Konten dari Pengguna
Merefleksi Ulang Ketergantungan Digital Global
27 April 2025 12:12 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Merefleksi Ulang Ketergantungan Digital Global
Krisis ketergantungan digital global mendorong negara-negara memperkuat kemandirian teknologi untuk menghadapi risiko politik, biaya tinggi, dan gangguan sistem.
Arif Perdana
Tulisan dari Arif Perdana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sektor teknologi dunia kini menghadapi ketidakpastian baru setelah Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, memberlakukan tarif impor tambahan terhadap berbagai produk, termasuk yang berkaitan dengan teknologi. Berbeda dengan kebijakan tarif di sektor baja atau otomotif, langkah ini membawa potensi gangguan besar pada rantai pasok teknologi global.
ADVERTISEMENT
Lebih dari sekadar isu perdagangan, kebijakan ini mengirimkan sinyal perubahan lanskap geopolitik infrastruktur digital. Bagi pemerintah dan korporasi di seluruh dunia, tantangan utama ke depan adalah menyiapkan diri menghadapi lingkungan teknologi yang makin terfragmentasi dan sarat pertimbangan politik. Pertanyaan besarnya, bagaimana negara-negara seperti Indonesia perlu segera menata ulang strategi digitalnya agar tidak tertinggal.
Rantai Pasok Teknologi yang Rentan
Dampak langsung terhadap perusahaan teknologi besar sangat terasa. Apple, misalnya, sangat bergantung pada manufaktur dan rantai pasok di Tiongkok dan India. Biaya produksi yang meningkat diperkirakan akan membuat harga iPhone meningkat. Konsumen mungkin akan lebih lama mempertahankan perangkat mereka atau beralih ke pilihan yang lebih murah. Ini bisa memperlambat siklus pembaruan produk dan memperluas pasar perangkat bekas.
ADVERTISEMENT
Amazon juga menghadapi tekanan. Banyak barang dagangannya berasal dari impor, dengan Tiongkok sebagai sumber utama. Penghapusan kebijakan de minimis, yang sebelumnya memungkinkan barang bernilai rendah masuk tanpa bea masuk, menambah beban biaya. Segmen produk murah Amazon, yang selama ini dirancang untuk bersaing dengan platform seperti Temu dan Shein, kini terancam. Bila harga naik, Amazon harus memilih, apakah menurunkan marjin keuntungan atau membebankan biaya ke konsumen.
Bagi rumah tangga di AS, ini berarti harga barang teknologi sehari-hari akan naik. Sementara layanan digital belum terkena dampak tarif, kesenjangan antara sektor barang dan layanan bisa mendorong perusahaan beralih ke model berbasis perangkat lunak dan platform. Berbeda dengan sengketa dagang sebelumnya, seperti tarif ban pada 2009 atau tarif baja pada 2018, kebijakan kali ini menyasar jantung integrasi global industri teknologi. Banyak pengamat menyebut ini sebagai pergeseran besar, bukan sekadar taktik tekanan dagang.
ADVERTISEMENT
Kemenangan Semu bagi AS, Peluang bagi Tiongkok
Tujuan utama tarif ini adalah mengurangi ketergantungan AS terhadap Tiongkok dan mendorong produksi kembali ke dalam negeri. Namun, hasilnya tidak otomatis berpihak pada AS. Tiongkok punya kapasitas produksi besar dan infrastruktur ekspor yang tangguh. Meski ekspor ke AS turun, Tiongkok sudah menyiapkan stimulus domestik dan tarif balasan.
Alih-alih melemahkan ambisi teknologi Tiongkok, situasi ini justru bisa mempercepat upaya inovasi dalam negeri. Pembatasan akses terhadap chip canggih telah mendorong perusahaan seperti DeepSeek mengembangkan teknologi sendiri sebagai alternatif ChatGPT. Karena berbasis perangkat lunak dan data, bisnis seperti ini relatif tahan terhadap tarif. Perkembangannya menunjukkan bagaimana Tiongkok bisa beralih ke sektor tak berwujud yang lebih sulit dijerat pembatasan perdagangan tradisional.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, upaya AS mengembalikan produksi chip juga tidak mudah. Infrastruktur, tenaga kerja, dan biaya menjadi tantangan besar. Perusahaan besar mungkin bisa beradaptasi, tapi usaha kecil dan menengah bisa terdampak berat oleh ketidakpastian rantai pasok dan biaya yang membengkak.
Yang lebih mengkhawatirkan, arah ini membuka jalan menuju fragmentasi internet global. Uni Eropa, yang semakin gelisah dengan proteksionisme AS, mempertimbangkan langkah balasan seperti pajak layanan digital, kewajiban lokalisasi data, dan regulasi baru terhadap perusahaan teknologi AS. Ini mengarah ke kondisi yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai “splinternet”, internet yang terpecah menurut blok geopolitik.
Semakin digitalisasi menjadi isu politik, semakin besar kemungkinan negara-negara harus memilih ekosistem teknologi berdasarkan aliansi geopolitik. Layanan cloud, akal imitasi (AI), dan platform digital bisa mencerminkan posisi politik masing-masing negara.
ADVERTISEMENT
Indonesia di Persimpangan
Bagi Indonesia, gejolak perdagangan global ini menimbulkan risiko besar, tapi mungkin juga bisa membuka peluang. Transformasi digital sedang berlangsung, namun masih bergantung pada perangkat keras impor, sebagian besar dari Tiongkok. Jika harga naik tajam, inisiatif inklusi dan transformasi digital bisa melambat. Sektor publik dan swasta akan terkena dampaknya.
Ada tiga langkah awal yang bisa diambil pemerintah. Pertama, memberikan insentif pajak bagi startup teknologi dan UKM yang terdampak naiknya harga perangkat. Kedua, mempercepat investasi dalam infrastruktur digital lokal, seperti pusat data, keamanan siber, dan konektivitas internet di pedesaan. Ketiga, memperkuat kerja sama regional melalui ASEAN dan menjalin kemitraan dengan Uni Eropa untuk membangun standar bersama dalam tata kelola digital dan inovasi.
ADVERTISEMENT
Namun, mengingat kondisi fiskal Indonesia yang sedang melakukan efisiensi anggaran, solusi yang lebih praktikal dan pragmatis juga perlu dipertimbangkan. Pemerintah bisa membuka akses pembiayaan ultra-mikro berbasis digital. Selain itu, penting untuk mendorong BUMN dan perusahaan besar agar mengadopsi skema vendor development, yaitu menginkubasi UKM teknologi lokal agar menjadi bagian dari rantai pasok nasional.
Dari sisi pendidikan dan tenaga kerja, pemerintah bisa bekerja sama dengan sektor swasta untuk mengembangkan program pelatihan berbasis micro-credentials yang murah dan fleksibel, fokus pada keterampilan teknis seperti cloud computing, AI generatif, dan keamanan digital dasar. Program ini bisa dilakukan lewat kemitraan dengan platform pembelajaran daring, tanpa perlu investasi infrastruktur besar.
Selain itu, pragmatisme juga bisa diarahkan ke kebijakan pajak selektif, misalnya, pengurangan bea masuk untuk komponen teknologi yang dibutuhkan oleh pelaku usaha lokal dan sektor pendidikan. Pendekatan seperti ini memungkinkan efisiensi tanpa menunda momentum transformasi digital.
ADVERTISEMENT
Tarif mungkin memberi tekanan jangka pendek, tapi bukan solusi jangka panjang. Pendekatan yang lebih berkelanjutan adalah mendorong inovasi lewat investasi di pusat riset, insentif pada teknologi digital kritikal, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja di bidang AI, keamanan siber, dan teknologi ramah lingkungan. Kemitraan publik-swasta dan kesepakatan internasional soal standar teknologi akan lebih efektif alih-alih pendekatan isolasionis.
Kerentanan global tak hanya datang dari rantai pasok fisik. Insiden pemutakhiran perangkat lunak Falcon milik CrowdStrike pada Juli 2025 melumpuhkan rumah sakit, bandara, dan beberapa institusi kritikal di berbagai negara. Dalam sekejap, satu gangguan teknis berdampak sistemik. Jika tarif Trump mengungkap risiko ketergantungan manufaktur, CrowdStrike menunjukkan rapuhnya infrastruktur digital. Keduanya menegaskan bahwa sistem global, baik fisik maupun digital, terlalu terpusat dan minim cadangan. Ketahanan teknologi kini menjadi keharusan, mencakup logistik, perangkat lunak, hingga arsitektur sistem. Dunia tak bisa lagi mengandalkan model lama. Tantangannya jelas, yaitu membangun sistem yang tangguh, atau tertinggal dalam ketidakpastian.
ADVERTISEMENT
Bagi Indonesia dan ekonomi digital baru lainnya, ini saat yang langka untuk menentukan arah masa depan. Dibutuhkan ketahanan, investasi yang terarah, dan diplomasi yang cermat. Namun lebih dari itu, diperlukan kecermatan dalam memilih prioritas. Ketahanan digital tidak harus mahal, yang penting adalah kolaboratif, terukur, dan tepat guna. Jika dikelola dengan tepat, gejolak hari ini bisa menjadi pijakan menuju dunia digital yang lebih beragam dan inklusif, dunia yang tidak lagi tergantung pada struktur kekuasaan lama, melainkan pada inovasi yang tumbuh dari kebutuhan nyata masyarakat.
Di abad ke-20, kekuatan ditentukan oleh siapa yang menguasai sumber daya fisik. Di abad ke-21, penentunya adalah siapa yang mengendalikan infrastruktur digital, algoritma, dan arus informasi. Dunia sedang menggambar ulang batas-batas digitalnya. Pertanyaannya: siapa yang akan menentukan garisnya, dan siapa yang hanya mengikuti?
ADVERTISEMENT

