Konten dari Pengguna

Pancaroba Global, Dunia Kehilangan Kompas

Arief Pranoto

Arief Pranoto

Pemerhati Masalah Sosial-Geo Politik

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arief Pranoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Presiden Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump saat penandatanganan Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza, Kamis (22/1/2026). Foto: Youtube/The White House
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump saat penandatanganan Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza, Kamis (22/1/2026). Foto: Youtube/The White House

Secara harfiah, pancaroba adalah masa peralihan musim (dari kemarau ke hujan atau sebaliknya). Ini ditandai dengan cuaca tidak menentu, dan banyak angin. Jika dikiaskan pada situasi, dapat diartikan sebagai keadaan serba kalut.

Tak pelak, pancaroba kini menerjang dunia (geo) politik baik di level global, regional maupun nasional. Kondisinya kalut. Serba tak menentu. Tatanan berbasis aturan (rule base order) sudah ditinggalkan. Tapi tatanan berbasis kekuasaan (power-base order) belum mapan. Selain masih mencari bentuk, praktiknya juga menimbulkan pro kontra di sana-sini. Itu karena kekuasaan disandarkan pada kekuatan. Bukan berdasarkan kesepakatan bersama.

Dan agaknya, kontroversi atas tatanan keteraturan dan tatanan kekuasaan tidak hanya terjadi di konsep dan pidato (WEF 2026, Davos) melalui substansi materi pidato Trump, Carney, dan Macron. Nampak power base order vs rule base order bertabrakan. Benturan juga berlangsung pula di level operasional. Di berbagai media sosial Barat muncul pertanyaan, pidato siapa yang terbaik, dan siapa yang sukses meraih simpati publik yang hadir. Trump dianggap sukses karena retorikanya menarik perhatian yang hadir. Bahkan memantik diskusi kalangan intelektual Barat yang tidak hadir. Tentu karena Trump telah "telanjang" menggunakan kekuatan militer untuk memenuhi hasratnya.

Awalnya penempatan militer beberapa anggota NATO di Greenland, dicurigai sebagai false flag operation (operasi bendera palsu). Ini karena NATO merupakan pilar utama yang sejak usai Perang Dunia II turut menopang hegemoni AS ternyata sinyalir itu keliru. Realitas konflik di internal militer Barat antara AS dan Eropa dalam hal ini NATO benar-benar terjadi. Barat mulai retak. Carney mengutip pasal 5 aturan dasar NATO. Artinya, Kanada yang didukung Denmark memperoleh dukungan anggota NATO karena salah satu anggota NATO diserang secara militer.

Trump kemudian mengubah cara. Dia bilang AS mau membeli Greenland. Lalu disahuti Greenland tidak dijual. Vestisen anggota parlemen UE mengatakan, "fuck off, Trump."

Enam Poin Penolakan NATO

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri pertemuan puncak NATO di Den Haag, Belanda, Rabu (25/6/2025). Foto: Toby Melville/REUTERS

Pun tatkala Trump membentuk Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian guna mengakhiri konflik di Gaza. Meski ia telah mengantongi mandat DK PBB-Resolusi 2803 toch beberapa pentolan NATO (Inggris, Prancis, Swedia, Slovenia, Norwegia, Denmark, Spanyol, dll) tetap menolak BoP. Ini menunjukkan, BoP sekadar bermuatan subjektif Trump dan Netanyahu.

Adapun rangkuman penolakan jajaran NATO terhadap BoP, antara lain adalah sebagai berikut:

(1) BoP adalah ancaman terhadap multilateralisme;

(2) Upaya AS untuk mengendalikan kebijakan internasional;

(3) Ancaman terhadap kemandirian negara-negara kecil;

(4) Cara Trump mengendalikan kebijakan internasional;

(5) Tidak melibatkan Palestina sebagai subjek;

(6) Dianggap merusak hukum internasional, dan lainnya.

Pisau FLUX, Bukan Lagi Analisis VUCA

Di sini, pisau FLUX (Fasting, Liquid, Unchartered, Experimental) benar-benar tepat menggantikan analisis VUCA yang hampir tak lagi dijadikan pedoman para analisis geopolitik. Kecepatan perubahan misalnya, atau mencairnya pakta pertahanan, langkah yang tak terpetakan (merambah ke mana-mana). Atau putusan berbasis uji coba cepat dan sebagainya.

Ya. Metode FLUX dapat dijadikan salah satu rujukan guna menganalisis pancaroba di panggung global.

"Aku adalah Dunia"

Setiap pembentukan lembaga internasional hampir pasti menyimpan hidden agenda. Demikian juga dengan BoP bentukan Trump. Niscaya ada agenda tersembunyi yang ingin diraih. Selain terindikasi 6 (enam) poin penolakan jajaran NATO di atas, juga keanehan muncul ketika diikutsertakan Israel di BoP di satu sisi, sementara pada sisi lain-Palestina justru ditinggal. Ini sangat janggal.

Satu lagi kejanggalan, bahwa Trump akan terus menjadi Chairman di BoP meski ia tidak lagi menjadi Presiden AS. Secara filosofis, sepertinya Trump ingin mengatakan:

"Aku adalah dunia; dunia adalah aku". Atau, Aku adalah Raja.

Pertanyaan selidik yang muncul ialah, "Apa prakiraan hidden agenda dari BoP alias Dewan Perdamaian yang diusung oleh Trump?"

Hidden Agenda Dewan Perdamaian

Presiden Prabowo Subianto menujukkan dokumen Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza, Kamis (22/1/2026). Foto: Youtube/The White House

Ada asumsi liar beredar di kalangan pengkaji geopolitik global:

"Israel adalah AS Kecil, sedangkan AS ialah Israel Besar."

Sementara, setiap POTUS wajib memegang dogma, AS adalah pemimpin tunggal yang menguasai tatanan global.

Asumsi tersebut, hingga kini terus berputar-putar di langit geopolitik. Yang jelas setiap vonis terhadap Israel di PBB, AS memveto. Mari kita audit berbasis data dan uji narasi.

Masih Ingat Konsep Israel Raya?

Tak pelak, ini adalah konsep ideologis dan historis yang merujuk pada perluasan kedaulatan Israel ke wilayah lebih luas mencakup Tepi Barat, Jalur Gaza, dan sebagian Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, hingga Mesir.

Berbasis data, bahwa kepentingan AS selama ini di Timur Tengah selalu terkait geoekonomi khususnya energi, stabilitas dolar dan (keamanan) Israel.

Pro kontra gagasan Two-State Solution (solusi dua negara) karena seolah menormalisasi kolonialisme Israel di Palestina, itu patut diduga dalam rangka mengamankan Israel secara eksistensial dengan menggandeng negara non-Barat lainnya. Israel adalah senjata relatif memadai untuk mengendalikan Timur Tengah.

Juga, adanya proyek. Connected Gaza adalah bagian dari megakota yang membentang dari Amman-Tel Aviv melalui Yerusalem, dengan Haifa di utara dan Gaza di selatan, semuanya terhubung melalui infrastruktur, perdagangan, dan spesialisasi, dengan fokus spasial di sekitar empat pusat yang disebut Gateway Gaza, Core Gaza, Wadi Gaza, dan Beach Gaza, dll. Dua gagasan di atas seperti menjawab kenapa Gaza diratakan.

Tolok Ukur MBO

Singkat kata, jika Israel Raya merupakan tujuan pokok, maka Two State Solution dan Connected Gaza adalah sasaran antara.

Hal lain yang tak kalah strategis dari dua hal di atas solusi dua negara dan proyek Connected Gaza bahwa adanya pembangunan Kanal Ben Gurion ini membelah Gaza yang kelak mampu menyaingi Teruzan Suez serta rencana eksploitasi minyak gas di Blok Levent Basin (laut yang tepat di depan Gaza) akan berjalan secara mulus.

Dan menurut Management by Objective (MBO), jika sasaran antara telah tercapai maka identik tujuan utama hampir selesai, bahkan dianggap telah tercapai. Tentu rencana mereka boleh bercerita. Kekuasaan Yang Amat Maha Adil yang memutuskanya.