Impian atau Pinjaman: Mahasiswa Terperangkap dalam Jerat Gaya Hidup

Arifin Dwi Febrian
Student of English literature 2023, Universitas Airlangga
Konten dari Pengguna
9 Juni 2024 16:14 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Arifin Dwi Febrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ilustrasi pinjaman online https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,q_auto:best,w_1280/v1563931143/t7tbjxobvfand3wwsfos.jpg
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi pinjaman online https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,q_auto:best,w_1280/v1563931143/t7tbjxobvfand3wwsfos.jpg
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Dalam era modern ini, dengan akses mudah terhadap informasi, generasi muda memiliki peluang besar untuk memasuki perguruan tinggi. Namun, di balik glamor kehidupan mahasiswa, banyak yang terjebak dalam pinjaman online. Mereka tergoda untuk menjalani gaya hidup mahal di perguruan tinggi, tanpa mempertimbangkan risiko finansial yang tinggi. Dikutip dari (Pangaribowo dan Rusiana,2023) Puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMY) diketahui terjerat pinjaman online (pinjol), diketahui uang pinjamannya untuk membeli ponsel dan motor baru. Mahasiswa merasa perlu menyesuaikan gaya hidup konsumtif mereka dengan mengambil pinjaman online karena sumber daya keuangan terbatas. Akan tetapi, mereka tidak menyadari tingginya suku bunga dan biaya tersembunyi yang harus dibayar untuk pinjaman tersebut. Dampaknya tidak hanya pada keuangan, tetapi juga pada kesehatan mental dan fisik mereka akibat tekanan utang yang menumpuk.
ADVERTISEMENT
Pemerintah memainkan peran penting dalam penanganan masalah ini. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat pengetahuan yang terbatas tentang suku bunga dan biaya terkait. Dalam hal proses pengajuan dan konsekuensi utang, sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan dalam pemahaman mahasiswa tentang pinjaman online, yang dapat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi atau pendidikan mereka (Yudianto,2023). Mereka harus menyediakan pendidikan keuangan yang lebih luas kepada mahasiswa dan mengatur serta memantau penyedia pinjaman online. Nasihat dan dukungan juga harus diberikan kepada mahasiswa yang memiliki utang online untuk membantu mereka mengelola keuangan dengan lebih baik. Kerjasama dari semua pihak sangat penting untuk mengatasi masalah ini secara efektif. Pemerintah, universitas, organisasi mahasiswa, lembaga keuangan, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan menguntungkan bagi mahasiswa untuk belajar dan berkembang, tanpa terjerumus ke dalam perangkap pinjaman.
ADVERTISEMENT
Peningkatan pengetahuan keuangan juga sangat penting. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang risiko pinjaman online dan pengelolaan keuangan yang bijak, mahasiswa dapat menghindari jebakan utang dan mengelola keuangan mereka dengan lebih baik. Ini akan membantu mereka mewujudkan impian tanpa harus membayar terlalu mahal. Melalui upaya kolektif dan komitmen yang kuat, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi siswa untuk berkembang tanpa beban hutang. Ini merupakan langkah penting menuju masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Daftar Pustaka
Media, K.C. (2023). Soal Mahasiswa Terjerat Pinjol, OJK DIY: Jangan untuk Konsumtif, apalagi untuk Gaya Hidup. [online] KOMPAS.com. Available at: https://yogyakarta.kompas.com/read/2023/09/13/155656378/soal-mahasiswa-terjerat-pinjol-ojk-diy-jangan-untuk-konsumtif-apalagi [Accessed 8 Jun. 2024].
Ary Yudianto (2023). PERSEPSI DAN PENGETAHUAN MAHASISWA TENTANG PINJAMAN ONLINE (MAHASISWA STIA AMUNTAI). Sentri, 2(12), pp.5142–5155. doi:https://doi.org/10.55681/sentri.v2i12.1899.
ADVERTISEMENT