Konten dari Pengguna

Mahasiswa dan Budaya Membaca: Masihkah Buku Punya Tempat di Era Digital?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arifahtu Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustration Cozy Study Session Reading in the Digital Age (Sumber: dibuat menggunakan AI berdasarkan dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustration Cozy Study Session Reading in the Digital Age (Sumber: dibuat menggunakan AI berdasarkan dokumen pribadi)

Bayangkan seorang mahasiswa membuka laptop untuk mencari bahan tugas kuliah. Awalnya, ia berniat membaca satu artikel sampai selesai. Namun, pesan grup masuk, notifikasi bermunculan, dan perhatian mulai teralihkan. Tanpa disadari, waktu yang seharusnya digunakan untuk memahami materi justru habis untuk berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya.

Situasi seperti ini terasa dekat dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Akses informasi semakin mudah, tetapi mempertahankan fokus saat membaca masih menjadi tantangan tersendiri. Di tengah kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat, muncul pertanyaan: apakah membaca masih menjadi bagian penting dari kehidupan mahasiswa, atau hanya dilakukan ketika ada tugas dan ujian?

Terbiasa Membaca, tetapi Belum Tentu Memahami

Setiap hari, mahasiswa sebenarnya berhadapan dengan banyak tulisan, mulai dari pesan singkat, unggahan media sosial, berita, hingga materi perkuliahan. Akan tetapi, membaca informasi singkat tidak selalu sama dengan memahami bacaan secara mendalam.

Dalam kegiatan akademik, mahasiswa perlu membaca untuk menemukan gagasan utama, memahami hubungan antarkonsep, serta menilai apakah suatu informasi dapat dipercaya. Proses tersebut membutuhkan perhatian dan kemauan untuk memahami isi bacaan, bukan sekadar menyelesaikan halaman demi halaman.

Ketika kebiasaan membaca hanya berorientasi pada kecepatan, ada risiko informasi diterima tanpa dipikirkan kembali. Mahasiswa mungkin mengetahui sebuah topik dari unggahan singkat, tetapi belum tentu memahami konteks dan persoalan yang melatarbelakanginya.

Karena itu, tantangannya bukan sekadar membuat mahasiswa lebih sering membaca. Hal yang tidak kalah penting adalah membiasakan mereka membaca dengan teliti, mempertanyakan informasi, dan memahami isi tulisan sebelum mengambil kesimpulan.

Buku Tidak Harus Selalu Berbentuk Kertas

Perkembangan teknologi sebenarnya membuka lebih banyak jalan bagi mahasiswa untuk membaca. Buku elektronik, perpustakaan digital, artikel pendidikan, dan sumber bacaan daring memungkinkan pengetahuan diakses dengan lebih praktis. Mahasiswa pun tidak harus selalu membawa buku cetak untuk mendapatkan informasi baru.

Buku digital juga dapat menjadi pilihan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, terutama ketika mereka membutuhkan referensi untuk tugas atau ingin mempelajari materi tambahan. Namun, kemudahan mengakses bacaan belum tentu membuat seseorang langsung terbiasa membacanya.

Di sinilah penggunaan teknologi perlu diarahkan. Ponsel yang sering menjadi sumber gangguan juga dapat dimanfaatkan untuk menyimpan buku, menandai bagian penting, atau membaca artikel yang sesuai dengan minat. Artinya, membangun budaya membaca bukan berarti harus menjauhi teknologi, melainkan belajar menggunakannya dengan lebih terarah.

Mengapa Membaca Sering Menunggu Tugas?

Kesibukan kuliah, tugas kelompok, organisasi, dan aktivitas pribadi dapat membuat mahasiswa kesulitan menyediakan waktu untuk membaca. Tidak sedikit pula yang baru membuka buku ketika menghadapi ujian atau harus menyelesaikan tugas dari dosen.

Jika membaca hanya dilakukan saat ada tuntutan akademik, kegiatan tersebut mudah terasa sebagai beban. Padahal, membaca juga bisa menjadi cara untuk mengenali minat, memahami persoalan sehari-hari, dan memperluas wawasan di luar materi perkuliahan.

Mahasiswa tidak harus langsung menargetkan membaca satu buku dalam seminggu. Memulai dari satu artikel yang menarik atau beberapa halaman setiap hari sudah cukup untuk membangun rutinitas awal. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten lebih realistis daripada target besar yang hanya bertahan beberapa hari.

Kampus Juga Punya Peran

Budaya membaca tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa secara pribadi. Lingkungan kampus juga dapat membantu menciptakan suasana yang mendukung kegiatan tersebut.

Dosen, misalnya, dapat mendorong mahasiswa menggunakan beragam sumber bacaan dan mendiskusikan isinya, bukan sekadar meminta jawaban akhir dari suatu tugas. Perpustakaan kampus juga dapat menjadi ruang yang nyaman untuk belajar, sementara komunitas mahasiswa bisa mengadakan diskusi buku atau berbagi rekomendasi bacaan.

Kegiatan tersebut dapat membuat membaca terasa lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa. Buku tidak lagi dipandang hanya sebagai sumber teori yang harus dihafalkan, tetapi sebagai sarana untuk menemukan gagasan dan bertukar pandangan.

Menjadikan Membaca sebagai Kebiasaan

Pada akhirnya, buku masih memiliki tempat di era digital. Bentuknya mungkin berubah, sumbernya semakin beragam, dan cara mahasiswa mengaksesnya semakin praktis. Namun, kebutuhan untuk memahami informasi secara mendalam tetap penting dalam proses belajar.

Mahasiswa dapat memulainya dengan menyediakan waktu khusus untuk membaca, mematikan notifikasi sementara, dan memilih bacaan sesuai minat. Setelah membaca, cobalah merangkum satu gagasan utama atau mengajukan pertanyaan tentang isi tulisan. Langkah sederhana ini membantu membaca menjadi kegiatan yang lebih aktif.

Budaya membaca tidak terbentuk hanya karena seseorang memiliki banyak buku atau akses internet yang cepat. Kebiasaan itu tumbuh ketika membaca menjadi bagian dari keseharian, bukan sekadar kewajiban menjelang ujian.

Di tengah arus informasi yang terus bergerak, mahasiswa perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak, membaca dengan cermat, dan memahami apa yang sedang dipelajari. Sebab, bukan hanya banyaknya informasi yang menentukan luasnya pengetahuan, melainkan juga bagaimana informasi tersebut dipahami dan digunakan.