan perdebatan tentang konflik agama dan merasa paling benar dan sebagainya.

Jika kita lihat dari literasi komunikasi massa yakni teori jarum hipodermik yang menganggap bahwa komunikasi massa mempunyai pengaruh yang sangat kuat juga mengasumsikan bahwa para pengola media dianggap sebagai orang yang lebih pintar dibanding audience. Audience, anggota dari masyarakat dianggap mempunyai ciri khusus sehingga tidak ada campur tangan di antara pesan dan penerima dengan artian bahwa pesan yang telah disebarluaskan kepada khalayak tidak ada perantara atau dapat dikatakan sebagai senapan yang langsung diterima oleh sasaran tanpa perantara tanpa adanya penolakan.

Teori ini mengasumsikan media massa mempunyai pemikiran bahwa audience bisa ditundukkan sedemikian rupa atau bahkan bisa dibentuk dengan cara apapun yang dikehendaki media sebagaimana dikatakan oleh Jason dan Anne Hill (1997), media masssa dalam teori Jarum Hipodermik mempunyai efek langsung “disuntikkan” ke dalam ketidaksadaran audience (Nurudin, 2011: 166).

Semakin banyak seseorang yang menghabiskan waktu menonton televisi dari segala jenis program, maka ia akan semakin mengadopsi pandangan dominan mengenai dunia yang ditampilkan di media tersebut atau bisa disebut sebagai teori kultivasi (Quail, 2011: 258). Dengan kehadiran media massa saat ini sangat membantu masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari jadi meskipun kita sudah di mudahkan dengan kehadiranya kita harus bijak dalam menggunakanya dan secukupnya saja. Karna dengan kita sering melihat tayangan di media saat ini kita akan sangat mudah sekali terpengaruh media tersebut. Kita bisa melakukan aktivitas lain selain didepan televisi seperti olahraga atau yang lainya yang juga tak kalah bermanfaat.

Khalayak aktif adalah mereka yang terlibat dalam pengolahan koqnitif aktif dari informasi yang datang dan pengalaman. Namun khalayak pasif bukan berarti buruk karna dapat menunjukkan aktivitas dengan cara selektivitas terhadap apa yang ia tonton dengan cara tidak menonton konten tersebut yang dianggap tidak penting melalui perencanaan penggunaan media dan pola pemilihan yang konsisten. Khalayak tidak pernah pasif atau semuanya adalah anggota yang setara karena terdapat beberapa yang lebih berpengalaman atau lebih aktif daripada yang lain (Quail, 2011: 153) setiap individu memiliki cara tersendiri dalam menyikapi media tergantung dari pengalamannya dan memahami makna dari konteks yang diterima.

Perilaku Khalayak Aktif dalam Komunikasi Massa Berbagai macam perilaku khalayak terhadap media massa melalui komunikasi massa tergantung dari bagaimana ia bersikap jika khalayak aktif akan memberikan sebuah kritikan kepada media tersebut tentang apa yang diberitakan ataukah kesalahan-kesalahan yang dianggap itu tidak pantas untuk ditonton. Menurut Mc Quail (2011: 164)

Arif Rifki Lukmanul Hakim, Mahasiswa, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.