Konten dari Pengguna

Dalam Diri Brad Jones, Selalu Ada Luca, Anaknya

Arif Utama

Arif Utamaverified-green

just like cactus jack, i quit.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Utama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penjaga gawang Feyenoord, Brad Jones (Foto: Filippo MONTEFORTE / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Penjaga gawang Feyenoord, Brad Jones (Foto: Filippo MONTEFORTE / AFP)

*kalau berkenan, boleh putar You’re Gonna Live Forever In Me-nya John Mayer sebelum membaca artikel ini

Ada satu hal yang tidak pernah dapat kita kontrol, dan itu adalah nasib. Bagi Brad Jones 2010 adalah tahun yang menyenangkan, sekaligus, menyedihkan. Itu adalah tahun ketika kiper berdarah Australia ini berhasil memikat Liverpool atas performanya di Piala Dunia 2010.

Dan tentu saja, Brad Jones bergabung dengan “Si Merah” – klub kesayangannya sejak usianya 5 tahun.

Tahun itu juga, malangnya, adalah tahun di mana anaknya, Luca Jones didiagnosis mengidap leukemia. Itu, tentu saja, merupakan pengalaman hidup yang berat.

“Ke sini (Liverpool, red.) adalah kepindahan terbesar yang pernah aku harapkan. Datang ke klub yang telah aku dukung dari empat, atau lima tahun, sejak aku mendapatkan kostum pertamaku yang dikirim ke Perth,” jelas Jones, sebagaimana dilansir Daily Mail.

“Namun, di sisi lain, kehidupanku, kami… kacau. Aku baru balik dari Piala Dunia sebelum aku tahu Luca sakit. Kami tidak tahu apa yang terjadi, dan bagaimana terjadi, dan bagaimana kemungkinannya terjadi. Jadi, kala kamu punya, di satu sisi, berada id puncak, dan di sisi lainnya berada di bawah. Itulah kami. Ini, susah.”

Kala Jones menyatakan “kami”, ia mengacu pada dirinya, istrinya, Dani, dan anak keduanya, Nico. Luca, yang merupakan anak pertama Jones, lahir dari hubungan Jones sebelumnya, dan Luca, tinggal dengan rumah mantan istrinya di Prancis.

video youtube embed

Situasi macam ini jelas mengacaukan pikiran Jones. Namun di sisi lain, Jones tetap ingin ia menjadi seorang professional. “Dalam kepalamu, kamu berpikir, ‘Aku ingin bersama Luca dan berada bersamanya hingga situasi membaik’,” jelas Jones.

“Tapi, itu adalah masa di mana kamu harus berpikir secara professional. Datang ke Liverpool adalah kesempatan terbesar yang pernah kudapat, dan mungkin, takkan dtang lagi. Jadi aku buat keputusan yang aku inginkan dengan berusaha keras di sini, dan tetap mengunjungi Luca di Perancis. Kami lakukan itu di enam awal pertama.”

Enam bulan itu dimula kala ia berada di suatu hotel di Johannesburg, Afrika Selatan, kala Australia bersiap untuk Piala Dunia. Kala Jones mendapatkan telpon dari mantan istrinya, ia hanya diam. Ia hanya mampu bertanya pertanyaan macam “apakah kau yakin?” atau “bagaimana kau tahu?” dan sejenisnya.

Lalu, ia berupaya datang secepatnya. Ia meninggalkan rekan-rekannya, dan sialnya, mereka tampil buruk tanpanya. Jones merasa bersalah, tapi ia juga merasa itu adalah hal paling benar untuk dilakukan kala itu. “Luca sangat penting, melebihi apapun,” ujar Jones.

Maka ia, di satu kaki, menapakkan komitmen bersama Liverpool FC. Ia benci mendapat belas kasihan dari orang lain, dan memilih bekerja keras untuk membuktikan dirinya pantas menjadi kiper nomor 1. Tapi di sisi lainnya, ia berupaya dengan ekstra keras agar penyakit anaknya bisa terobati. Awalnya, ini tampak lancar.

“Waktu Januari (2011), aku dipanggil untuk Piala Asia. Sebelumnya, Luca telah melakukan transplantasinya. Semua tampak positif. Ia mendapatkan donor,” jelas Jones. “Ngomong-ngomong, tiga bulan berselang, aku mendapatkan telpon bahwa leukemianya kembali. Transplantasinya tak berhasil.”

Pada akhirnya, fokusnya terpecah. Penyakit anaknya membuat kariernya sendri jadi kacau. Ia lebih banyak di Perancis, karena bebannya sebagai ayah. Situasi makin parah kala Liverpool memutuskan memboyong Alexander Doni dari AS Roma. Jones menggambarkan situasi itu macam giginya ditendang.

“Itu tentu sangat sulit. Lalu, belum setengah musim berjalan, kami mendapatkan kabar bahwa tak banyak yang dapat kami lakukan untuk Luca. Bahkan, jika kami mendapatkan transplantasi lainnya, itu takkan bekerja. Dan, itu makin sulit kala sepak bolaku tidak berjalan sebagaimana yang kumau.”

Pada akhirnya, Luca wafat pada November 2011. “Semua orang yang kehilangan seseorang melewati fase yang sama. Waktu di mana kamu merasa jatuh, merasa bersalah, kamu merasa, kamu patut melakukan hal yang lebih. Namun pada akhirnya, kamu tak bisa, kamu hanya bisa pasrah,” ujar Jones.

Kala itu, yang membuat sendunya sedikit berkurang karena Kenny Dalglish, legenda Liverpool itu, turut serta dalam upacara pemakaman anaknya. Pun satu tim Liverpool menggunakan ban hitam di laga kontra Chelsea, sebagai upaya turut berbelasungkawa. Liverpool menang 2-1, dan Glen Johnson bilang, kemenangan itu didedikasikan untuk anaknya.

video youtube embed

Pasca wafatnya Luca, untungnya, ia segera mendapat pelipur lara. Ia, sebagaimana inginnya sejak awal, pada akhirnya berhasil bangkit dengan kakinya sendiri. Pada 10 April 2012, ia menjalani debutnya sebagai kiper substitusi di Ewood Park. Ia menggantikan Pepe Reina, dan menyelamatkan penalti dalam debutnya. Lalu ia debut di FA Cup, di Semi-Final kontra Everton di Wembley. Itu adalah performa terbaiknya.

Ia berjuang dengan sepenuh hati dan jiwanya dan pertandingan usai. Liverpool menang 2-1. Ia mengadahkan tangannya ke langit. Mendedikasikan kemenangan itu untuk anaknya. “Blacburn itu aneh, Wembley itu konyol,” jelas Jones. “Aku berawal dari bukan siapa-siapa ke pertandingan terbesar yang pernah kau dapat. Itu, buram.”

Kini, Brad Jones sudah di Feyernoord. Untungnya, selain di Liverpool, kini ia merasakan cinta anaknya melalui penggemar Feyernoord. Di menit 12, kala Feyernoord bersua dengan VVV-Venlo di De Kuip, penggemar Feyernoord menyanyikan You’ll Never Walk Alone untuk Luca Jones. Itu adalah momen lainnya yang mungkin akan membuat Jones sadar bahwa Luca akan selamanya bersemayam dalam dirinya.