Konten dari Pengguna

Menjual Privasi di Era Ekonomi Atensi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Al Anang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok: AI
zoom-in-whitePerbesar
Dok: AI

Tak pernah dalam sejarah manusia perhatian memiliki harga semahal hari ini. Di media sosial, perhatian dapat dikonversi menjadi uang, popularitas, hingga kontrak iklan. Persoalannya, untuk memperoleh perhatian itu semakin banyak orang rela menjual sesuatu yang dahulu dianggap tak ternilai: ruang privat keluarganya sendiri. Pertengkaran suami-istri direkam, percakapan pribadi diunggah, pengalaman malam pertama diceritakan, bahkan konflik rumah tangga disajikan layaknya serial hiburan. Privasi perlahan berubah menjadi komoditas.

Fenomena tersebut bukan lagi peristiwa yang berdiri sendiri. Ia muncul berulang di berbagai platform digital dan menemukan panggung terbesarnya di TikTok. Survei Profil Internet Indonesia 2025 yang diterbitkan APJII mencatat jumlah pengguna internet nasional mencapai 229,43 juta jiwa atau 80,66 persen dari total penduduk Indonesia. Sebagian besar mengakses media sosial, sementara lebih dari sepertiga menghabiskan empat hingga enam jam setiap hari di ruang digital. Artinya, kehidupan privat kini tidak lagi berhenti di ruang keluarga, tetapi dapat dikonsumsi oleh jutaan pasang mata melalui algoritma yang bekerja tanpa henti.

Membaca fenomena ini semata sebagai kemerosotan moral tentu terlalu sederhana. Yang sesungguhnya sedang berubah adalah struktur ekonomi digital. Michael Goldhaber (1997) sejak akhir 1990-an telah mengingatkan bahwa perhatian manusia akan menjadi mata uang paling berharga dalam masyarakat informasi. Prediksi itu kini menjadi kenyataan. Platform digital tidak terutama menghargai konten yang paling bermanfaat, melainkan konten yang paling mampu membuat orang berhenti menggulir layar, menonton lebih lama, berkomentar, lalu membagikannya kepada pengguna lain.

Di sinilah logika algoritma bekerja. Ia tidak mengenal benar atau salah, apalagi pantas atau tidak pantas. Yang dibacanya hanyalah keterlibatan pengguna (engagement). Menurut Tim Wu (2016) semakin lama suatu konten ditonton, semakin tinggi peluangnya direkomendasikan kepada lebih banyak orang. Akibatnya, sensasi hampir selalu lebih kompetitif daripada pengetahuan. Konten edukasi membutuhkan riset dan kreativitas untuk memperoleh perhatian, sedangkan konflik rumah tangga atau pembahasan kehidupan seksual mampu memancing rasa ingin tahu publik hanya dalam hitungan detik.

Fenomena ini juga menunjukkan apa yang oleh Byung-Chul Han (2015) disebut sebagai the transparency society. Menurut Han, masyarakat digital hidup di bawah dorongan untuk terus memperlihatkan dirinya. Privasi tidak lagi dipahami sebagai ruang yang harus dijaga, tetapi dianggap penghalang bagi pengakuan sosial. Semakin terbuka kehidupan seseorang, semakin besar peluang memperoleh perhatian. Dalam budaya seperti ini, eksistensi sering kali diukur bukan dari kualitas karya, melainkan dari tingkat visibilitas.

Namun keterbukaan itu tidak pernah benar-benar gratis. Shoshana Zuboff (2019) menyebutnya sebagai surveillance capitalism, yaitu sistem ekonomi yang menjadikan pengalaman manusia sebagai bahan baku keuntungan. Aktivitas sehari-hari, emosi, relasi keluarga, hingga kehidupan rumah tangga diperlakukan sebagai sumber data sekaligus komoditas ekonomi. Apa yang dahulu bersifat personal kini memiliki nilai tukar karena mampu menghasilkan lalu lintas pengguna, iklan, dan keuntungan bagi platform.

Logika tersebut semakin menguat seiring berkembangnya creator economy. Goldman Sachs (2023) memperkirakan nilai ekonomi kreator global akan mendekati US$480 miliar pada 2027. Sementara itu, studi TikTok bersama Accenture Song memperkirakan kontribusi ekonomi kreator di Indonesia dapat mencapai US$376 miliar pada 2030. Pada saat yang sama, laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan ekonomi digital Indonesia telah mencapai sekitar US$99 miliar. Angka-angka itu memperlihatkan bahwa perhatian publik kini dapat diubah secara langsung menjadi pendapatan melalui iklan, afiliasi, hadiah digital, maupun kerja sama komersial.

Paradoksnya, perhatian publik tidak pernah mengenal kata cukup. Konten yang hari ini viral akan segera kehilangan daya tariknya. Demi mempertahankan jumlah penonton, kreator didorong terus meningkatkan intensitas sensasi. Dari sekadar berbagi aktivitas sehari-hari, bergeser menjadi membuka konflik rumah tangga, lalu memasuki wilayah yang semakin intim. Di titik inilah privasi mengalami komodifikasi: sesuatu yang semula memiliki nilai moral berubah menjadi barang yang dipertukarkan di pasar digital.

Tentu tidak semua kreator memilih jalan tersebut. Banyak yang tetap menghadirkan konten edukatif dan inspiratif. Karena itu, persoalannya tidak dapat dibebankan kepada individu semata. Desain algoritma, ekspansi ekonomi kreator, dan tingginya permintaan publik terhadap konten sensasional membentuk insentif yang saling menguatkan. Selama perhatian menjadi mata uang utama, selalu ada godaan untuk mempertaruhkan ruang privat demi keuntungan ekonomi.

Tradisi Islam justru bergerak ke arah yang berlawanan. Al-Quran menempatkan kehormatan manusia sebagai nilai yang harus dijaga, sementara Nabi Muhammad SAW mengecam orang yang membuka rahasia hubungan suami-istri kepada publik. Prinsip ḥifẓ al-'ird dalam maqāṣid al-syarī'ah menegaskan bahwa menjaga kehormatan keluarga bukan sekadar etika individual, melainkan fondasi kehidupan sosial. Tidak semua yang halal layak dipertontonkan, dan tidak semua pengalaman pribadi pantas dikomersialkan.

Karena itu, solusi persoalan ini tidak cukup berhenti pada seruan moral kepada para kreator. Literasi digital perlu mengajarkan batas antara berbagi pengalaman dan mengeksploitasi kehidupan pribadi. Platform digital harus didorong lebih transparan dalam tata kelola algoritma, sementara publik perlu menyadari bahwa setiap tayangan, komentar, dan share merupakan suara yang menentukan konten seperti apa yang akan terus diproduksi.

Jika kondisi ini terus berlangsung, yang perlahan menghilang bukan hanya ruang privat, melainkan kesadaran kolektif bahwa tidak semua hal harus dipublikasikan, tidak semua pengalaman layak dikomersialkan, dan tidak semua perhatian pantas dibeli dengan harga sebuah martabat. Mungkin inilah ironi terbesar ekonomi digital hari ini, ketika privasi menjadi mata uang baru, yang sesungguhnya kita pertaruhkan bukan sekadar data atau cerita pribadi, melainkan batas-batas kemanusiaan itu sendiri.