Konten dari Pengguna

Dimadu Duniawi hingga Lupa Menulis

Arif Syamsul Ma'arif
Eks jurnalis - Pengajar Bahasa Indonesia
6 April 2025 9:03 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Arif Syamsul Ma'arif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lelah. Gambar:Shamia Casiano/unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Lelah. Gambar:Shamia Casiano/unsplash
ADVERTISEMENT
Satu per empat abad, bagi kelahiran 2000-an, telah dilalui. Jarang terdengar lagi kokokan dari kawan perihal ajakan vakansi sedetik. Insan kini tak lagi sama, termasuk dengan sejawatnya. Waktu telah merenggut masa-masa tamasya sehingga sang produktif hanyut dalam diri. Dari kejadian ini, hal yang luput dari sang penulis pascakeproduktifan, yang mulai terlepas dari jaring, adalah “menulis”.
ADVERTISEMENT
Bagi penulis, menulis adalah suatu kegiatan reflektif dalam menyikapi fenomena yang carut-marut. Hal ini selaras dengan Fikri dalam Lubis (2023) yang menyebutkan bahwa menulis dapat memperkuat kemampuan beradaptasi dalam menghadapi masalah. Dengan begitu, penulis merasa terlibat dalam peristiwa yang terjadi dengan memberikan suntikan opini yang menggelitik. Hasil itu lantas menasbihkan penulis (serasa) turut andil dalam menyikapi suatu problematika.
Hasil tulisan itu tidak berhenti dalam Microsoft Word, tetapi diusahakan untuk diterbitkan di sejumlah portal media. Kesenangan penulis adalah terbitnya karya yang tidak seberapa itu. Malahan, adanya rekan sejawat yang turut andil membaca hasil karyanya dan memberi tanggapan menjadi spirit yang muncul dalam puncak paripurna kesenangan.

Efek duniawi: ada kegiatan yang terlupakan!

Dewasa ini, insan yang berada di usia produktif sedang gencar-gencarnya memerankan adegan dewasa: bekerja. Perhatian terfokus pada tujuan-tujuan yang harus segera diselesaikan dan direalisasikan. Jam kerja yang padat seakan-akan tidak memberikan ruang bagi insan untuk termangu sejenak karena layar laptop menatap tajam di setiap bagian, dering gawai yang memekik telinga, hingga jemari yang menari kusut membalas pesan di setiap waktu. Dengan demikian, waktu kerja yang membuat menua lantas bikin tubuh ini gontai. Demkh!
ADVERTISEMENT
Dari kegontaian itu, tubuh ini remuk redam. Tidur, berbaring lemah di atas ranjang, adalah kunci menyiasati akhir pekan. Hal itu berlarut-larut terulang di setiap pekannya. Padahal, dalam tembang Jenny: “Menangisi Akhir Pekan”, pendengarnya diajak untuk bersenang-senang di akhir pekan walaupun temponya singkat. Namun, apa boleh buat, semangat lirik itu tak bisa diamini lantaran keinginan tak sejalan dengan kebutuhan.
Saat lelah berkegiatan, hobi seharusnya menjadi dewi fortuna agar kehidupan tak terasa suntuk. Pasalnya, Prasetya (2017) menjabarkan bahwa hobi menjadi suatu pelarian dalam menunjang gaya hidup dalam menghilangkan rasa bosan. Namun, entah mengapa, rasa lelah ini sangat diromantisasi oleh penulis. Kejadian tersebut lantas membuat penulis tidak produktif di luar jam kerja. Kegiatan membaca berita hingga literasi bacaan menjadi terbengkalai. Kegiatan menulis, yang seharusnya menjadi suatu reflektif, tak terlaksanakan. Padahal, si hobi ini perlu dipelihara agar menjadi pelarian diri. Otak ini kadang tak mampu lagi untuk mengeja setiap peristiwa lalu dituangkan ke dalam tulisan. Kini, penulis sadar: duniawi telah memadu diri.
ADVERTISEMENT

Dampak tidak lagi menulis

Tulisan terakhir penulis terbit pada 2 Juni 2024 saat Persib Bandung juara. Setelahnya, tak ada lagi karya yang terhias di Instastory. Dampak melupakan kegiatan menulis amat terasa. Terkadang, penulis selalu menyusun skenario atas isu yang tengah terjadi di blantika maya. Sungguhpun begitu, pondasi tulisan itu tak terbangun menjadi rumah karena sang mandor yang tak lagi mampu. Jari jemari tak mampu berdansa sebab tabungan diksi menjadi kurang dari otak empunya. Awalnya yang ingin terlibat dalam problema nasional lantas tak terlaksana. Kerangka itu hanya imajiner yang menjadi utopis tak berujung.
Jika ditarik ke belakang. Penulis serasa menghianati diri sendiri. Sosok yang dulu pernah jadi wartawan dari lulusan Sastra Indonesia malah libur dalam menghasilkan karya. Tak hanya itu, penulis juga adalah pengajar UTBK yang berfokus pada mata pelajaran PPU dan PBM—identik dengan analisis tulisan. Seharusnya, ini menjadi alarm bahwasanya menulis adalah kodrat yang sudah melekat; tulisan adalah amerta yang nyata. Oleh sebab itu, kehampaan yang menerpa penulis yang terkurung dalam relung duniawi patut diselamatkan dengan kembali menulis.
ADVERTISEMENT

Koda

Tulisan ini hanya menjadi titik awal bangkitnya penulis untuk menulis di kemudian hari. Sepertinya, penulis harus menabung diksi-diksi dengan berliterasi fiksi hingga nonfiksi. Selain itu, penulis pun harus mencari waktu luang untuk berlitarasi. Akan tetapi, yang terpenting adalah cepat-cepat mendapatkan status kerja yang layak agar pekerjaan tidak terus-terusan memadu dengan diri ini!
Daftar pustaka
Lubis, A. H. (2023). Menulis Jurnal Reflektif, Mindfulness, dan Motivasi Belajar Mahasiswa. Terapi menulis ditinjau dari berbagai perspektif, 41.
Prasetya, A. (2017). Hobi Sebagai Representasi Gaya Hidup (Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta).