Konten dari Pengguna

Apakah Gary si Siput Mempraktikkan Ajaran Filsafat Stoisisme?

Arif Wicaksa

Arif Wicaksa

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau

·waktu baca 11 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gary, siput peliharaan SpongeBob SquarePants, merupakan salah satu karakter unik dan menarik untuk dibaca melalui perspektif filsafat Stoisisme. Meskipun jarang berbicara dan kerap hanya menanggapi dunia dengan suara “meong”, Gary memperlihatkan sikap yang dapat dikaitkan dengan sejumlah prinsip filsafat Stoik misalnya ketenangan menghadapi keadaan, kemampuan membedakan kebutuhan diri dari keinginan yang berlebihan, serta penerimaan terhadap hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Namun, apakah sikap diam dan tenang cukup untuk menjadikan seseorang disebut seorang Stoik? Dengan merujuk pada pemikiran Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius, tulisan ini berargumen bahwa Gary dapat dipahami sebagai figur Stoik dalam arti simbolis, meskipun tidak semua perilakunya sesuai dengan ajaran Stoisisme. Melalui karakter Gary, kita dapat melihat bahwa kebijaksanaan tidak selalu hadir dalam bentuk pidato panjang atau tindakan heroik. Terkadang, ia muncul dalam kemampuan untuk tidak bereaksi secara berlebihan terhadap dunia yang terus-menerus menuntut perhatian kita.

Boneka SpongeBob dan Gary (Sumber foto: https://www.pexels.com/ Free stock photos)
zoom-in-whitePerbesar
Boneka SpongeBob dan Gary (Sumber foto: https://www.pexels.com/ Free stock photos)

Mengapa Gary Layak Dibaca sebagai Seorang Stoik?

Di tengah keramaian Bikini Bottom, Gary si siput sering kali tampak sebagai karakter yang paling tidak tertarik untuk terlibat dalam hiruk-pikuk kehidupan kota. Ketika SpongeBob berlari ke sana kemari, bekerja dengan penuh semangat di Krusty Krab, atau menghadapi masalah dengan respons emosional yang berlebihan, Gary cenderung menjalani hidup dengan ritmenya sendiri. Ia makan, tidur, bergerak perlahan, dan sesekali menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap perilaku SpongeBob sang majikan. Gary bahkan bisa terlihat lebih masuk akal daripada SpongeBob yang secara emosional sering kali terlalu larut dalam berbagai persoalan. Tentu saja, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa Gary memahami filsafat Stoisisme. Ia adalah seekor siput laut kartun, bukan filsuf Yunani yang membaca karya-karya Marcus Aurelius sebelum tidur. Namun, karakter fiksi tidak harus secara sadar menganut suatu ajaran untuk dapat dianalisis melalui kerangka pemikiran tertentu.

Pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah Gary benar-benar seorang Stoik, melainkan apa yang bisa kita pelajari tentang Stoisisme melalui cara Gary menghadapi kehidupan? Untuk menjawabnya, kita dapat menggunakan pemikiran tiga tokoh utama Stoisisme Romawi dan Yunani: Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius.

Melalui ketiganya, Gary dapat dibaca sebagai simbol kehidupan yang tidak selalu dikendalikan oleh ambisi, pengakuan sosial, atau dorongan untuk bereaksi terhadap segala sesuatu. Namun, analisis ini juga membutuhkan satu penekanan penting yaitu ketenangan tidak otomatis berarti kebijaksanaan, dan sikap tidak peduli tidak selalu sama dengan pengendalian diri. Justru di situlah letak persoalan filosofis Gary.

Epictetus: Memisahkan Hal yang Bisa dan Tidak Bisa Dikendalikan

Salah satu gagasan paling terkenal dalam Stoisisme berasal dari Epictetus. Dalam karyanya, Enchiridion, ia membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Penilaian, keputusan, dan respons kita terhadap suatu keadaan termasuk wilayah yang dapat kita kendalikan. Sebaliknya, reputasi, kepemilikan, tubuh, dan berbagai kejadian eksternal tidak sepenuhnya berada dalam kekuasaan kita. Bagi kaum Stoik, penderitaan sering kali bertambah ketika manusia menuntut agar dunia mengikuti keinginannya. Di sinilah Gary menjadi menarik dari konteks stoisisme.

SpongeBob sering menunjukkan keterikatan emosional yang kuat terhadap keadaan di sekitarnya. Ia ingin menjadi pegawai yang baik, ingin menyenangkan Tuan Krabs, ingin mempertahankan persahabatan, dan ingin memastikan bahwa berbagai hal berjalan sesuai harapannya. Ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, emosinya dapat meningkat dengan cepat. Gary, sebaliknya, relatif jarang menunjukkan kebutuhan untuk mengendalikan lingkungan sosialnya. Gary tidak tampak terobsesi dengan pendapat orang lain tentang dirinya. Ia juga tidak mengejar status pekerjaan, popularitas, atau pengakuan dari masyarakat Bikini Bottom. Secara simbolis, sikap ini mengingatkan kita pada prinsip Epictetus, jangan menyerahkan ketenangan batin kepada sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalimu.

Bayangkan jika Gary memiliki ambisi seperti SpongeBob. Ia mungkin akan merasa frustrasi karena tidak bisa berbicara seperti manusia, kesal karena harus bergerak lambat, atau tertekan karena tidak memiliki pekerjaan bergengsi. Namun, Gary tidak tampak menjadikan keterbatasan tersebut sebagai sumber krisis identitas. Ia menjalani kehidupannya tanpa terus-menerus membandingkan dirinya dengan makhluk lain.

Tentu saja, kita tidak dapat memastikan bahwa Gary secara sadar menerima keterbatasannya secara filosofis. Akan tetapi, sebagai karakter simbolis, Gary mengingatkan kita bahwa tidak semua keterbatasan harus diubah menjadi tragedi pribadi. Ada hal-hal yang perlu diperjuangkan, tetapi ada pula hal-hal yang perlu diterima. Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan keduanya.

Marcus Aurelius: Tidak Semua Hal Layak Mendapatkan Reaksi Kita

Dalam karyanya yang berjudul Meditations, Marcus Aurelius berulang kali mengingatkan dirinya untuk menjaga penilaian dan sikap batinnya ketika berhadapan dengan dunia yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Sebagai kaisar Romawi, Marcus menghadapi perang, konflik politik, wabah, dan tanggung jawab pemerintahan. Gary, tentu saja, tidak menghadapi persoalan seberat itu. Masalah terbesarnya mungkin berupa makanan yang terlambat disajikan atau SpongeBob yang terlalu berisik. Namun, perbedaan skala masalah tidak serta-merta menghapus relevansi filosofisnya.

Kehidupan modern sering membuat kita merasa dituntut harus memberikan respons terhadap segala sesuatu. Pesan harus segera dibalas, pendapat harus segera disampaikan, berita harus segera dikomentari, dan setiap peristiwa seolah menuntut keterlibatan emosional kita. Akibatnya, kita tidak hanya mengalami berbagai peristiwa, tetapi juga terus-menerus bereaksi terhadapnya.

Gary menawarkan gambaran yang berlawanan. Gary tidak selalu merespons kegaduhan SpongeBob dengan kegaduhan yang sama. Ekspresinya yang datar dan perilakunya yang tenang dapat dibaca sebagai penolakan simbolis terhadap tuntutan untuk selalu bereaksi. Dalam perspektif Stoik, ini mengingatkan kita bahwa antara suatu peristiwa dan respons kita terhadapnya terdapat ruang untuk melakukan penilaian. Misalnya, ketika seseorang mengkritik kita, kritik itu sendiri merupakan peristiwa eksternal. Kita masih perlu menilai apakah kritik tersebut benar, keliru, relevan, atau tidak layak untuk diperhatikan. Kita tidak harus langsung menyerahkan emosi dan tenaga kita kepada orang yang mengkritik.

Gary si Siput seolah mengajarkan bahwa tidak semua kebisingan di luar diri harus berubah menjadi kebisingan di dalam diri. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak salah memahami gagasan ini. Stoisisme bukan ajaran untuk menekan semua emosi, mengabaikan ketidakadilan, atau berpura-pura tidak peduli terhadap penderitaan orang lain. Marcus Aurelius sendiri menekankan pentingnya hidup bersama manusia lain dan memenuhi kewajiban sosial. Seorang Stoik tidak harus menjauh dari dunia. Stoik justru berusaha terlibat di dalamnya tanpa kehilangan kejernihan penilaian. Karena itu, Gary menjadi teladan Stoik bukan semata-mata karena ia diam, melainkan karena sikap diamnya dapat mengingatkan kita untuk memilih respons secara sadar. Diam yang lahir dari kebijaksanaan berbeda dari diam yang lahir dari ketakutan.

Seneca: Mengapa Kita Terus Mengejar Lebih Banyak?

Dalam karyanya yang berjudul On the Shortness of Life, Seneca mengkritik manusia yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar kekayaan, status, dan ambisi, sampai-sampai mereka tidak benar-benar menggunakan waktu yang dimilikinya untuk hidup. Persoalannya bukan semata-mata bahwa kekayaan atau pekerjaan itu buruk. Masalah muncul ketika manusia menggantungkan seluruh nilai hidupnya pada pencapaian eksternal. Dalam konteks ini, Gary dapat dibandingkan dengan SpongeBob.

SpongeBob sangat mencintai pekerjaannya sebagai koki di Krusty Krab. Ia sangat bersemangat membuat Krabby Patty dan berusaha menjadi pegawai yang baik bagi Tuan Krabs. Sikap tersebut tidak otomatis buruk. Kecintaan terhadap pekerjaan dapat menjadi sumber makna, kebahagiaan, dan pengembangan diri. Namun, SpongeBob juga perlu memperlihatkan bagaimana pekerjaan dapat menyerap sebagian besar identitas seseorang. Ia sangat terikat pada perannya sebagai pegawai Krusty Krab, sehingga persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan terkadang terasa seperti persoalan yang menentukan seluruh keberadaan dirinya.

Gary tampaknya tidak menunjukkan keterikatan semacam SpongeBob. Ia tidak memiliki karier yang harus dikembangkan, jabatan yang harus dipertahankan, atau reputasi profesional yang perlu diperbaiki. Kehidupannya tidak disusun berdasarkan tangga pencapaian sosial. Tentu saja, kita tidak perlu menyimpulkan bahwa Gary lebih bijaksana hanya karena ia tidak bekerja. Gary juga tidak menghadapi tuntutan ekonomi dan tanggung jawab sosial yang sama dengan manusia dewasa. Membandingkan keduanya secara harfiah tentu tidak adil. Namun, secara filosofis, perbandingan tersebut mengajukan pertanyaan penting untuk kita, apakah kita bekerja untuk menjalani kehidupan, atau justru menjalani kehidupan hanya untuk bekerja?

Pertanyaan diatas sangat relevan dalam masyarakat yang sering mengukur keberhasilan melalui produktivitas, pendapatan, jabatan, dan prestasi. Ketika seseorang terus-menerus mengejar pencapaian berikutnya, ia berisiko menganggap kehidupannya saat ini hanya sebagai tahap sementara menuju kebahagiaan di masa depan. Gary, setidaknya dalam pembacaan simbolis ini, mengingatkan kita pada kemungkinan yang berbeda, bahwa kehidupan tidak harus selalu diperlakukan sebagai proyek berjalan yang tak kunjung selesai.

Ada nilai dalam menikmati waktu, memenuhi kebutuhan secukupnya, dan tidak menjadikan setiap momen sebagai investasi untuk pencapaian berikutnya. Akan tetapi, harus dipahami bahwa Stoisisme bukan pembenaran bagi kemalasan. Bagi kaum Stoik, yang penting bukanlah menghindari aktivitas, melainkan bertindak berdasarkan kebajikan, bukan diperbudak oleh ambisi. Gary baru dapat disebut sebagai teladan Stoik sejauh ketenangannya melambangkan kebebasan dari hasrat yang berlebihan, bukan sekadar ketiadaan tujuan.

Apakah Gary Benar-Benar Stoik, atau Hanya Seekor Siput yang Malas?

Di sinilah analisis terhadap Gary perlu menjadi lebih kritis. Stoisisme bukan sekadar seni untuk tetap tenang. Stoisisme merupakan filsafat etika yang menempatkan kebajikan dan penggunaan akal dan rasio sebagai pusat kehidupan yang baik. Bagi kaum Stoik, manusia seharusnya berusaha mengembangkan kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan pengendalian diri. Ketenangan batin bukan tujuan yang berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan kemampuan menilai keadaan secara tepat dan bertindak secara bermoral. Dengan demikian, seseorang yang tidak peduli terhadap penderitaan orang lain belum tentu seorang Stoik. Ia mungkin hanya sekedar egois. Demikian pula, seseorang yang tidak pernah memperjuangkan apa pun belum tentu telah mencapai kebijaksanaan. Ia mungkin sekadar menghindari tanggung jawab.

Jika Gary hanya diam ketika SpongeBob mengalami kesulitan, sikap tersebut tidak otomatis mencerminkan kebajikan. Sebaliknya, jika ia mampu membedakan masalah yang perlu ditanggapi dari kegaduhan yang tidak perlu diikuti, sikapnya lebih dekat dengan pengendalian diri yang diajarkan kaum Stoik. Perbedaan ini penting karena Stoisisme tidak mengajarkan bahwa kita harus menghilangkan seluruh keinginan. Yang perlu dilakukan adalah menata keinginan berdasarkan penilaian rasional tentang apa yang benar-benar bernilai.

Begitu pula, penerimaan terhadap keadaan tidak berarti menyerah kepada semua keadaan. Jika sesuatu dapat diperbaiki melalui tindakan yang adil dan masuk akal, seorang Stoik tetap memiliki alasan untuk bertindak. Ia hanya tidak menggantungkan seluruh ketenangan batinnya pada keberhasilan tindakan tersebut. Karena itu, Gary tidak bisa dijadikan model Stoik yang sempurna. Ia lebih tepat dipahami sebagai karakter simbolis yang memperlihatkan sebagian prinsip-prinsip Stoik, terutama tentang kesederhanaan, ketenangan, dan kebebasan dari tuntutan sosial yang berlebihan. Gary bukan filsuf, namun, justru keterbatasan Gary itulah yang membuatnya menarik sebagai bahan refleksi.

Gary dan Kehidupan Modern: Seni Tidak Selalu Harus Menjadi Seseorang

Ada satu pertanyaan yang menghubungkan Gary dengan kehidupan manusia modern, yaitu mengapa kita merasa harus selalu menjadi sesuatu? Kita ingin menjadi pegawai yang sukses, mahasiswa yang berprestasi, individu produktif, orang yang menarik, atau pribadi yang selalu berkembang. Bahkan waktu luang terkadang berubah menjadi proyek pengembangan diri. Kita berolahraga agar lebih produktif, membaca agar lebih kompetitif, dan beristirahat agar dapat kembali bekerja dengan performa yang lebih baik. Harus dipahami bahwa tidak ada yang salah dengan pertumbuhan diri. Masalahnya muncul ketika kita merasa tidak memiliki nilai jika tidak terus-menerus menghasilkan sesuatu.

Dalam situasi seperti itu, Gary dapat dibaca sebagai gangguan kecil terhadap logika produktivitas. Gary tidak memiliki profil profesional, tidak membangun citra diri di media sosial. Gary sekadar hadir dalam kehidupan sehari-hari. Tentu, ini adalah pembacaan simbolis, bukan pernyataan bahwa seekor siput secara sadar menolak kapitalisme atau telah menemukan jalan menuju kebahagiaan filosofis. Namun, Gary mengingatkan kita bahwa nilai kehidupan tidak selalu dapat diukur dengan produktivitas. Manusia bukan hanya pekerja, konsumen, atau kumpulan pencapaian. Kita juga makhluk yang membutuhkan istirahat, hubungan yang bermakna, kesenangan sederhana, dan ruang untuk menjalani kehidupan tanpa terus-menerus menghakimi diri sendiri.

Dalam hal ini, Gary bukan mengajarkan bahwa kita harus meninggalkan pekerjaan dan bermalas-malasan sepanjang hari. Gary justru mengundang kita untuk memeriksa hubungan kita dengan ambisi kehidupan. Apakah kita mengejar tujuan karena tujuan itu memang bernilai? Atau karena kita takut dianggap tidak berharga jika berhenti mengejar sesuatu? Pertanyaan tersebut merupakan titik pertemuan yang menarik antara Stoisisme dan kritik terhadap budaya produktivitas modern.

Gary tidak harus menjadi seorang filsuf agar keberadaannya dapat mengingatkan kita pada pertanyaan filosofis. Kadang-kadang, karakter yang paling sedikit berbicara seperti Gary justru memberi kita kesempatan untuk mendengar kembali pikiran sendiri.

Kesimpulan

Apakah Gary si siput merupakan Stoik?Jawabannya, tidak secara harfiah, tetapi ia dapat dibaca sebagai figur Stoik dalam arti simbolis. Melalui Epictetus, Gary mengingatkan kita untuk membedakan hal-hal yang dapat dan tidak dapat kita kendalikan. Melalui Marcus Aurelius, ia menjadi gambaran tentang pentingnya menjaga rasinalitas penilaian dan tidak bereaksi secara berlebihan terhadap setiap kegaduhan. Sementara melalui Seneca, kesederhanaan hidupnya membuka pertanyaan tentang ambisi, produktivitas, dan kecenderungan manusia untuk menunda kebahagiaan demi pencapaian berikutnya. Namun, ketenangan Gary tidak boleh disamakan begitu saja dengan kebijaksanaan Stoik. Stoisisme bukan sikap apatis, kemalasan, atau penolakan terhadap tanggung jawab. Stoisisme menuntut penilaian yang rasional, tindakan yang berbudi, dan keterlibatan yang tepat dengan dunia.

Tentu saja Gary bukan contoh sempurna seorang Stoik. Ia lebih tepat menjadi cermin sederhana bagi manusia yang sering kali terlalu sibuk mengejar sesuatu hingga lupa mempertanyakan mengapa sesuatu itu harus dikejar. Di tengah Kota Bikini Bottom yang penuh kegaduhan, Gary tampak menjalani hidup tanpa terus-menerus meminta dunia mengakui keberadaannya. Barangkali itulah pelajaran yang bisa kita ambil darinya, bahwa kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan, menanggapi setiap gangguan, atau mengubah setiap hari menjadi perlombaan menuju pencapaian berikutnya.

Foto sebuah pulau (Sumber foto: https://www.pexels.com/ Free stock photos)

Kita tetap boleh memiliki ambisi, bekerja keras, dan memperjuangkan sesuatu yang kita anggap penting. Namun, kita perlu belajar membedakan antara hal yang memang layak diperjuangkan dan hal yang hanya menguras ketenangan. Sebab, mungkin salah satu bentuk kebijaksanaan bukanlah kemampuan untuk mengendalikan seluruh dunia, melainkan kemampuan untuk tidak membiarkan seluruh dunia mengendalikan diri kita. Dan jika karakter seekor siput laut bernama Gary dapat mengingatkan kita akan hal itu, mungkin ia tidak perlu berbicara lebih banyak daripada yang sudah dilakukannya.