Terima Kasih, Kolonel Laut (P) Harry Setyawan

Bekerja sebagai jurnalis sejak 1999. Berawal di Harian Politik Monitor, lanjut ke detikcom. Per Oktober 2016 menapaki babak baru di kumparan (www.kumparan.com)
Konten dari Pengguna
26 April 2021 11:38
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Arifin Asydhad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Terima kasih atas kebersamaan selama dua hari di Natuna
Terima kasih telah mengajari bermain paddle di perairan Natuna
ADVERTISEMENT
Terima kasih atas diskusi yang menarik tentang pentingnya menjaga Natuna
Terima kasih atas dedikasimu terhadap kedaulatan Indonesia
Selamat jalan, Kolonel…
Saya mengenal Kolonel Laut (P) Harry Setyawan saat mendampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada Mei 2019 dalam kunjungan ke Natuna. Sebelumnya, saya mendampingi Bu Susi dalam prosesi peledakan 13 kapal ikan asing—yang terbukti melakukan illegal fishing—secara serentak di tiga tempat berbeda: Natuna (Kepulauan Riau), Belawan (Sumatera Utara), dan Pontianak (Kalimantan Barat), pada Sabtu, 11 Mei 2019.
Peledakan kapal ikan asing dan kunjungan ke Natuna ini dilakukan di bulan Ramadhan 1440 H. Artinya, pertemuan saya dengan Kolonel Harry sudah berusia 2 tahun kalender Hijriah. Tidak ada pertemuan lagi setelah itu, sampai Kolonel Harry dinyatakan gugur bersamaan tenggelamnya Kapal Selam KRI Nanggala-402 di perairan Bali yang juga tepat di bulan Ramadhan 1442 H ini. Kolonel Harry yang menjabat sebagai Komandan Satuan Kapal Selam (Dansatsel) Koarmada II berada di dalam kapal selam buatan Jerman 1971 itu bersama 52 awak lainnya.
ADVERTISEMENT
Seusai peledakan kapal ikan asing pada pagi hingga siang hari, saya dan bersama pejabat KKP beserta rombongan lain kemudian mengikuti pelepasliaran ikan Napoleon oleh Bu Susi di pinggir pantai perairan Natuna pada sore hari. Kolonel Harry yang saat itu menjabat sebagai Dan Lanal Ranai, Natuna, juga ikut mendampingi. Bahkan, menurut Bu Susi, Kolonel Harry ini selalu mendukung semua kegiatan Bu Susi selama di Natuna, termasuk dalam penangkapan kapal-kapal ikan pelaku illegal fishing.
Di sela-sela acara ini, saya bertemu Kolonel Harry dan sempat berkenalan dan berbincang-bincang sebentar di rumah Bu Susi yang berada di pinggir pantai perairan Natuna. Bahasan perbincangan tentang kapan mulai bertugas di Natuna dan pentingnya Natuna sebagai wilayah perbatasan Indonesia. Kolonel Harry saat itu mengaku sudah setahun bertugas sebagai Dan Lanal Ranai dan banyak tantangan yang ia hadapi.
Kebersamaan Bu Susi (baju biru di depan) dan Kolonel Harry (paling kanan mengangkat tangan) terlihat di foto ini.
zoom-in-whitePerbesar
Kebersamaan Bu Susi (baju biru di depan) dan Kolonel Harry (paling kanan mengangkat tangan) terlihat di foto ini.
Dua jam menjelang Matahari tenggelam, Bu Susi mengajak rombongan, termasuk saya, untuk menikmati indahnya laut Natuna dengan bermain paddle board. Sebagaimana biasa, dalam setiap kunjungan ke daerah, Bu Susi selalu bermain paddling. Ini kali kedua saya mencoba paddle board bersama Bu Susi. Yang pertama, saya lakukan beberapa bulan sebelumnya di Pantai Pangandaran, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
Suasana sore yang indah dengan sinar Matahari yang sudah mulai redup, saya dan rombongan termasuk Kolonel Harry bergerak mengikuti jalur Bu Susi. Ombak cukup bersahabat, meski arus cukup deras. Bila di Pangandaran saya masih sambil duduk saat mengayuh paddle, kali ini di Natuna saya coba berdiri tegak di atas paddle board. Maksudnya, biar gak malu-maluin, he-he-he. Wow! Alhamdulillah berhasil. Saya pun tidak sempat jatuh, sebagaimana saat mencoba paddle board pertama kali di Pangandaran. Rambut saya pun tetap kering.
Ketika saya berdiri di atas paddle board. | Fotografer: Didik Heryanto
zoom-in-whitePerbesar
Ketika saya berdiri di atas paddle board. | Fotografer: Didik Heryanto
Cukup jauh mengayuh paddle menuju ke tengah, kira-kira kalau tidak salah sampai sekitar 2 km dari pantai. Di tengah laut, Bu Susi istirahat sebentar sambil melihat-lihat suasana laut. Saya dan Kolonel Harry yang saat itu berdampingan, sempat berbincang lagi. Tidak membahas hal serius, hanya membahas tips dan trik bermain paddle board. Sebagai prajurit TNI AL, Kolonel Harry sangat mahir menggunakan paddle board. Lumayan, dapat ilmu dari Kolonel Harry.
ADVERTISEMENT
Dari bincang-bincang itu, Kolonel Harry sempat menyinggung bahwa rambut saya belum terlihat basah. “Kalau di Natuna, semua tubuh harus tersiram air laut,” kata dia berkelakar. Saya memang menjaga betul saat bermain paddle agar tidak jatuh dari paddle board. Saya sengaja juga tidak menjatuhkan diri ke laut. Sebab, saat itu saya masih tetap berpuasa Ramadhan. Dan sekitar 1,5 jam lagi waktu berbuka. Sayang, kalau sudah masuk mencebur air laut, akhirnya terjadi sesuatu, puasa jadi batal.
Di saat kembali menuju pinggir pantai, Bu Susi sempat mampir ke sebuah pulau kecil beberapa menit. Saya, Bu Susi, dan rombongan sempat berfoto bersama dengan Kolonel Harry. Tak lama kemudian, rombongan kembali ke rumah Bu Susi, mengakhiri bermain paddle board untuk bersiap buka bersama. Setelah buka bersama dan makan malam, saya dan rombongan bergerak ke penginapan. Begitu juga Kolonel Harry pamit undur diri.
ADVERTISEMENT
Tidak banyak waktu berinteraksi dengan Kolonel Harry. Tapi, dari pertemuan yang sebentar itu, saya melihat bahwa Kolonel Harry merupakan prajurit TNI yang berdedikasi, tegas, pemberani dan sekaligus pribadi yang ramah.
Hanya semalam di Natuna. Paginya, Minggu 12 Mei, saya harus terbang kembali ke Jakarta. Esok harinya, Senin 13 Mei pagi hari, Kolonel Harry mengirimkan WA ke saya, mengirim foto-foto saya saat bermain paddle board Sabtu sore lalu.
Kolonel Harry dan saya. | Fotografer: Didik Heryanto
zoom-in-whitePerbesar
Kolonel Harry dan saya. | Fotografer: Didik Heryanto
“Selamat pagi Pak. Share foto giat kemarin dari fotografernya Bu Susi,” kata Kolonel Harry.
“Makasih Ndan,” jawab saya.
“Baik Pak,” kata Kolonel Harry lagi.
“Ini keren Pak Harry… ha ha,” kata saya lagi me-reply foto berdua saya dengan Kolonel Harry.
“Belum basah, tapi,” kata Kolonel Harry.
ADVERTISEMENT
“Ha ha ha. Maksud kemarin belum basah, agar saya bisa datang lagi ke Natuna,” jawab saya.
“Iya, biar ke sini lagi, Pak,” kata Kolonel Harry.
“Siap. Insyaallah kembali ke sana, Pak,” jawab saya.
“Baik Pak ditunggu,” tutup Kolonel Harry.
Setelah pertemuan di Natuna, saya belum pernah bertemu lagi dengan mantan Komandan KRI Nagapasa-403 ini. Lima bulan setelah pertemuan di Natuna, saya mendapat informasi, pada Oktober 2019, Kolonel Harry mendapat jabatan baru sebagai Asisten Operasi Komandan Gugus Keamanan Laut (Asops Danguskamla) Koarmada I Batam. Tak lama kemudian, dia menjadi staf ahli panglima, sekaligus mengikuti Pendidikan Reguler (Dikreg) Sesko TNI Angkatan XLVII. Dia lulus dari Sesko TNI pada pada Desember 2020.
Bulan Maret 2021, dia ditugaskan sebagai Komandan Satuan Kapal Selam yang membawahi seluruh kapal selam di bawah Koarmada II. Tak disangka, baru sebulan menjabat, Kolonel Harry gugur bersama 52 awak KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan Bali. KRI Nanggala-402 tenggelam di kedalaman 838 meter.
ADVERTISEMENT
Dengan lulusnya dari Sesko TNI, seharusnya Kolonel Harry tidak lama lagi akan mendapat jabatan untuk bintang satu (Laksamana Pertama). Namun Allah SWT berkehendak lain. Selamat jalan Kolonel Harry, semoga mati syahid.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·