Virtual Reality dan Jurnalisme: Membawa Penonton Masuk ke Dalam Berita

Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang aktif sebagai Public Relations di Kejar Mimpi Tangerang Selatan dan Program Development di komunitas BySEHATI. Tertarik pada isu seputar komunikasi, pengembangan diri, dan peran anak muda dalam komunitas.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arif Maulana Alwidan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bayangkan jika korupsi atau bencana alam bisa Anda 'alami' langsung melalui VR. Apakah teknologi ini akan mengubah cara kita memandang dan peduli terhadap isu sosial?

Apa Itu VR dalam Jurnalistik?
Virtual Reality mulai menarik perhatian industri berita pada awal 2010-an. Salah satu contohnya adalah proyek The Displaced oleh The New York Times. Proyek ini mengajak penonton melihat kehidupan anak-anak pengungsi melalui headset VR, menciptakan pengalaman di mana audiens tidak hanya membaca cerita, tetapi seolah berada di tengah-tengah situasi tersebut. Hal ini memberikan dimensi emosional yang lebih dalam.
“Dengan VR, kita bisa benar-benar membawa audiens masuk ke dalam cerita. Mereka tidak hanya menonton, tetapi merasakannya,” ujar Jenna Pirog, editor VR di The New York Time Magazine.
Proyek-proyek lain yang mencolok termasuk The Fight for Fallujah, yang menggambarkan suasana perang secara mendalam, dan laporan iklim oleh BBC yang membawa penonton langsung ke area kutub untuk menyaksikan dampak perubahan iklim. Media besar seperti CNN dan ARTE juga telah memanfaatkan potensi VR untuk membawa penonton ke tempat-tempat yang sulit dijangkau.
Keunggulan VR untuk Berita
Salah satu keunggulan utama VR adalah kemampuannya menciptakan pengalaman imersif yang membangkitkan empati. Chris Milk, seorang pelopor VR, bahkan menyebut teknologi ini sebagai “mesin empati”. Misalnya, dalam proyek Clouds Over Sidra, penonton diajak merasakan kehidupan sehari-hari seorang anak pengungsi Suriah di kamp pengungsian. Pengalaman ini memberikan perspektif yang sangat berbeda dibandingkan hanya membaca laporan tertulis.
Selain membangun empati, VR juga memungkinkan audiens untuk mengeksplorasi peristiwa dari berbagai sudut pandang. Hal ini memberikan kebebasan lebih kepada penonton untuk mendalami informasi sesuai kebutuhan dan minat mereka.
Namun, manfaat ini tidak datang tanpa tantangan. Produksi konten VR memerlukan biaya tinggi dan teknologi canggih, seperti kamera 360 derajat dan perangkat lunak khusus. Selain itu, beberapa pengguna melaporkan ketidaknyamanan fisik, seperti pusing akibat penggunaan perangkat VR yang berat.
Tantangan dalam Menggunakan VR
Namun, seperti teknologi lainnya, penggunaan VR dalam jurnalistik tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan utama adalah tingginya biaya produksi dan perangkat keras. Kamera VR, pengeditan kompleks, dan pelatihan jurnalis untuk menguasai teknologi ini membutuhkan investasi besar. Beberapa perusahaan berita mencoba solusi hemat, seperti Google Cardboard. Dengan perangkat sederhana ini, penonton dapat menikmati pengalaman VR menggunakan smartphone, sehingga lebih terjangkau bagi audiens yang lebih luas. Diluncurkan pada tahun 2014, Google Cardboard adalah headset VR berbahan dasar karton yang memungkinkan pengguna menikmati konten 360 derajat tanpa biaya tinggi. The New York Times bahkan mendistribusikan jutaan unit perangkat ini kepada pelanggan mereka untuk mengakses konten eksklusif. Solusi ini menunjukkan bagaimana inovasi sederhana dapat mengatasi hambatan teknis dan ekonomi dalam membawa VR kepada khalayak luas.
Selain itu, menentukan cerita yang cocok untuk VR menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua topik sesuai dengan format ini. Cerita berbasis data atau statistik sering kali lebih efektif dalam format tradisional, sedangkan cerita yang kaya elemen visual dan emosional lebih cocok untuk VR.
Masa Depan VR untuk Jurnalisme
Meski penggunaannya masih terbatas, masa depan VR dalam jurnalistik sangat menjanjikan. Teknologi ini terus berkembang, dengan perangkat keras yang semakin ringan dan terjangkau. Kemitraan antara perusahaan berita dan raksasa teknologi seperti Google dan Meta juga dapat mempercepat adopsi VR di kalangan audiens yang lebih luas.
VR juga memiliki potensi besar dalam pendidikan jurnalistik. Dengan melatih jurnalis untuk menggunakan kamera 360 derajat dan menciptakan narasi imersif, generasi baru jurnalis dapat membawa standar baru dalam penyampaian berita. Selain itu, VR dapat memperkuat hubungan emosional antara berita dan audiens dengan memberikan pengalaman langsung yang mendalam.
Para ahli memperkirakan adopsi perangkat VR akan meningkat seiring dengan penurunan harga dan peningkatan kenyamanan perangkat. Di masa depan, berita berbasis VR dapat menjadi bagian dari rutinitas harian, menggantikan atau melengkapi media tradisional dengan pengalaman yang lebih mendalam dan personal.
Virtual Reality membuka jalan baru dalam dunia jurnalistik. Teknologi ini membawa kita dari sekadar melihat berita, menjadi mengalami dan merasakannya. Dengan inovasi berkelanjutan, VR berpotensi menjadi jembatan antara fakta dan empati mengubah bukan hanya bagaimana kita mengonsumsi berita, tetapi juga bagaimana kita memahami dunia.
Referensi:
António Reis & António Coelho. (2018). Virtual Reality and Journalism: A Gateway to Conceptualizing Immersive Journalism. Digital Journalism. https://doi.org/10.1080/21670811.2018.1502046
Esa Sirkkunen et al. (2016). Journalism in Virtual Reality: Opportunities and Future Research Challenges. https://doi.org/10.1145/2994310.2994353
Watson, Zillah. (2017). VR for News: The New Reality?
