Konten dari Pengguna

Deadline Mahasiswa: Kenapa “Nanti Saja” Berujung Sistem Kebut Semalam?

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arifahtu Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: dibuat menggunakan AI berdasarkan dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: dibuat menggunakan AI berdasarkan dokumen pribadi

Kehidupan mahasiswa tidak hanya dipenuhi dengan kegiatan perkuliahan dan ujian, tetapi juga berbagai tugas yang memiliki batas waktu pengumpulan. Hampir setiap minggu, mahasiswa dihadapkan pada tugas dari berbagai mata kuliah, mulai dari tugas individu, kelompok, presentasi, laporan, hingga tugas lainnya. Banyaknya tugas dan kegiatan yang harus dijalani membuat mahasiswa perlu membagi waktu dengan baik. Dalam kondisi seperti ini, deadline menjadi salah satu hal yang cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Deadline merupakan batas waktu yang ditentukan untuk menyelesaikan dan mengumpulkan suatu tugas. Bagi mahasiswa, deadline terkadang dapat menimbulkan rasa panik, terutama ketika waktu pengumpulan semakin dekat tetapi tugas belum juga dikerjakan. Padahal, adanya batas waktu sebenarnya dapat membantu mahasiswa menentukan target dan mengetahui kapan suatu tugas harus diselesaikan.

Meskipun begitu, mahasiswa dan deadline sering kali menjadi dua hal yang sulit dipisahkan. Banyak mahasiswa yang sebenarnya sudah mengetahui kapan tugas harus dikumpulkan, tetapi memilih mengerjakannya nanti karena merasa masih memiliki banyak waktu. Misalnya, tugas diberikan pada hari Senin dan dikumpulkan pada hari Jumat. Karena merasa masih memiliki beberapa hari, mahasiswa menunda pekerjaan tersebut sampai waktu pengumpulan sudah dekat. Akibatnya, tugas sering dikerjakan terburu-buru, bahkan beberapa jam sebelum batas pengumpulan.

Kebiasaan tersebut berkaitan dengan prokrastinasi atau kebiasaan menunda pekerjaan. Ada mahasiswa yang merasa tugas belum terlalu mendesak sehingga lebih memilih melakukan kegiatan lain terlebih dahulu. Organisasi, pekerjaan, berkumpul dengan teman, maupun kegiatan lainnya dapat membuat waktu untuk mengerjakan tugas semakin sedikit. Selain itu, kehadiran media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan game juga dapat membuat mahasiswa tanpa sadar menghabiskan waktu lebih lama dari yang direncanakan.

Dari kebiasaan tersebut kemudian muncul istilah SKS atau Sistem Kebut Semalam. Sebagian mahasiswa justru merasa lebih fokus ketika waktu yang tersedia sudah sangat sedikit. Tekanan dari deadline membuat mereka terdorong untuk segera menyelesaikan tugas sehingga pekerjaan terasa lebih cepat dilakukan. Kondisi ini membuat sebagian mahasiswa merasa bahwa bekerja di bawah tekanan justru dapat meningkatkan fokus, meskipun cara tersebut tidak selalu menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.

Sebenarnya, kebiasaan mengerjakan tugas mendekati deadline tidak selalu menunjukkan bahwa mahasiswa malas. Terkadang mahasiswa memang memiliki banyak kegiatan yang harus dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Namun, jika hal tersebut terus terjadi, masalah utamanya berkaitan dengan time management atau manajemen waktu.

Mahasiswa perlu mengetahui tugas mana yang harus diprioritaskan, kapan harus mulai mengerjakannya, dan berapa banyak waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Dengan manajemen waktu yang baik, tugas tidak harus selalu dikerjakan ketika deadline sudah dekat. Sebagai contoh, jika tugas diberikan pada hari Senin dan dikumpulkan pada hari Jumat, mahasiswa dapat membagi pekerjaan menjadi beberapa bagian secara bertahap.

• Hari Senin: Digunakan untuk mencari sumber referensi dan memahami materi tugas.

• Hari Selasa: Digunakan untuk membuat kerangka tulisan (outline).

• Hari Rabu: Digunakan untuk mengerjakan isi tugas.

• Hari Kamis: Digunakan untuk memeriksa kembali (self-editing) hasil pekerjaan.

Dengan metode bertahap ini, tugas dapat diselesaikan tanpa beban yang menumpuk di akhir, dan terasa lebih ringan.

Kebiasaan mengerjakan tugas mendekati deadline tidak hanya berpengaruh pada hasil tugas yang dikumpulkan, tetapi juga pada kehidupan mahasiswa. Ketika tugas yang seharusnya dikerjakan secara bertahap justru ditunda, beberapa tanggung jawab akademik dapat menumpuk dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, mahasiswa harus membagi fokus ke banyak tugas sekaligus dan merasa kewalahan.

Salah satu dampak yang paling sering dirasakan adalah stres dan kelelahan. Ketika deadline semakin dekat tetapi tugas belum selesai, rasa panik mulai muncul. Mahasiswa bahkan dapat menghabiskan waktu sampai larut malam atau begadang untuk mengejar tugas. Jika hal ini terlalu sering dilakukan, waktu istirahat berkurang dan kondisi tubuh menjadi lebih mudah lelah. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membuat mahasiswa semakin lelah secara fisik dan mental.

Kebiasaan mengejar deadline juga dapat memengaruhi kualitas tugas dan proses belajar. Ketika tugas dikerjakan terburu-buru, mahasiswa tidak mempunyai cukup waktu untuk mencari sumber yang sesuai, memahami materi, menyusun ide, dan memeriksa kembali hasil pekerjaannya. Akhirnya, fokus utama hanya tertuju pada aspek “selesai dan mengumpulkan tepat waktu.” Tugas memang selesai, tetapi mahasiswa belum tentu benar-benar memahami materi yang dikerjakan.

Selain itu, kebiasaan menunda juga dapat semakin sulit untuk dihilangkan karena dilakukan berulang kali. Ketika mahasiswa berhasil menyelesaikan tugas beberapa jam sebelum deadline, muncul anggapan keliru bahwa cara tersebut aman untuk diulangi. Pada tugas berikutnya, mahasiswa kembali menunda dengan alasan yang sama, yaitu “nanti juga selesai.” Akhirnya terbentuk pola yang terus berulang: tugas diberikan, ditunda, waktu semakin sempit, mulai panik, lalu mengerjakan dengan sistem kebut semalam.

Namun, deadline sendiri sebenarnya tidak selalu memberikan dampak buruk. Jika dikelola dengan baik, deadline dapat melatih mahasiswa untuk menentukan prioritas, membuat target, bertanggung jawab, dan mengatur waktu. Karena itu, masalahnya bukan pada adanya deadline, tetapi pada bagaimana mahasiswa menggunakan waktu sebelum batas tersebut tiba.

Mahasiswa juga memiliki alasan yang berbeda-beda untuk mulai menyelesaikan tugas sebelum deadline. Ada yang ingin mendapatkan hasil tugas yang lebih baik, memiliki waktu untuk memeriksa pekerjaan, atau merasa lebih tenang karena tugas sudah selesai lebih awal. Dari pengalaman menghadapi tugas yang menumpuk, mahasiswa dapat menyadari pentingnya mengubah kebiasaan dan mulai mengerjakan tugas secara bertahap.

Pada akhirnya, budaya deadline memang sudah cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Mengandalkan waktu yang tersisa sesekali mungkin masih bisa terjadi, tetapi jika menjadi kebiasaan, hal tersebut dapat meningkatkan stres, mengganggu waktu istirahat, dan menurunkan kualitas tugas. Oleh karena itu, mahasiswa perlu belajar mengatur waktu dan menyelesaikan tugas secara bertahap.

Kuliah bukan hanya tentang menyelesaikan tugas dan mendapatkan nilai, tetapi juga tentang belajar menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan mampu mengatur diri sendiri. Deadline sebaiknya dijadikan sebagai batas untuk membantu mahasiswa menyelesaikan pekerjaan, bukan sebagai alasan untuk terus menunda.